Jum'at, 04/12/2020 22:11 WIB

WHO Minta Negara Pertimbangkan Kegagalan Uji Coba Obat COVID-19 Remdesivir

Remdesivir gagal dalam uji Solidaritas pada akhir September.

Ilustrasi vaksin (foto: google)

Jenewa, Jurnas.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan negara-negara untuk mempertimbangkan kegagalan uji coba obat Remdesivir dari Gilead sebelum menggunakannya kepada masyarakat.

Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan mengatatakan, pejabat kesehatan yang meninjau remdesivir untuk menyebuthkan virus corona (COVID-19) harus mempertimbangkan semua bukti, termasuk uji coba di mana obat tersebut gagal, sebelum memberikan lampu hijau.

Swaminathan mengatakan, regulator Amerika Serikat (AS) tampaknya tidak mempertimbangkan kegagalan uji cobo obat tersebut ketika menyetujuinya untuk digunakan minggu ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA), pada Kamis (22/10) menyetujui obat antivirus Gilead untuk mengobati pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakiT. Obat tersebut menjadi yang pertama dan satu-satunya disetujui untuk penyakit tersebut di AS.

Keputusan FDA datang seminggu setelah rilis hasil uji coba Solidaritas WHO, yang menyimpulkan remdesivir memiliki sedikit atau tidak ada dampak pada peluang pasien untuk bertahan hidup dari COVID-19.

Swaminathan mengatakan bahwa FDA tampaknya tidak mempertimbangkan studi badan kesehatan global dalam persetujuannya. "Kami yakin hasil kami sangat kuat," kata Swaminathan, ketika ditanya tentang langkah FDA.

"Kami berharap orang-orang yang melakukan pedoman pengobatan di negara lain, serta regulator di seluruh dunia, akan mencatat hasil penelitian kami, selain bukti lainnya. Karena Anda perlu melihat bukti global untuk suatu obat, sebelum Anda membuat keputusan," tambahnya.

Untuk kelompok remdesivir dari uji coba Solidaritas WHO, 2.743 pasien diberi pengobatan, dibandingkan dengan 2.708 pada kelompok kontrol.

Studi Gilead sendiri, terhadap 1.062 peserta, menghasilkan data yang menunjukkan, pengobatan tersebut memangkas waktu pemulihan COVID-19 hingga lima hari dan membantu mengurangi risiko kematian pada beberapa pasien yang mendapatkan oksigen.

WHO mengatakan, perusahaan, yang meningkatkan kemungkinan bias dalam studi WHO yang “tidak buta” karena pasien dan dokter mereka mengetahui pengobatan mana digunakan, mendapatkan data awal yang menunjukkan, Remdesivir gagal dalam uji Solidaritas pada akhir September.

Perusahaan AS mengatakan telah memberi tahu FDA tentang hasil awal Solidaritas. "Kami telah memberi tahu FDA tentang hasil uji coba Solidaritas WHO dan draf naskah yang diserahkan ke sebuah publikasi. Namun, saat ini Gilead belum menerima dataset yang diminta dari WHO untuk hasil uji coba Solidaritas," katanya.

FDA tidak segera mengomentari pernyataan Swaminathan bahwa badan AS tidak mempertimbangkan data Solidaritas dalam persetujuannya.

WHO juga mengatakan pada Jumat (23/10), pedoman formal tentang penggunaan remdesivir untuk COVID-19 harus siap dirilis dalam tiga hingga empat minggu, setelah kelompok terpisah dalam badan kesehatan PBB meninjau data dari penelitian tersebut.

Pejabat tinggi WHO untuk tanggapan perawatan klinis, Janet Diaz mengatakan, panel independen WHO akan bersidang minggu depan untuk melihat semua bukti efektivitas obat Gilead. 

"Kami mengantisipasi bahwa pedoman tersebut akan tersedia dalam tiga hingga empat minggu," kata Diaz. "Apa yang kami lakukan sekarang dalam pandemi adalah mencoba melanjutkan pendekatan itu dengan cara yang transparan dan dapat dipercaya, tetapi melakukannya lebih cepat." (Reuters)

TAGS : Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan obat Remdesivir




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :