Kamis, 24/09/2020 15:40 WIB

Arwin Rasyid Ungkap Tantangan Perbankan di Era 5G

Arwin Rasyid mengatakan, teknologi telah mengubah kehidupan. Mengubah wajah industri dan peradaban. Tak terkecuali perbankan.

Peluncuran buku Arwin Rasyid (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Mantan Direktur Utama Telkom Group, Arwin Rasyid mengatakan, teknologi telah mengubah kehidupan. Mengubah wajah industri dan peradaban. Tak terkecuali perbankan.

Semua berawal dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, sejak era 2G berganti 3G, kemudian 4G hingga kini menghadapi era 5G. Era 3G yang dimulai 2003 telah melahirkan banyak start-up dunia seperti Amazon.com, Ebay.com, Uber, AirBnB yang kini tumbuh menjadi raksasa dunia.

Di Indonesia, era 3G yang dimulai pada 2006 juga mendorong lahirnya start-up digital seperti Gojek, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia yang kini tumbuh menjadi perusahaan digital dengan valuasi miliaran dolar AS.

Bisnis start-up tersebut, menurut dia, terus tumbuh dengan tiga pilar utama yakni platform, ekosistem dan omnichannel yang telah mengubah paradigma dalam berbisni, di mana pertumbuhan aset bukan lagi segalanya.

Sebagai mantan bankir, yang juga pernah memimpin PT TELKOM tepat saat Indonesia memasuki era 3G, Arwin Rasyid melihat potensi ponsel yang luar biasa, tak hanya menjadi alat telekomunikasi namun juga alat transaksi keuangan.

Visinya ia wujudkan setelah bertugas di Telkom dan menjadi CEO Bank CIMB Niaga. Ia bertekad membawa Bank CIMB Niaga menjadi salah satu bank digital terkemuka di Indonesia.

Salah satu produk digital legacy dan pionir CIMB Niaga di era Arwin Rasyid adalah Rekening Ponsel, sebuah dompet digital (e-wallet) perbankan pertama di Indonesia bahkan Asia yang menggunakan nomor ponsel sebagai nomor rekening.

Artinya, melalui Rekening Ponsel seseorang dapat melakukan transaksi perbankan seperti: pembelian, pembayaran, transfer, dan tarik tunai di ATM tanpa harus memiliki rekening di bank.

Namun, menjadi yang pertama ternyata tidak serta merta menjadi yang terbesar. Dompet digital yang kini menguasai pasar `digital payment` ternyata tak ada satu pun yang dimiliki perbankan, namun dimiliki oleh perusahaan Fintech. Sebut saja Gopay, DANA, dan OVO.

Sederet Fintech tersebut tidak hanya berhasil memberikan layanan keuangan digital melalui ponsel dan tablet yang nyaman, mudah dan cepat bagi para penggunanya, tetapi juga berhasil menghimpun dana termurah, yaitu dana dengan bunga 0 persen dari masyarakat yang merupakan dambaan industri perbankan.

Tak hanya mengalahkan dompet digital milik perbankan, Fintech P2P Lending juga mulai berhasil meraih kepercayaan masyarakat melalui berbagai kemudahan dan kecepatan proses pengajuan pinjaman dan persetujuan yang diberikan.

Semua dimungkinkan dengan bantuan teknologi digital. Meski saat ini jumlah dana yang disalurkan melalui Fintech P2P Lending ini masih kecil, di bawah 1 persen, dibanding total kredit yang disalurkan perbankan, namun soal waktu saja Fintech P2P Lending tersebut meraih kepercayaan dan menjadi pilihan alternatif masyarakat dalam mendapatkan pinjaman selain dari perbankan.

Meski penetrasi layanan Fintech di Indonesia baru 5 persen, namun di berbagai negara cukup tinggi: China 67 persen, Hong Kong 57 persen, New Zealand 54 persen, India 39 persen, dan Australia 17 persen.

Sementara Alipay dan WeChatPay di China, memecahkan rekor volum transaksi pembayaran digital senilai US$12,8 triliun (Januari-Oktober 2019), jauh melampaui volum transaksi digital payment di AS yang nilainya US$49,3 miliar di periode yang sama.

Begitu pula, total penyaluran dana Fintech P2P Lending di seluruh dunia mencapai US$312 miliar atau Rp4.586,4 triliun. Tumbuh 25 persen pertahun.

Bagaimana perbankan harus menyikapi perkembangan bisnis Fintech ke depan? Itulah pertanyaan besar yang ingin dijawab Arwin Rasyid dalam bukunya yang berjudul: "Digital Banking Revolution-Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech".

Buku tersebut merupakan catatan pengalaman Arwin Rasyid saat melakukan transformasi digital di CIMB Niaga, dan pengamatannya terhadap tantangan terkini industri perbankan nasional terkait perubahan lanskap bisnis keuangan di Tanah Air bahkan dunia.

Buku tersebut terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, dan diluncurkan secara virtual melalui platform konferensi video yang diikuti sekitar 800 peserta dari berbagai negara, dan disiarkan untuk publik melalui Youtube, pada Jumat (14/8).

Peluncuran buku tersebut juga mendapat sambutan dari Ketua Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Founder Ikhlas Capital dan Mantan Presiden Komisaris CIMB Niaga Dato Sri Nazir Razak, dan Founder Rumah Perubahan dan Presiden Komisars PT Telkom Prof. Rhenald Kasali,

"Tantangan utama yang dihadapi industri perbankan sebetulnya bukan hanya berasal dari Fintech tetapi juga dari Neobank atau The Challenger Bank. Neobank ini adalah bank yang beroperasi secara digital penuh, tanpa kehadiran kantor cabang," kata Arwin Rasyid.

"Neobank lahir dari aplikasi teknologi `chatting` atau aplikasi sosial media lainnya. Seperti KakaoBank di Korea yang lahir dari KakaoTalk, KlarnaBank di Swedia yang lahir dari Shopping Apps—ShopNowPayLater, WeBank di China yang lahir dari WeChat," sambung dia.

"Bayangkan, betapa dahysatnya jika WhatsApp yang memiliki dua milyar active users (pengguna aktif) mendirikan Neobank!" papar dia.

Tantangan dari Neobank memang tidak main-main. Di Eropa misalnya, saat Neobank berhasil menggaet 15 juta nasabah, pada saat yang sama bank konvensional justru kehilangan 2 juta nasabah.

Di Korea, Kakao Bank pada 2016 dalam dua hari beroperasi, menggaet 240 ribu nasabah. Dalam 13 hari, meraih 2 juta nasabah. Dan pada Juli 2019, meraih 10 juta nasabah.

Kehadiran Fintech dan Neobank tak lepas dari kelanjutan perkembangan teknologi digital era 3G dan 4G. Kini, sebentar lagi kita akan memasuki era 5G. Era 5G ditandai berbagai kemajuan teknologi yang menakjubkan dan revolusioner. Sebut saja Artificial Intelligence (AI), Big Data, Cloud Computing, Robotics, Biometrics Recognition, Blockchains, Internet of Things, Virtual Reality, dan Augmented Reality.

Bagaimana perbankan menyikapinya? Dapatkah perbankan memanfaatkan teknologi-teknologi tersebut yang di era 5G akan berkembang sangat pesat dan kembali akan mengubah kembali lansekap dunia bisnis dan keuangan dunia?

Menurut Arwin, menghadapi dua tantangan utama perbankan dari Fintech dan Neobank, setidaknya ada tiga agenda besar yang harus dilakukan perbankan. Pertama, Bank harus segera bersiap menyambut datangnya era 5G, dan mengadaptasi berbagai teknologi digital yang relevan bagi peningkatan layanan perbankan.

Kedua, transformasi digital adalah keniscayaan dan harus dijalankan sepenuh hati, berdasarkan empat pilar budaya, yakni inovasi, customer and user Experience (CX & UX), cross-selling yang efektif dan SDM yang terlatih baik.

"Ketiga, perbankan harus mengantisipasi bisnis ke depan yang tak hanya berorientasi pada pertumbuhan aset, namun juga pada pengembangan konten, di mana perubahan paradigma bisnis perbankan harus menyesuaikan dengan paradigma Fintech dan Neobank, yang telah terbukti berhasil meraih kepercayaan masyarakat," terang dia.

Arwin menambahkan, bank hendaknya menyadari bahwa nasabah dalam situasi kehidupan yang semakin complexed and complicated ini akan selalu mencari alternatif yang nyaman, praktis, cepat dan aman dalam aktivitas perbankan mereka.

Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, bank seharusnya menyusun langkah strategis baru sebagai agenda besar bank ke depan.

TAGS : Teknologi 5G Perbankan Arwin Rasyid




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :