Kamis, 22/10/2020 10:20 WIB

Ditjen Hortikultura Susun Program Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional

Pengembangan 15 agroeduwisata berbasis hortikultura yang diperkuat dengan model pertanian korporasi menjadi salah satu kegiatan yang hendak dilakukan pada 2020.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengunjungi Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Provinsi Sumatra Utara dalam rangka meninjau kawasan lahan pengembangan lumbung pangan (food estate).

Jakarta, Jurnas.com - Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) menyusun sejumlah program kerja pada 2021 untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional (PEN) imbas pandemi virus corona baru (COVID-19).

Sejumlah program tersebut disampaiakn Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, pada rapat koordinasi pembahasan Program Kerja Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun Anggaran 2021 di Savero Hotel, Depok, Jumat pekan lalu.

"Sebagian besar merupakan lanjutan dari program yang sudah dikerjakan sebelumnya. Namun, sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, program kerja Kementan 2021 akan diperkuat demi percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan pembangunan pertanian berkelanjutan," jelas Prihasto.

Ia mengatakan, pengembangan 15 agroeduwisata berbasis hortikultura yang diperkuat dengan model pertanian korporasi menjadi salah satu kegiatan yang hendak dilakukan pada 2020.

Selain itu, Ditjen Hortikultura juga akan menggenjot budi daya ramah lingkungan melalui gerakan pengendalian massal (gerdal) karena tingginya permintaan produk tersebut di "Benua Biru".

"Dalam rapat bersama Atase Pertanian (Atani) Indonesia di Roma, diketahui permintaan pasar  produk organik di Eropa cukup tinggi. Ini peluang yang harus kita ambil karena potensi Indonesia cukup besar. Jika itu tercapai, tentu kontribusi terhadap devisa negara meningkat," jelas Prihasto.

"Ditjen Hortikultura juga akan membentuk tim market intelligence untuk mengetahui persis apa yang dibutuhkan dunia. Sehingga, pengembangan lebih terencana dan terukur karena telah dilakukan pemetaan dan penyesuaian sebelumnya," sambungnya.

Untuk itu, Kementan mengajak petani mengurangi penggunaan pestisida kimia lantaran cara tersebut berdampak buruk terhadap produk yang dihasilkan, ekosistem, dan pendapatan petani.

"Sosialisasi dan edukasi bakal diperkuat dengan optimalisasi peran petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT)," ujarnya.

Selanjutnya, Ditjen Hortikultura akan melakukan pembinaan secara berkesinambungan dan akan menghidupkan kembali Kelompok Kerja (Pokja) Lalat Buah mengingat hama tersebut paling ditakuti di dunia lantaran sukar diberantas dan spektrumnya luas.

"Kami juga akan memberikan berbagai insentif dan memfasilitasi sertifikasi organik sebagai jaminan mutu produk," katanya.

Ada sekitar 200 kelompok, baik penghasil produk segar maupun olahan, yang akan mendapatkan registrasi pada 2021. Salah satunya pembudidaya florikultura dracaena mengingat peluang ekspornya besar dan atsiri karena prospektif.

Program lainnya, edukasi pertanian modern sarat teknologi dan menyalurkan sarana produksi pascapanen. Sehingga, mutu produk terjaga dan menarik minat konsumen.

"Ketika produk kita berkualitas dan dipasarkan dengan kemasan yang baik dan bagus tentu harga yang diterima lebih baik. Konsumen juga akan setia memakai produk yang dihasilkan," terang Doktor alumnus Universitas Putra Malaysia ini.

"Kebijakan peningkatan mutu, kualitas, produksi, hingga olahan, termasuk di dalamnya daya saing produk, kami arahkan sesuai GAP (Good Agricultural Practices) dan GHP Good Handling Practices) karena diamanatkan pada PP Nomor 86/2019 tentang Keamanan Pangan dan sesuai tuntutan pasar global," imbuhnya.

Menyangkut kelestarian lingkungan, khususnya pengendalian polusi karbon, ungkap Anton, Ditjen Hortikultura bakal mengintensifkan budi daya buah-buahan yang berkontribusi besar, seperti mangga, durian, manggis, kelengkeng, dan jeruk.

"Kita tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dengan meningkatkan stok karbon untuk menangkal polusi yang diakibatkan dari berbagai aspek serta meminimalisasi perubahan iklim demi masa depan," terangnya.

Pada Program Kerja Tahun 2021 ini juga dilanjutkan pembangunan lumbung pangan (food estate) hortikultura berbasis korporasi di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbas), Sumatera Utara (Sumut). Ini merupakan program jangka menengah yang dikembangkan sejak 2020.

"Food estate Humbahas menjadi proyek prestisius karena kami melibatkan seluruh stakeholder, dari petani, pemerintah, akademisi, hingga swasta untuk membangun kawasan pertanian skala besar. Sehingga, efek dominonya betul-betul dirasakan, seperti ada potensi lapangan pekerjaan untuk 11.440 kepala keluarga (KK) pada tahun pertama," tuturnya.

"Saya sendiri yang akan memimpin langsung perkembangannya agar sesuai harapan dan target yang direncanakan terealisasi maksimal," ujar Dirjen yang biasa disapa Anton itu.

TAGS : Ditjen Hortikultura Prihasto Setyanto Pertanian Ramah Lingkungan Pemulihan Ekonomi Nasional




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :