Selasa, 24/11/2020 22:49 WIB

Indonesia Tolak Permintaan AS Menampung Pesawat Mata-mata

Indonesia menolak permintaan Amerika Serikat untuk mengizinkan pesawat pengintai maritim P-8 Poseidon mendarat dan mengisi bahan bakar.

Pesawat AS

Jakarta, Jurnas.com - Indonesia menolak permintaan Amerika Serikat untuk mengizinkan pesawat pengintai maritim P-8 Poseidon mendarat dan mengisi bahan bakar.

Meskipun ada beberapa permintaan "tingkat tinggi" yang diprakarsai oleh pejabat AS pada Juli dan Agustus dengan menteri pertahanan dan luar negeri Indonesia, permintaan tersebut ditolak oleh Presiden Joko Widodo.

Penolakam itu muncul dengan latar belakang meningkatnya ketegangan antara AS dan China atas pengaruh di Asia Tenggara dan dikatakan mengejutkan Jakarta. Pemerintah Indonesia telah lama bersikap netral dalam urusan kawasan, dan tidak pernah mengizinkan pasukan asing beroperasi di dalam perbatasannya.

Bulan lalu Wakil Ketua DPR Bidang Ekonomi dan Keuangan Sufmi Dasco Ahmad membantah klaim bahwa China sedang berusaha membangun pangkalan militer di negara itu seperti yang diklaim dalam laporan tahunan yang dihasilkan oleh Departemen Pertahanan AS.

“China bukan satu-satunya negara yang mempertimbangkan Indonesia sebagai lokasi pangkalan militer. Negara lain seperti AS juga memiliki minat yang sama. Tapi sekali lagi, itu semua hanya pertimbangan," kata Sufmi Dasco Ahmad.

AS sendiri baru-baru ini menggunakan pangkalan militer di Singapura, Filipina, dan Malaysia untuk mengoperasikan penerbangan P-8 di atas Laut Cina Selatan. P-8 memainkan peran kunci dalam mengawasi aktivitas militer China di daerah tersebut.

Ia menambahkan bahwa Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunei memiliki klaim saingan atas perairan kaya sumber daya itu, yang dilalui perdagangan senilai $ 3 triliun setiap tahun.

Indonesia telah sering mengusir kapal penjaga pantai dan kapal penangkap ikan Tiongkok dari wilayah maritim yang diklaimnya sebagai kedaulatan di Laut Cina Selatan, meskipun Beijing mengatakan memiliki klaim bersejarahnya sendiri. Meskipun demikian, kedua negara telah meningkatkan hubungan bilateral dengan meningkatnya investasi dari China.

Kendati demikian, Indonesia menegaskan tidak ingin terlibat dalam potensi konflik antara kedua negara adidaya tersebut. “Kami tidak ingin terjebak persaingan ini,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam wawancara bulan lalu. “Indonesia ingin menunjukkan bahwa kami siap menjadi partner Anda.”

Penolakan permintaan AS itu muncul setelah Jakarta dan Washington sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan keamanan menyusul pertemuan pekan lalu antara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Mark Esper di ibu kota AS. Mereka mengungkapkan niat yang sama untuk meningkatkan kegiatan militer-ke-militer bilateral dan bekerja sama dalam keamanan maritim.

TAGS : Pesawat Mata-mata Amerika Serikat Pemerintah Indonesia




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :