Rabu, 25/11/2020 23:44 WIB

Heartology Cardiovascular Center Kini Layani Operasi Bentall Diseksi Aorta

Heartology Cardiovascular Center di Brawijaya Hospital Saharjo kini memberikan pelayanan berupa operasi bentall pada Diseksi Aorta

Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV(K) FIHA, FICA Sub spesialisasi Bedah Thoraks dan Kardiovaskular (kanan) bersama dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), PhD FIHA, FICA, FAsCC Sub spesialisasi Intervensi kardiologi dan vaskular (kiri)

Jakarta, Jurnas.com - Heartology Cardiovascular Center di Brawijaya Hospital Saharjo kini memberikan pelayanan berupa operasi bentall pada Diseksi Aorta, yang merupakan salah satu operasi tersulit di dunia.

Hal itu disampaikan salah satu dokter dari Brawijaya Hospital, dr Dicky Aligheri Wartono, yang merupakan spesialis bedah Thoraks dan Kardiovaskular dari heartology dalam acara Media Gathering Heartology Cardiovascular Center, Kamis (12/11).

dr. Dicky menyebut bahwa operasi bentall, seperti operasi aorta lainnya, termasuk salah satu operasi tersulit di dunia, sehingga memerlukan banyak persiapan.

Untuk itu, katanya, keahlian tim dokter, tim pendukung dan ketersediaan tehnologi merupakan kunci keberhasilan operasi bentall dan penggantian hemiarch.

"Heartology Cardiovascular Center memiliki kemampuan untuk melakukan operasi bentall dan penggantian hemiarch, karena adanya perpaduan tim medis dan teknologi mutakhir," katanya.

Menurut CDC, aneurisme aorta menyebabkan 9.923 kematian pada tahun 2018 dan sekitar 58% kematian karena aneurisme aorta atau diseksi aorta terjadi pada pria.

Sementara itu, NCBI (National Center for Biotechnology Information) melaporkan bahwa insidens terjadinya diseksi aorta adalah 5 30 kasus per satu juta orang, dengan rentang usia 40 70 tahun.

Menurut dr. Dicky, Aorta adalah bagian terbesar dari pembuluh darah arteri yang memanjang dari jantung hingga ke perut bawah. Robeknya aorta bisa terjadi secara tiba tiba (akut) dan tidak menimbulkan gejala. Tetapi, bila dalam dua hingga tiga jam tidak segera dioperasi, penderita akan meninggal.

"Diseksi aorta dan aneurisma aorta tidak dapat dibedakan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik, sehingga pemeriksaan penunjang seperti CT scan sangat diperlukan," ujarnya.

"Kecepatan dan ketepatan dokter spesialis jantung dalam mendiagnosis diseksi aorta, menentukan keselamatan pasien."

Dicky menambahkan, faktor penyebab diseksi aorta antara lain, riwayat keluarga, hipertensi, naiknya tekanan darah secara mendadak, riwayat aneurisme aorta, artherosklerosis ataupun kelainan genetic (sindroma Marfan).

"Berdasar kondisinya, ada dua jenis aorta yang robek: tipe A dan tipe B. Yang paling berbahaya dan mematikan adalah tipe A, sebab, bagian aorta yang robek ada pada pangkalnya yang menempel ke serambi jantung atau yang disebut dengan aorta asendens. Penanganannya juga harus melalui operasi," imbuhnya.

Beda dengan tipe B, yang umumnya bisa diatasi dengan obat atau dengan intervensi endovaskular. Pada tipe yang lebih complicated mgkn memerlukan kombinasi berupa bedah dan endovascular yang dapat dilakukan di OK/Cathlab Hybrid yang tersedia di Heartology Cardiology Vascular.

Di bagian tengahnya, aorta asendens memiliki tiga cabang arteri. Bagian yang bercabang itu dikenal dengan nama aorta arch. Pada kasus diseksi tipe A, dua jenis aorta itulah yang robek parah sehingga perlu diganti dengan graft dari bahan dakron. Operasi penggantian aorta arch itu disebut dengan operasi Hemiarch Aorta Replacement.

Mengganti aorta asendens arch tak semudah mengganti katup atau pembuluh darah koroner. Sebab, untuk menggantinya, kondisi pembuluh darah tersebut harus benar benar ’ bersih” dari darah.

Dengan demikian, ahli bedah bisa melihat dengan jelas seberapa panjang yang perlu diganti. Selain itu juga supaya proses penyambungan dan pemotongannya bisa sempurna. Dengan begitu, setelah graft disambungkan, darah bisa kembali mengalir dengan sempurna.

Masalahnya adalah bagaimana “mengeringkan” bagian itu lantaran fungsinya sebagai pengantar darah bersih. Apakah tidak cukup dengan mengelap hingga kering bagian yang akan dipotong dan disambung itu? Ternyata tidak sesederhana itu. Mulanya, sebelum dipotong, fungsi jantung dan paru-paru digantikan mesin heart jung {pengganti fungsi jantung dan paru-paru}.

Bersamaan dengan itu, suhu badan pasien juga mulai diturunkan secara perlahan hingga mencapai titik yang nyaris terendah bagi seorang manusia, Yakni 24-26 derajat celsius atau separo temperatur tubuh manusia normal.

Penurunan suhu badan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi aktivitas otak. Dengan aktivitas yang rendah, detak tak membutuhkan banyak darah. Setelah suhu mencapai derajat yang dibutuhkan, darah pun mulai “dikuras” dari tubuh. Artinya, aliran darah ke liver, ginjal, paru, apalagi jantung, usus, dan otot dihentikan.

Tetapi, aliran darah ke otak tidak boleh ikut berhenti. Otak harus tetap dialiri darah. Kalau sampai terhenti, pasien meninggal atau koma. Tetagi, karena aktivitasnya sudah diturunkan, kebutuhan darah di otak tidak banyak lagi.

Detik-detik selama tubuh tidak dialiri darah itu merupakan bagian yang paling menegangkan dan berisiko dalam operasi Bentall. Sebab, penghentian aliran darah ini tidak boleh lebih dari 40 menit. Kalau bisa lebih cepat dari itu sangat baik. Dalam rentang tersebut, dokter bedah akan menjahit aorta asendens yang koyak, memotong aorta arch dan menggantinya dengan graft.

Sulitnya lagi, yang harus disambungkan dengan pembuluh sintetis yang terbuat dari bahan dakron atau semacam polyester ini tidak hanya di satu bagian, Sebab, pembuluh aorta yang ini memiliki tiga cabang. Tiap tiap cabang itu harus disambungkan juga.

Sebesar-besar aorta asendens, tetap saja yang namanya pembuluh darah adalah sesuatu yang kecil sehingga penyambungannya membutuhkan ketelitian tinggi. Kesalahan sekecil apa pun bisa mematikan pasien karena nanti darah tidak bisa melewati pembuluh yang baru dijahit itu.

Disamping dokter bedah dan dokter anestesi, terdapat perfusionis yang bertugas menjaga stabilitas aliran darah ke otak, stabilitas cairan dan organ organ tubuh secara keseluruhan selama aliran darahnya dihentikan secara total. Selain itu, mereka harus menjaga agar suhu badan tetap di derajat yang dibutuhkan, yakni 24 26 derajat celsius.

Setelah semua proses pembenahan bagian bagian yang robek selesai, tim harus menghangatkan kembali suhu badan pasien. Dan itu harus dilakukan secara perlahan serta sangat hati hati, agar aman bagi pasien. Aliran darah harus dikembalikan sebagaimana mestinya.

Sebagian darah yang digunakan dalam operasi itu adalah darah pasien sendiri, dengan menggunakan cell saver. Alat ini untuk menampung pendarahan yang terjadi selama operasi, kemudian darah itu diolah dan dimasukkan kembali ke tubuh pasien

Itulah sebabnya, seluruh proses operasi tersebut memakan waktu hingga delapan jam. Pascaoperasi, tim dokter masih harus memperhatikan pasien dengan sangat cermat.

Sebab, risiko pendarahan atau stroke atau hal-hal Jain akibat proses pembekuan tadi bisa muncul setelah operasi. Resiko kegagalan dalam operasi bentall yang didahului penggantian hemiarch sekitar 70 persen.

TAGS : Operasi Bentall Diseksi Aorta Heartology Cardiovascular Center




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :