Rabu, 02/12/2020 00:59 WIB

Sumpah Pemuda, APMI Berdiri Untuk Musik Indonesia

Memajukan eksosistem pertunjukan dan festival musik Indonesia, APMI berdiri tepat di Hari Sumpah Pemuda.

Musisi dunia Megadeth saat tampil di JogjaROCKarta. (Foto : Jurnas/ Rajawali Indonesia Communication).

Jakarta, Jurnas.com- Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober, telah berdiri APMI (Asosiasi Promotor Musik Indonesia), suatu perkumpulanyang bertujuan memajukan eksosistem pertunjukan dan festival musik Indonesia serta keinginan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas dan kuantitas karya-karya pelaku industri musik Indonesia.

APMI lahir dari deklarasi tujuh promotor musik besar Indonesia, yakni Dewi Gontha (Java JazzFestival, Java FestivalProduction), Dino Hamid (Berlian Entertainment), Emil Mahyudin (Nada Promotama), David Karto (Synchronize Festival), Darshan Pridhnani (Hype Festival), Donny Junardy(Hammersonic Festival), dan Anas Syahrul Alimi (Prambanan Jazz,Rajawali Indonesia).

APMI yang sudah berbadan hukum ini mempunyai empat pilar utama yakni Idea, Network, Education dan Innovation. Idea adalah yangberkaitan dengan kreatifitas untuk pertunjukan. Network akan menitikberatkan pada pembentukan dan perawatan jaringan kerja seperti sponsor, agen artis,musisi, vendor acara, pekerja lepasan industriyang memiliki ketrampilan khusus dan juga bekerja sama dengan pemerintah terkait aturan dan kebiijakan yang terkait dengan industri ini.

Education akan fokus pada diskusi dan pembelajaran bagi para promotor untuk bisa membuat sebuah pertujukan dan atau festival musikyang sesuai dengan standard internasional.Innovation yang akan jadi esensial karena pentingnya inovasi terbaru dalam festival atau pertunjukan musikyang bisa dipergunakan oleh semua pelaku industry untuk menciptakan tatanan kerja yang lebih bermanfaat dan efisien.

“Kami selaku pendiri bersepakat menciptakan visi dan misi yang samauntuk mengembangkan industriini melalui program yang dapat menciptakan ide baru, edukasi,networking dan pengembangan lainnya guna mempersiapkan pelaku industri agar secara bersama sama dapat berkembang dan bersaing secara internasional” kata Emil Mahyudin, salah satu pendiri APMIyang juga bertindak selaku Sekretaris Umum APMI.

Dino Hamid, yang juga salah satu pendiri APMI, telah secara bersama diangkat menjadi Ketua APMI untuk memastikan tujuan asoasiasi ini didirikan dan dijalankan sesuai visi dan misi awal dimana APMI akan mengajak para promotor festival musik di Indonesia untuk bergabung dan bersama samamenggerakkan industry yang menjadi bagian hasil karya anak anak Indonesia yang bisa memberikan kontribusi terhadap negara.

“Kehadiran APMI sebagai sebuah asosiasi formal promotor musik satu-satunya di Indonesiasaat ini menjadi sangat penting, denganadanya potensi yang cukup besarnya industri pertujunkkan dan festival musik di negeri ini. Kami ingin mencoba membangun ekosistem yang baikdan sustainable bagi pelakunya,” kata Dino Hamid.

APMI diharapkan bisa menjalankan fungsi sebagai asosiasi promotor musik secara profesional. Besarnya bisnis industri live musicnamun belum ada satu wadah yang menyatukan akan menjadi hal penting yang akan jadi perhatian APMI.

Apa yang dilakukan oleh APMI adalah satu lompatan penting dalam industri live musicdi Indonesia. Di banyak negara, sudah ada asosiasi promotor maupun penyelenggara pertunjukan musik, semisal Association of Independent Festival (AIF), Music Venue Trust (MVT), Association of Festival Organisers (AFO), All Japan Concert & Live Entertainment, bahkan Turki punya Tesder alias Turkish Promotor Association.

Keberadaan asosiasi ini penting bagi negara-negara yang menjadikan sektor pertunjukan musik sebagai salah satu sumber pendapatan, seperti Britania Raya maupun Amerika Serikat.

Seperti umum diketahui, Britania Raya meraup 1,1 miliar Poundsterling dari sektor live music (2018), naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Sektor ini juga mempekerjakan lebih dari 30 ribu orang, naik 7 persen dari 2017. Di Amerika Serikat, menurut data yang dirilis Nielsen Music (2018), sekitar 52 persen dari total populasi AS pergi menonton live music setiap tahunnya. Pendapatan promotor raksasa seperti Live Nation juga terus naik. Pada 2019 mereka meraup 9,4 miliar dolar, naik dari 8,7 miliar dolar dari 2018

Hari ini bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, APMI ingin mengajak promotor-proomotor musik di Indonesia untuk bergabung menjadi anggota agar bersama sama menciptakan sebuah industri yang ideal dan bisa berguna bagi semua pesertanya. Follow IG @apmi.iduntuk informasi lebih lengkapnya.

“Kami berharap promotor-promotor musik di seluruh Indonesia bisa menjadi anggota APMI. Karena ini juga dilandasi untuk kepentingan bersama yang lebih besar di industri showbiz Indonesia,” kata Anas Alimi, salah satu pendiri APMI.

TAGS : APMI Promotor Musik Indonesia Dino Hamid




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :