Rabu, 21/10/2020 18:00 WIB

Israel-UEA Bangun Pangkalan Mata-mata di Yaman

Socotra menghadap ke Selat Bab al-Mandab yang strategis, jalur pelayaran utama yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Laut Arab.

Bendera Uni Emirat Arab (AS) dan Israel berkibar di Netanya, Israel, 17 Agustus 2020. (Foto Nir Elias/Reuters)

Tel Aviv, Jurnas.com - Israel dan Uni Emirat Arab diam-diam membangun pangkalan intelijen di Pulau Socotra, Yaman yang bertujuan untuk memantau Iran, China dan Pakistan. Demikian disampaikan oleh sejumlah ahli politik dan strategi.

JForum, situs resmi komunitas Yahudi berbahasa Prancis di Paris, sebelumnya juga mengungkapkan bahwa UEA dan Israel ingin membatasi hubungan Iran dengan kelompok Houthi.

"Pangkalan mata-mata Israel-Emirat ini bertujuan untuk memantau aktivitas Iran di Teluk Aden dan membatasi hubungan Teheran dengan pemberontak Houthi," kata Ibrahim Fraihat, seorang profesor resolusi konflik internasional di Institut Studi Pascasarjana Doha kepada Anadolu Agency.

Socotra menghadap ke Selat Bab al-Mandab yang strategis, jalur pelayaran utama yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Laut Arab.

UEA telah mengerahkan ratusan pasukan di pulau strategis itu sejak Mei 2018, yang menyebabkan keretakan dengan pemerintah Yaman yang menolak penempatan tersebut.

"Pembentukan pangkalan ini merupakan indikator tambahan bahwa kesepakatan Emirat-Israel dimaksudkan untuk membentuk aliansi yang kokoh antara kedua negara, tidak hanya menormalkan hubungan," kata Fraihat.

Pada 13 Agustus lalu, UEA dan Israel mengumumkan perjanjian yang ditengahi AS untuk menormalisasi hubungan mereka, termasuk membuka kedutaan di wilayah masing-masing.

Otoritas Palestina dan faksi-faksi perlawanan mengecam kesepakatan UEA-Israel, dengan mengatakan hal tersebut tidak melayani kepentingan Palestina dan mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.

Fraihat percaya bahwa pangkalan mata-mata Israel-Emirat juga akan membantu menjaga aktivitas ekonomi China di bawah pengawasan.

"Pangkalan ini dapat memberikan layanan keamanan penting kepada AS terkait aktivitas ekonomi China, terutama perdagangannya dengan Eropa," ujar dia mengutip hubungan tegang Presiden AS Donald Trump dengan Beijing.

"Trump terlibat dalam perang dagang dengan China dan perlu memantau aktivitas komersial China," tambahnya.

Sayed Mohammad Marandi, seorang analis politik dan profesor di Universitas Teheran, mengatakan Iran sudah dikepung oleh banyak pangkalan militer AS di wilayah tersebut.

"Israel tidak memiliki kemampuan untuk menyerang Iran bahkan jika mereka memiliki pangkalan militer bersama dengan UEA di Yaman," ungkapnya kepada Anadolu Agency.

Marandi berpendapat bahwa Iran senang melihat hubungan bilateral antara UEA dan Israel diumumkan ke publik setelah bertahun-tahun menjalni "kerja sama rahasia".

"UEA tahu bahwa kesepakatannya dengan Israel merusak citranya di wilayah tersebut, tetapi dipaksa oleh Trump untuk melakukannya dalam upaya untuk membantunya dalam pemilihan presiden November," kata Marandi.

Analis India Haidar Abbas percaya bahwa pangkalan mata-mata itu juga akan digunakan untuk memantau Pakistan.

"Mulai sekarang dan seterusnya, Pulau Socotra tidak akan menjadi pemberontak Houthi, atau UEA atau Yaman, tetapi kekuasaan penuhnya akan menjadi milik Israel yang berarti AS," papar dia.

"Skenario yang berubah dengan cepat ini mengubah situasi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti Pakistan yang berarti China, sekarang berada di bawah radar Israel," sambung Haidar.

"Jika sabotase terjadi di Gwadar maka Pakistan-China akan menyalahkan Israel dan negara-negara Teluk secara setara, karenanya, hubungan Pakistan dengan negara-negara Teluk akan tegang selamanya," sebut dia.

Sementara itu Profesor Syed Qandil Abbas dari Universitas Azam di Islamabad berpendapat bahwa kesepakatan itu akan berdampak langsung pada Timur Tengah, tetapi secara tidak langsung dapat mempengaruhi Asia Selatan dan kawasan lain juga.

"Jika segitiga India-UEA-Israel muncul maka itu akan mengubah dinamika kawasan Asia Selatan juga. Melawan Iran bisa menjadi salah satu tujuan utama," katanya.

Kerja sama UEA-Israel di Socotra akan menjadi upaya untuk memantau pergerakan angkatan laut Iran di wilayah tersebut, serta memeriksa lalu lintas laut dan udara di wilayah selatan Laut Merah.

"Kebijakan luar negeri Pakistan secara tradisional India sentris dan Pakistan sudah menghadapi konsekuensi kritis dari kemitraan strategis Israel-India. Peralatan militer Israel dan pasukan komandonya sudah ada di Kashmir yang diduduki," terang dia.

"Jika kesepakatan Israel-UEA memasukkan India juga, maka segitiga ini dapat menjadi ancaman serius bagi Pakistan, satu-satunya negara nuklir di dunia Muslim. Begitu pula bisa membahayakan perdamaian dan keamanan di seluruh Asia Selatan dan Timur Tengah," tandas dia.

TAGS : Israel Uni Emirat Arab Pangkalan Mata-mata




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :