Senin, 21/09/2020 03:51 WIB

H&M Putus Hubungan dengan Pemasok China atas Tuduhan Kerja Paksa

Brand fashion yang didirakan Erling Persson menyatakan, tidak bekerja dengan pabrik garmen mana pun di wilayah tersebut dan tidak akan lagi mengambil kapas dari Xinjiang, yang merupakan daerah penanaman kapas terbesar di China.

Toko pakaian H&M terlihat di Times Square di Manhattan, New York, AS, 15 November 2019. (Foto: Mike Segar / Reuters)

Stockholm, Jurnas.com - Raksasa pakaian Swedia, H&M mengatakan, pihaknya mengakhiri hubungannya dengan produsen benang China atas tuduhan "kerja paksa" yang melibatkan etnis dan agama minoritas dari provinsi Xinjiang.

Brand fashion yang didirakan Erling Persson menyatakan, tidak bekerja dengan pabrik garmen mana pun di wilayah tersebut dan tidak akan lagi mengambil kapas dari Xinjiang, yang merupakan daerah penanaman kapas terbesar di China.

Sebuah laporan oleh lembaga pemikir Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI), yang diterbitkan pada Maret, menunjuk H&M sebagai salah satu penerima manfaat dari program transfer kerja paksa melalui hubungan mereka dengan pabrik produsen benang celup Huafu di Anhui.

Namun, H&M mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka tidak pernah memiliki hubungan dengan pabrik di Anhui, maupun dengan operasi Huafu di Xinjiang.

H&M memang mengakui memiliki hubungan bisnis tidak langsung dengan satu pabrik di Shangyu di provinsi Zhejiang, milik Huafu Fashion.

"Meskipun tidak ada indikasi untuk kerja paksa di pabrik Shangyu, kami memutuskan sampai kami mendapatkan kejelasan lebih lanjut seputar tuduhan kerja paksa, menghentikan hubungan bisnis tidak langsung kami dengan Huafu Fashion Co, terlepas dari unit dan provinsi, dalam periode 12 bulan ke depannya," ujarnya.

"Perusahaan juga melakukan penyelidikan di semua pabrik manufaktur garmen di China dengan tujuan memastikan tidak yang mempekerjakan pekerja melalui program transfer tenaga kerja atau skema kerja di mana kerja paksa adalah peningkatan resiko," sambungnya.

Pada Senin (14/9) Uni Eropa menekan China untuk membiarkan pengamat independennya masuk ke Xinjiang, mengikat hak asasi manusia untuk perdagangan di masa depan dan kesepakatan investasi dengan Beijing.

Kelompok hak asasi mengatakan lebih dari satu juta orang Uighur merana di kamp pendidikan ulang politik, yang digambarkan Beijing sebagai pusat pelatihan kejuruan di mana pendidikan diberikan untuk mengangkat penduduk keluar dari kemiskinan dan untuk menyingkirkan radikalisme Islam.

China mengatakan kritik terhadap penanganannya atas Xinjiang bermotif politik, dan didasarkan pada kebohongan tentang apa yang terjadi di fasilitas luas yang dibangunnya.

Awal pekan ini, bea cukai Amerika Serikat (AS) juga mengatakan akan melarang rakit produk China termasuk kapas, pakaian dan produk rambut, dari Xinjiang karena khawatir mereka dibuat menggunakan kerja paksa. (Reuters)

TAGS : Kerja Paksa China H&M Brand Fashion Provinsi Xinjiang




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :