Kamis, 22/10/2020 10:16 WIB

BPP Wirosari Dorong Petani Raih Untung Dari Limbah Jagung

Limbah jagung biasanya berupa jerami, tongkol, dan klobot atau kulit jagung yang jumlahnya cukup banyak. Sebanyak 20-30% dari setiap 100 kg jagung yang dihasilkan adalah limbah jagung. Limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal

Menanfaatkan limbah jagung untuk menghasilkan jamur. (Foto: Ist)

Grobogan, Jurnas.com  - Sebagai salah satu komoditas tanaman pangan di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, jagung merupakan sumber pangan yang mendapat perhatian utama dan mempunyai prospek yang cukup cerah. Bagian tanaman jagung yang banyak dimanfaatkan adalah bijinya sebagai bahan pangan dan daunnya dijadikan pakan ternak ruminansia, sedangkan bagian tanaman jagung yang lain sering tidak dimanfaatkan dan menjadi limbah.

Limbah jagung biasanya berupa jerami, tongkol, dan klobot atau kulit jagung yang jumlahnya cukup banyak. Sebanyak 20-30% dari setiap 100 kg jagung yang dihasilkan adalah limbah jagung. Limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Menurut hasil penelitian, 1 hektar tanaman jagung akan menghasilkan 9 ton, diperkirakan 1,8-2,7 tonnya adalah limbah. Sehingga perlu adanya inovasi pemanfaatan limbah jagung agar menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Seperti yang tengah dilakukan petani di Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan yang memanfaatkan limbah janggel jagung sebagai media jamur. Siti Rohayati salah seorang petani yang membudidayakan jamur dari media janggel jagung menuturkan, dirinya dan petani lain awalnya tidak menyangka jika janggel jagung dapat dimanfaatkan untuk media tanam jamur.

Berkat informasi dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wirosari, mampu merubah pandangannya, yang semula janggel hanya onggokan sampah tidak bernilai, tapi kini punya nilai tambah yang dapat dimanfaatkan.

Rohayati memaparkan, Bahan-bahan yang digunakan untuk budidaya jamur dari janggel jagung banyak tersedia di sekitar petani, diantaranya janggel jagung, ragi tape, dedak/bekatul, dan urea. Tahap awal, disiapkan dahulu tempat budidaya jamur berupa kotak dari kayu atau bambu berukuran 1x3m dengan ketinggian 20 – 30 cm.

"Beberapa petani ada yang menggunakan sisa plafon yang tidak terpakai atau herbel sebagai tempat budidaya jamur. Kotak ini bisa diletakkan di dalam atau luar rumah, tergantung lokasi yang mempunyai tingkat kelembaban tinggi. Kemudian kotak ini diberi alas dari karung goni/karung bekas pupuk, beras, atau karung lainnya," jelas Rohayati.

Setelah kotak siap, Lanjut Rohayati, janggel jagung sebanyak 2 karung dimasukkan dan diratakan dengan ketinggian 10 – 15 cm. Selanjutnya siapkan ragi tape 1 bungkus, bekatul 4 kg dan urea 2 kg. Aduk ketiga bahan tersebut sampai tercampur rata. Taburkan campuran tersebut di atas janggel jagung secara merata.

Tambahkan lagi janggel jagung secara merata dengan ketinggian 10 – 15 cm dan di atasnya ditaburi lagi campuran bekatul, urea dan ragi. Siram janggel jagung yang sudah ditaburi campuran ragi, bekatul dan urea dengan air sebanyak 4 ember secara perlahan-lahan atau bisa disemprotkan dengan menggunakan handsprayer. Tutup kotak yang sudah berisi janggel jagung dengan menggunakan terpal gelap agar bisa membantu meningkatkan kelembaban udaranya.

"Panen jamur dapat dilakukan selama 2 minggu sampai 1 bulan tergantung dari media dan lokasi pembuatan jamurnya. Rata-rata produksi per hari sebanyak 1 – 1,5 kg. Harga jual jamur di pasaran berkisar antara 18 ribu – 20 ribu per  kg. Alhamdulillah, konsumen menyukai jamur produksi kami," ujarnya.

"Dengan berbudidaya jamur melalui media janggel jagung ini, kami dapat menambah pendapatan. Untuk pemasarannya, kami dibantu oleh penyuluh kami secara daring," tambah Rohayati dengan penuh optimis.

Cahyo Mulyadi koordinator penyuluh di BPP Kecamatan Wirosari, mengatakan, potensi tanaman jagung dalam satu tahun di Kecamatan Wirosari adalah 11.000 hektare.

"Jika potensi janggel ini dimanfaatkan sebagai media tanam jamur, tentu menambah pundi-pundi pendapatan petani,” ujar Cahyo.

Cahyo menambahkan, Usaha budidaya jamur ini sudah dilakukan sekitar tiga bulan lalu pada saat pandemi covid-19 mulai melanda wilayah Indonesia. Kendala yang dihadapi petani menurutnya, umumnya adalah waktu panen yang cepat. Jamur harus dilakukan pemanenan setiap hari, jika tidak dipanen hari itu juga, maka jamur akan menghitam pada keesokan harinya.

Pemasaran jamur dilakukan melalui media online seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan penjualan langsung ke konsumen. Mereka melakukan penjualan secara berkelompok, jika ada permintaan diambilkan dari petani yang panen pada hari itu.

"Dengan kreativitas, petani Desa Dapurno telah mengubah pandangan, bahwa limbah janggel yang tadinya tidak bernilai, dengan sentuhan teknologi sederhana mampu meningkatkan nilai tambah dan tentu menambah pendapatan di tengah pandemi," tandas Cahyo.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian di masa yang akan datang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang lebih modern.

"Minimal dengan adanya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian," papar SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa pertanian menjadi salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.

"Walau masih pandemi Covid-19, pertanian jangan berhenti, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan,” tegas Dedi.

TAGS : BPP Wirosari Limbah Jagung




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :