Kamis, 22/10/2020 10:09 WIB

Fahri Hamzah: Tidak Ada Dinasti Politik di Pilkada 2020

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, dukungan kapada putra dan menantu Presiden Jokowi di Pilkada serentak 2020 bukan berarti melanggengkan `dinasti politik` kekuasaan.

Waketum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, dukungan kapada putra dan menantu Presiden Jokowi di Pilkada serentak 2020 bukan berarti melanggengkan `dinasti politik` kekuasaan.

Putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka berpasangan dengan Teguh Prakoso maju di Pilkada Kota Solo, Jawa Tengah dan Bobby Afif Nasution-Aulia Rahman Rajh di Pilkada Kota Medan, Sumatera Utara.

Fahri menjelaskan, dalam terminologi negara demokrasi, dinasti politik tidak ada karena semua dipilih melalui prosesi politik, bukan warisan kekuasaan secara turun-temurun.

"Dalam negara demokrasi tidak akan terjadi dinasti politik, sebab kekuasaan demokratis tidak diwariskan melalui darah secara turun temurun. Tapi dia dipilih melalui prosesi politik, orang yang masuk prosesi politik itu, belum tentu menang dan belum tentu juga kalah," kata Fahri, kepada wartawan, Jakarta, Jumat (17/9).

Menurut Fahri, dinasti politik saat ini hanya sebagai simbol seperti yang terjadi di Inggris. Dimana, pemerintahan yang dibentuk berdasarkan hasil pemilu yang demokratis.

"Suara rakyat disahkan oleh raja. Dinasti Windsor yang berkuasa di Inggris di `kerangkeng` hanya sebagai simbol saja," katanya.

Di Indonesia sendiri, kata Fahri, juga pernah dipimpin oleh dinasti politik yang menurunkan kekuasaan secara turun temurun melalui `darah` seorang raja, yakni pada masa Kerajaan Mataram kuno yang dipimpin Syailendra, Kerajaan Majapahit hingga Kerajaan Mataram baru yang dipimpin Panembahan Senopati (Danang Sutawijaya).

"Kalau sekarang di Indonesia, satu-satunya dinasti politik yang tersisa, ya Dinasti Hamengkubowono di Yogyakarta sebagai kelanjutan Kerajaan Mataram baru. Itupun kekuasaanya disamakan dengan gubernur, harusnya dinasti itu dipertahankan sebagai kekuatan simbol saja, tidak perlu diberi kekuasaan yang bertanggungjawab publik," katanya.

Fahri mengungkapkan, keputusan Partai Gelora mendukung Gibran dan Bobby di Pilkada 2020 mendapatkan reaksi beragam, ada yang pro dan kontra. Yang pro berpandangan sudah sepatutnya, Partai Gelora sebagai partai baru dan terbuka, berkolaborasi dengan siapa saja, termasuk dalam hal dukungan di Pilkada.

Sementara yang kontra menilai Partai Gelora dianggap ikut melanggenggkan dinasti politik Presiden Jokowi. Apalagi selama ini Fahri Hamzah kerap mengkritik berbagai kebijakan Presiden Jokowi, sehingga dukungan Partai Gelora kepada Gibran-Bobby itu mengejutkan berbagai pihak.

"Saya berdebat dengan orang-orang yang mempersoalkan, anda ngerti nggak sih arti dinasti sebagai konsepsi politik? Lalu, saya tanya lagi anda ngerti nggak oligarki sebagai konsepsi politik? anda pasti nggga baca itu teori-teori terminologi dinasti politik," kata mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Fahri pun memaklumi ketidakfahaman sebagian orang yang mempersoalkan dukungan Partai Gelora kepada Gibran Rakabuming Raka di Pilkada Solo dan Bobby Afif Nasution, karena terlalu banyak membaca terminologi dinasti politik di media sosial (medsos), bukan teori pengertian terminologi sebenarnya.

"Akhirnya jadi percakapan dipingggir jalan, percakapan orang yang tidak berkualitas. Jadi orang bodoh itu, tidak hanya di istana, tapi juga dipinggir jalan karena tidak berkualitas. Inilah problem kita, harusnya ada otoritas yang memperbaiki terminologi di sosial media," katanya.

Fahri meminta semua pihak agar mulai membaca secara teks pengertian sebenarnya terminology dinasti politik itu, bukan sebaliknya mengambil pengertian dari medsos. Sebab, polemik mengenai dinasti politik akan selalu saja terjadi, sehingga bisa menguras energi bangsa kepada perdebatan yang tidak perlu.

"Jadi cara berpikirnya harus berdasarkan pada teks dan dasar pengertiannya harus teoritis. Jadi jangan karena kemarahan kepada seseorang (Jokowi), lalu mencomot terminology yang tidak bisa kita pertanggungjawabkan dihadapan dunia akademik dan juga dihadapan Allah SWT," pungkas Fahri.

TAGS : Dinasti Polkitik Partai Gelora Fahri Hamzah Pilkada 2020




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :