Selasa, 29/09/2020 04:42 WIB

Penyuluh dan Petani Tebu Kudus Jadikan Kolak Gudang Makanan Favorit

Selain beras, ubi-ubian, jagung, sorgum, sagu, kentang, labu pangan lokal yang bisa dimaksimalkan ialah singkong yang merupakan pangan berkarbohidrat sebagai alternatif pengganti beras.

Petani tebu Kudus jadikan kolak gudang makanan favorit

Kudus, Jurnas.com - Penguatan diversifikasi pangan dilakukan para petani dan penyuluh di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Penyuluh dan petani mengolah singkong menjadi Kolak Gudang (Telo Ghodeng) yang kini digandrungi di Kudus. Panganan ini kini banyak dijajakan seiring dengan berlangsungnya panen dan giling tebu di wilayah tersebut.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penguatan diversifikasi pangan lokal menjadi salah satu solusi untuk menghadapi ancaman kekurangan pangan akibat kekeringan atau dalam pandemi Covid-19.

Selain beras, ubi-ubian, jagung, sorgum, sagu, kentang, labu pangan lokal yang bisa dimaksimalkan ialah singkong yang merupakan pangan berkarbohidrat sebagai alternatif pengganti beras.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi juga mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi pangan selain beras.

"Pemerintah, khususnya Kementan terus menggelorakan pangan lokal, yang harus dimulai dari diri sendiri antara lain melalui program program One Day No Rice. Misalnya, pagi dengan konsumsi ubi-ubian, terus makan siang dengan nasi dan pangan lokal lainnya, buahnya buah lokal. Kita harus bertekad untuk memulai konsumsi pangan lokal," katanya.

Penyuluh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Haryati  mengatakan, petani saat panen tebu, pengrajin gula tumbu menggiling tebu dengan mengikutkan tela pohon, sehingga jadilah makanan ringan yang disebut Kolak Gudang dan masyarakat menyebutnya Telo Ghodeng.

Kecamatan Dawe merupakan salah satu sentra perkebunan tebu di Kudus . Perkebunan tebu diwilayah tersebut seluas 1.600 ha tersebar di semua desa. Ada 18 desa. Saat ini di kudus sedang panen tebu.

"Tebu langsung digiling jadi gula tumbu, yakni gula merah yg ditempatkan di wadah dari anyaman bambu yg besar yang disebut tumbu. Saat penggilingan, diikutkan tela pohon, jadilah makanan ringan yang disebut masyarakat telo ghodeng," teran Haryati, Senin, (27/7).

Pengrajin gula tumbu dan kolak gudang di Kabupaten yang terkenal dengan sebutan Kota Kretek dan Kota Santri ini dapat dijumpai di Kecamatan Dawe Salah satu pengrajin adalah Umam. Petani tebu sekaligus pengrajin gula tumbu dan kolak gudang di desa Cranggang.

Di Desa yang berpenduduk 2.500 jiwa ini Umam mengelola lima hektar lahan tebu yang menghasilkan 600 kg gula tumbu setiap harinya. Bersamaan dengan itu Umam juga menghasilkan puluhan keranjang Kolak Gudang dimana satu keranjang memuat satu sampai dua kilogram kolak gudang.

"Untuk kemasan pake anyaman bambu kemasan dua kg ada juga kemasan plastik yang satu kiloan, kami memasarkan di pinggir – pinggir jalan dan juga secara online," ujar Umam.

Umam mengaku, awalnya membuat kolak gudang hanya sebagai produk sampingan dari gula tumbu untuk menekan harga jual gula tumbu. Dan panganan ini sebelumnya hanya dibuat bersamaan dengan musim panen dan giling tebu (musiman). Karena tempat penggilingan tebu disebut gudang maka terkenal dengan sebutan kolak gudang.Ternyata peminat makanan dengan cita rasa manis ini semakin lama semakin meningkat.

"Kolak Gudang atau Telo ghodeng awalnya itu untuk menekan harga jual gula tumbu yg semakin menurun. Tapi malah banyak masyarakat yang berminat, jadinya sampai sekarang lagi booming disekitar kota Kudus, Pati ,Jepara, bahkan luar Jawa," tuturnya.

Ia pun berencana untuk mengembangkan usahanya tersebut diluar musim giling. Namun saat musim hujan menjadi kendala. "Kalo musim hujan bahan baku tebu yang agak susah, karena telone kan dimasak bareng sama air nira tebu yang nantinya menjadi gula merah tumbu," ucapnya.

Untuk mendapatkan bahan baku singkong, Ia mengatakan bukan hal yang sulit. Karena Iapun menanam singkong di lahannya. Berbeda dengan tebu singkong lebih mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi cuaca.

Mengenai pembuatan, dikatakan Umam, juga membutuhkan proses yang cukup lama. "Pembuatannya bertahap, pertama sekitar jam 9 pagi, dilanjutkan jam 11 siang nyampe terakhir jam 3 sore. Intinya disitu kalo gula udah mengental satu masakan sekitar 10-20 keranjang telo godeng, selanjutnya 2 jam kemudian begitu lagi," jelasnya.

TAGS : Ketahanan Pangan Petani Tebu Kudus Kolak Gudang Dedi Nursyamsi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :