Jum'at, 23/10/2020 03:37 WIB

RAN Sebut Perusahaan Sawit RGE Langgar Komitmen

Pabrik kelapa sawit milik pengusaha Aceh yang namanya terdaftar di Panama Papers ikut terlibat menyuplai minyak sawit bermasalah ke pasar global

Dua excavator ditemukan di PT. Konsesi minyak sawit Tualang Raya pada Juni 2020. Minyak sawit dari perkebunan ini telah dijual ke pabrik yang memasok kilang Royal Golden Eagle yang memproses dan menjual Minyak Sawit Bermasalah ke merek-merek ternama. (Foto: Leuser Watch)

Jurnas.com, Jakarta -  Hasil investigasi  Rainforest Action Network (RAN) menemukan adanya produsen sawit yang secara aktif merusak hutan hujan dataran rendah Kawasan Ekosistem Leuser yang menyebabkan kritis gajah dan orangutan Sumatera yang terancam punah.

Produsen sawit yang disebutkan adalah Apical Group, salah satu perusahaan sawit grup Royal Golden Eagle  (RGE) mendapatkan suplai minyak sawit dari pabrik sawit PT. Syaukath Sejahtera yang menerima Tandan Buah Segar (TBS) dari PT. Tualang Raya.

Dari hasil itu, juga ada temuan bahwa perusahaan merek dan bank dunia seperti Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondel─ôz, Unilever, Kao dan bank raksasa Jepang MUFG, bank Belanda ABN AMRO dan bank Cina ICBC ikut terlibat dalam lingkaran perusakan hutan grup perusahaan ini melalui rantai suplai dan pendanaan mereka.

“Kasus keterkaitan Apical dengan penghancuran Kawasan Ekosistem Leuser merupakan temuan terbaru dari kegagalan yang terus terjadi pada operasional grup  RGE untuk menegakkan praktik Nol Deforestasi, Nol Pembangunan di Lahan Gambut, dan Nol Eksploitasi (NDPE) dalam rantai pasokan globalnya," ujar Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan RAN.

Dikatakannya lagi, skandal ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang terlibat, yakni konsumen, mitra usaha patungan, dan bank yang mendanai,  harus bisa ikut memastikan untuk menghentikan pembiayaannya hingga RGE  bisa memperkuat kebijakan yang telah mereka terbitkan, mereformasi praktik produksi dan suplainya.

"Juga menyelesaikan konflik sosial, melakukan perbaikan terkait pelanggaran HAM masa lalu terhadap masyarakat lokal/adat serta memperbaiki kerusakan lingkungan,” ungkap Gemma Tillack dalam siaran persnya.

Gemma menambahkan bahwa reputasi Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondel─ôz, Unilever, dan Kao akan terus menghadapi risiko kerusakan yang serius melalui hubungan mereka dengan RGE.

“Merek-merek ini harus menangguhkan semua suplai dari grup RGE dan seluruh anak perusahaan serta perusahaan terkait hingga grup perusahaan ini dapat membuktikan kepatuhannya terhadap kebijakan NDPE serta memulihkan kerugian yang ditimbulkan dari rusaknya hutan hujan dan lahan gambut Indonesia serta kesehatan masyarakat lokal," ujar Gemma.

Apical Grup merupakan salah satu unit bisnis dibawah grup  RGE yang mengelola dan mengekspor minyak sawit dan produk turunan sawit untuk keperluan domestik dan ekspor internasional terbesar di Indonesia.

Didirikan oleh salah satu konglomerat terkaya Indonesia Sukanto Tanoto, RGE memiliki rekam jejak panjang terkait deforestasi dan konflik dengan masyarakat lokal/adat karena secara agresif telah membuka lahan perkebunan  sawit dan bubur kertas yang sangat luas.

Kasus ini menguatkan keterlibatan RGE dalam aktivitas deforestasi melalui pemasok pihak ketiga dan perusahaan afiliasinya yang terdaftar sebagai penerima manfaat (beneficial ownership) anak perusahaan RGE.

Pelanggaran terhadap komitmen Nol Eksploitasi juga dilakukan Perkebunan Asia Pacific Resources International (APRIL) anak perusahaan RGE yang sampai saat ini tengah berkonflik dengan lebih dari 500 kelompok masyarakat.

Di wilayah Danau Toba di Sumatera Utara, rumah leluhur masyarakat adat Batak, lebih dari 20 kelompok masyarakat adat, dengan lebih dari 3.000 keluarga terdampak operasional perusahaan bubur kertas Toba Pulp Lestari milik APRIL. Kelompok masyarakat adat ini terus melakukan aksi untuk merebut kembali hutan dan tanah adat mereka yang membentang di lebih dari 25.000 hektar.

TAGS : Kelapa Sawit Rainforest Action Network Royal Golden Eagle




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :