Kamis, 29/10/2020 20:29 WIB

Petani Polewali Mandar Ikuti Latihan Pembuatan Pestisida Alami Lewat Daring

Selain sebagai wadah konsultasi, Klinik PHT juga mengadakan pengembangan bahan pengendali OPT ramah lingkungan seperti agens hayati dan pestisida nabati.

Proses pembuatan pestisida alami. (Foto: Ditjen Hortikultura)

Jakarta, Jurnas.com - Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto meminta agar pengelolaan budi daya maupun pengendalian Organisme pengganggu tanaman (OPT) agar memperhatikan dampaknya pada lingkungan.

"Pengelolaan budi daya maupun pengendalian OPT harus memperhatikan dampaknya pada lingkungan dan diri kita sebagai konsumen. Produk yang sehat berasal dari bahan baku yang sehat," jelas Prihasto dalam keterangannya, Selasa (11/8).

Direktorat Jenderal Hortikultura menginplementasikan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang mendorong pengembangan pertanian ramah lingkungan melalui Gedor Horti alias Gerakan Mendorong Produksi, daya Saing, dan Ramah Lingkungan Hortikultura.

Saat ini, Gedor Horti  membentuk Klinik Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dan memberikan fasilitasi sarana pra sarana Klinik PHT. Salah satu yang mendapat bantuan fasilitasi tersebut adalah Kelompok Tani Sentosa II, Desa Segerang, Kecamatan Mapili, Kabupaten Polewali Mandar.

Bantuan yang diterima petani terdiri atas kulkas, enkas, drum, kompor gas dan tabung, aerator, sambungan L, selang, glasswall, jerigen, baskom besar, palstik tahan panas, lem tembak dan peluru tembak. Perlengkapan ini digunakan untuk membuat pestisida nabati dan agens hayati.

Sejak mendapatkan sarana prasarana klinik PHT, para petani senantiasa berkumpul di malam hari setelah selesai berkebun untuk mempraktikkan sendiri pembuatan pestisida nabati dan agens hayati seperti Trichoderma sp., Beauveria bassiana , Metarhizium anisopliae, Paenibacillus dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).

Kepala Seksi Pengembangan Teknologi dan Laboratorium OPT UPTD BPTPH Sulawesi Barat, Ritje Kombe mengatakan panduan membuat pestisida dana gens hayati dilakukan via video call oleh petugas POPT.

Ia mengatakan, petugas yang membimbing tentuanya yang sudah mendapatkan pelatihan sebelumnya dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari.

"Awalnya petani mendapat pembinaan langsung dari BPTPH Sulawesi Barat. Dikarenakan terkendala Covid-19, pembinaan selanjutnya dilakukan secara virtual," kata Ritje.

Ritje menyebutkan pembuatan agens hayati oleh petani memang tidak selalu berjalan lancar. Terkadang mengalami kegagalan dalam proses perbanyakannya. Namun demikian, petani terus mencoba karena telah berkomitmen untuk berhenti menggunakan pestisida kimia.

Klinik PHT tersebut merupakan sarana koordinasi dan konsultasi bagi petani dan petugas perlindungan dalam menyelesaikan permasalahan serta memberikan saran-saran dalam upaya antisipasi serangan OPT.

Selain sebagai wadah konsultasi, Klinik PHT juga mengadakan pengembangan bahan pengendali OPT ramah lingkungan seperti agens hayati dan pestisida nabati.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengapresiasi antusiasme petani serta dedikasi petugas BPTPH Provinsi Sulawesi Barat yang tetap bersemangat di masa pandemi virus corona COVID-19.

"Petugas sangat berjasa dalam membantu petani menyiapkan bahan pengendali OPT maupun memberikan arahan terkait pembuatan agens hayati. Walaupun tidak bertemu secara langsung, prosesnya dapat berhasil dengan baik. Saya harap petani yang berkumpul tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan mengikuti arahan jaga jarak," ujar Yanti.

TAGS : Petani Polewali Mandar Pestisida Alami Ditjen Hortikultura Prihasto Setyanto




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :