Sabtu, 28/11/2020 09:24 WIB

Karyawan Meningkat, Cottonology Buka Empat Gerai di Tengah Pandemi

Saat awal wabah masuk ke Indonesia industri fesyen terkena dampak yang sangat signifikan

Pentingnya meningkatkan usaha di tengah Pandemi melalui platform digital. (Foto : Jurnas/Ist). l

Jakarta, Jurnas.com – Sektor riil di Jawa Barat, khususnya di kota Bandung mulai kembali menggeliat meskipun wabah Covid 19 masih belum berakhir. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya permintaan produk fesyen lokal di pasar dalam negeri. Cottonology, sebuah brand lokal asal Bandung baru-baru ini membuka empat gerai terbarunya demi memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.

“Kami telah membuka di tiga departement store dan membuka satu toko tahun ini. Setelah beberapa bulan pertumbuhan bisnis terkoreksi karena korona, di kuartal keempat 2020 ini sudah mulai kembali ke titik normal. Bahkan prediksi kami akan melebihi dari kuartal yang sama tahun lalu,” tutur pendiri Cottonology Carolina Danella Laksono.

Menurut Olin, panggilannya, saat awal wabah masuk ke Indonesia industri fesyen terkena dampak yang sangat signifikan. Mulai dari produksi yang terhambat, stok yang berkurang, pameran dan kegiatan peragaan busana dibatalkan dan permintaan menurun.

“Kami saat itu bahkan berganti strategi dengan memproduksi masker. Karena merk Cottonology sudah cukup dikenal luas, tidak terlalu sulit untuk masuk ke pasar dengan berganti produk. Lalu seiring dengan mulai masuknya era New Normal, dan ekonomi mulai kembali menggeliat, kami mulai kembali memproduksi model-model baru.”

Untuk memenuhi permintaan pasar, Cottonology saat ini membuka tiga gerai di Yogya Departement Store di kota Bandung serta offline store. Dampaknya, kebutuhan sumber daya manusia di bidang produksi pun ikut meningkat.

“Di kuartal ini kami menambah jumlah karyawan sebanyak 25 persen dari kuartal pertama saat pertama kali pandemik ini masuk ke Indonesia. Tentu ini adalah sesuatu yang sangat kami syukuri karena bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Karyawan-karyawan baru yang direkrut tersebut rata-rata adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar pabrik Cottonology. Olin menegaskan bahwa sejak awal ia ingin usahanya bisa menghidupi masyarakat sekitar.

“Bagian produksi dan bagian sales counter mayoritas kami rekrut dari masyarakat sekitar. Bahkan di bagian produksi pun ada ketua RT,” ungkapnya.

Hanya saja, tambah Olin, khusus untuk desainer memang dicari mereka yang berpengalaman dan memiliki keahlian di bidang tersebut. Hal ini disebabkan karena Cottonology ingin memproduksi fesyen dengan motif yang disukai pasar.

“Dari sisi bahan dan motif, tentu yang lebih paham adalah mereka yang telah lama berkecimpung di industri ini. Koleksi terbaru kami seperti kemeja tie dye misalnya, pilihan bahan rayon yang licin tentu ada dasarnya. Kemeja ini bisa dipakai untuk acara resmi maupun untuk baju tidur. Kolaborasi antara tim desainer dan tim riset pasar kami menghasilkan produk seperti ini.”

Tingginya minat terhadap pakaian yang bisa “memanipulasi penampilan” pun direspon Cottonology dengan memproduksi koleksi busana wanita terbaru. Menurut Olin, banyak sekali wanita yang ingin terlihat kurus namun dengan pakaian yang nyaman.

“Karena itulah baru-baru ini kami meluncurkan koleksi pakaian wanita yang ukurannya dibuat untuk membentuk badan terlihat lebih kurus,” ujar lulusan University of California, Berkeley ini.

Cottonology berhasil masuk top selling ranked di platform e-dagang Indonesia seperti Shopee, Lazada, BliBli, Tokopedia, JD ID dan BukaLapak. Saat ini produk asli dalam negeri tersebut menjual lebih dari 400 ribu item pakaian pria di seluruh Indonesia.

TAGS : Pandemi Covid-19 Brand Cottonology




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :