Jum'at, 04/12/2020 14:23 WIB

Pakde Aris dari Cawas Sulap Bukit Gersang Jadi Greenhouse Buah Melon

 Greenhouse kebun melon di Dukuh Kalijaran Desa Bawak, dekat dengan Pariwisata Kawas Putih atau Pariwisata Batu Putih Kecamatan Bayat.

Pakde Aris sulap bukit gersang jadi greenhouse buah melon. (Foto: Ist)

Klaten, Jurnas.com - Budidaya tanaman dalam greenhouse adalah sistem produksi pertanian yang menggabungkan pemanfaatan perlindungan tanaman dari intensitas hujan, sinar matahari dan iklim mikro, yang mengoptimalkan pemeliharaan tanaman, pemupukan dan irigasi mikro, sehingga mampu meningkatkan produksi buah.

Kecamatan Cawas adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah mempunyai komoditas unggulan padi dan palawija, akan tetapi ditengah kondisi kering seperti saat ini, terdapat salah satu desa tepatnya Desa Bawak yang mencoba mengembangkan komoditas hortikultura yaitu tanaman melon.

Pakde Aris sapaan akrabnya, seorang petani Dukuh Kalijaran, Desa Bawak yang menyulap kebunnya menjadi greenhouse untuk budidaya tanaman melon. Greenhouse kebun melon di Dukuh Kalijaran Desa Bawak, dekat dengan Pariwisata Kawas Putih atau Pariwisata Batu Putih Kecamatan Bayat. Letaknya tidak jauh hanya kurang lebih sekitar 50 m.

Awalnya tempat ini hanyalah merupakan lahan kering, tandus dan gersang, terletak di atas perbukitan yang merupakan perbatasan antara Kecamatan Cawas dan Kecamatan Bayat. Ditangan Pakde Aris yang ulet, lahan tersebut di sulap menjadi greenhouse kebun melon. Greenhouse ini digunakan untuk budidaya tanaman melon varietas Sangata menggunakan media polybag.

Pakde Aris menjelaskan konsep pertanian melon yang ia pakai merupakan wujud aplikasi teknologi di pertanian. "Greenhouse sederhana in dengan berukuran 20x25 m2 dengan biaya yang tidak begitu banyak, hanya butuh plastik dan polybag serta bambu untuk tiang penyangga,” jelas Pakde Aris

Ia menuturkan hasil buah melon yang diharapkan adalah buah kualitas premium, sehingga memilih varietas Sangata. “Varietas ini dikenal karena kualitas buahnya bagus, rasanya manis seperti ada madunya dan renyah. Kemudian masa panen bervariasi yaitu 60 hingga 80 hari bisa panen,” tambah Pakde Aris.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Cawas, Tut Wuri Handayani, mengatakan bahwa sosok Pakde Aris sangat inovatif dan menginspirasi. Terutama di masa pandemi, di mana ekonomi sedang lesu.

Wuri memuji tindakan Pakde Aris karena mampu memproduksi produk pertanian berkualitas dengan pengairan dan media terbatas dan yang lebih ekstrim lokasinya di pegunungan yang tandus dan gersang.

“Mudah- mudahan inovasi Pakde Aris ini bisa menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi masyarakat petani khsusnya di wilayah Kecamatan Cawas dan sekitarnya, ujar Wuri.

Wuri menjelaskan lebih lanjut salah satu cara mewujudkan program Kostratani ialah melalui inovasi yang dilakukan petani dan penyuluh dalam pemanfaatan lahan pekarangan. Dan di harapkan inovasi tersebut dapat diikuti oleh petani lainnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, di tengah pelemahan ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19, bisnis di sektor pertanian menjadi yang paling menjanjikan.

Sekalipun penutupan wilayah terjadi di sejumlah daerah bahkan negara, namun seluruh penduduknya tetap membutuhkan pangan.

"Saat Covid seperti ini, sampai dua tahun ke depan, menurut saya bisnis yang paling menjanjikan hanya pertanian, binis lainnya belum tentu," ujar Mentan Syahrul

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan
"Untuk mendukung program Kostratani, petani harus terus didorong agar dapat melakukan hilirisasi kegiatan usaha taninya baik secara on farm maupun off farm," tegas Dedi.

TAGS : Pakde Aris Dedi Nursyamsi Greenhouse Buah Melon




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :