Sabtu, 31/10/2020 04:41 WIB

Dua Cara Mudah Lakukan "Sadari" Kanker Payudara

Sadari merupakan salah satu bentuk pemeriksaan deteksi dini kanker payudara yang dapat dilakukan sendiri di rumah, yang dilakukan setiap bulan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid.

Spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk mengatakan terdapat dua cara mudah melakukan periksa payudara sendiri (Sadari).

Sadari merupakan salah satu bentuk pemeriksaan deteksi dini kanker payudara yang dapat dilakukan sendiri di rumah, yang dilakukan setiap bulan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid.

Terdapat beberapa cara untuk melakukan Sadari, yaitu bisa dengan mengangkat tangan dan memeriksa apakah ada kemerahan atau bengkak pada payudara. Kemudian letakan tangan di pinggan dan periksa kembali payudara. Setelahnya, tekan payudara dari atas dan ke bawah untuk merasakan apakah ada benjolan.

Tekan payudara secara melingkar untuk memeriksa adanya benjolan. Tekan payudara ke arah puting untuk melihat apakah ada cairan yang keluar. Lalu, kedua ialah dalam posisi berbaring, dengan cara tekan payudara secara melingkar.

Apabila terdapat benjolan di payudara, patut diwaspadai kalau itu adalah tumor atau kanker. Namun, pembedanya adalah pada kanker payudara umumnya benjolan tersebut tidak terasa nyeri.

Berdasarkan data Globocan 2018, insiden angka kejadian kanker payudara di Indonesia adalah 16,7 persen. Artinya, ada sekitar 159,6 kasus kanker payudara baru per harinya dan 6,6 kasus baru setiap jam.

Sementara itu, kanker payudara menduduki angka kematian akibat kanker tertinggi kedua di Indonesia, setelah kanker paru. Padahal, sebenarnya angka harapan hidup kanker payudara bisa tinggi apabila dideteksi sejak dini. Pada stadium I, angka harapan hidup kanker payudara mencapai 90 persen.

"Pada stadium II, angka tersebut menurun menjadi sekitar 60 persen, begitu pun pada stadium III yag hanya mencapai 40 persen. Sedangkan pada pasien stadium IV, angka harapan hidupnya kurang dari 10 persen," terang dr. Bob dalam Virtual Sosialisasi Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bertajuk `Seberapa Penting Pemeriksaan Deteksi Dini Untuk Masyarakat Awam` pada Jumat (16/10).

Sementara data dari British Journal of Cancer juga menyebut angka harapan hidup mereka yang melakukan deteksi dini jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak melakukan deteksi dini kanker payudara.

Selain Sadari, lanjut dr. Bob, terdapat langkah lainnya yakni Sadanis. Sadanis merupakan pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan, dengan cara yang sama seperti Sadari.

Untuk perempuan berusia di atas 40 tahun, melakukan pemeriksaan mammografi dan USG lebih dianjurkan agar hasilnya lebih akurat.

TAGS : Sadari Kanker Payudara Bob Andinata YKPI




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :