Jum'at, 30/10/2020 15:10 WIB

BPTP Jakarta Kembangkan Teknologi Pengolahan Limbah Perkotaan

Melalui penguasaan teknologi pengolahan sampah organik perkotaan menjadi 4F diharapkan dapat memberikan nilai tambah produk dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Ilustrasi sayuran (foto: Google)

Jakarta, Jurnas.com - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakartamelakukan berbagai kajian untuk pemanfaatan limbah perkotaan menjadi food, feed, fuel, dan fertilizer.

Kepala BPTP, Jakarta Arivin Rivaie mengatakan, pada 2018 Gubernur DKI, Jakarta Anies Baswedan telah meluncurkan empat desain besar untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota berketahanan.

Empat desain besar tersebut meliputi Jakarta menuju kota layak anak 2018-2022, Pertanian perkotaan DKI Jakarta 2018-2030, Air Minum dan Air Limbah Domestik DKI Jakarta 2018-2022, serta Sistem Pengelolaan Sampah 2018-2022.

"Sejalan dengan program pemerintah daerah tersebut dalam lima tahun terakhir ini, BPTP Jakarta secara berlanjutan telah melakukan serangkaian kegiatan pengkajian terkait pemanfaatan dan pengolahan limbah organik perkotaan menjadi 4F yaitu food, feed, fuel, dan fertilizer," ujar Arivin pada Selasa pekan ini.

Arivin berharap, melalui penguasaan teknologi pengolahan sampah organik perkotaan menjadi 4F diharapkan dapat memberikan nilai tambah produk dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Peneliti bidang Pascapanen BPTP Jakarta, Budiyantoro mengatakan dalam setiap aktivitas pertanian dari hulu ke hilir, dari budidaya sampai siap konsumsi, bahan-bahan pertanian terutama sayuran dan buah akan hilang baik sengaja maupun tidak sengaja.

"Tingkat kehilangan pada rantai aktivitas pertanian bisa mencapai 25-30%. Namun, tingkat kehilangan bisa dikurangi dengan teknologi pascapanen maupun pengolahan yang baik," ujarnya.

Budiyantoro mencontohkan pengiriman sayuran kubis ke wilayah Jakarta yang mencapai 500 ton per minggu. Limbah kulit kubis bagian terluar tersebar di pedagang besar dan pedagang eceran kurang lebih 10-17%.

Kulit luar kubis yang terbuang ini, terangnya, masih memiliki komponen aktif seperti senyawa polyphenol dan glukosinolat sebagai anti kanker. Selain kaya serat, kulit luar kubis juga mengandung vitamin C, beta karotin dan vitamin E.

BPTP Jakarta telah mengembangkan teknologi untuk mengolah kulit luar kubis ini menjadi tepung sehingga bisa ditambahkan ke produk pangan lainnya. Cara pembuataannya, dengan mensortasi limbah kubis kemudian dicacah.

Cacahan ini dicuci disanitasi menggunakan klorin untuk menghilangkan bakteri e-coli. Setelah itu diblancing dalam suhu 100oC selama 2-5 menit dan dikeringkan pada suhu 40-45 oC selama 24 jam. Sesudah kering baru ditepungkan menjadi tepung kubis.

Selain kulit luar kubis, BPTP Jakarta juga mengembangkan teknologi pengolahan air limbah industri tahu menjadi nata de soya. Potensi limbah ini sangat besar karena industri tahu di sekitar Jakarta ada 315 unit usaha.

Melalui beberapa proses, air limbah tahu ini diolah menggunakan starter nata de coco Acetobacter xylinum 10% hingga menjadi nata de soya.

 

TAGS : BPTP Jakarta Limbah Perkotaan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :