Kamis, 26/11/2020 14:07 WIB

Prancis-Mesir Sepakat Bersama Atasi Krisis Libya

kedua presiden membahas menghentikan semua intervensi asing ilegal di Libya dengan mengorbankan stabilitas negara dan keamanan regional.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron ikut serta dalam upacara tradisional Lily of the valley di istana Elysee, Paris, pada 1 Mei 2020. (Fot: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron memuji upaya Mesir untuk memulihkan keamanan dan stabilitas di Libya, sekaligus sepakat untuk bekerja sama mengatasi masalah yang sedang dihadapi salah satu negara timur tengah tersebut.

Dilansir Middlleast, dalam sebuah panggilan telepon kemarin, kedua presiden membahas menghentikan semua intervensi asing ilegal di Libya dengan mengorbankan stabilitas negara dan keamanan regional.

Prancis bersama dengan Mesir dan UEA mendukung pemerintah Libya di timur negara yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar, yang serangan militernya untuk mengambil alih ibu kota Tripoli telah dibatalkan.

Sementara itu, Turki dan Qatar mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) saingan yang didukung secara internasional, yang berbasis di Tripoli.

Libya telah diguncang oleh kekerasan sejak pasukan yang didukung NATO membunuh diktator lama Muammar Gaddafi pada 2011 silam.

Pada awal tahun ini, Turki melakukan intervensi di Libya untuk mendukung GNA dengan dukungan udara, senjata dan pejuang dari Suriah, dalam suatu langkah yang katanya akan membantu mengakhiri pengepungan selama setahun di Tripoli.

Tentara Nasional Libya (LNA), yang dipimpin oleh Haftar, sekarang telah memberikan izin militer Mesir untuk campur tangan dalam perang .

"Kami menyerukan upaya bersama antara kedua negara persaudaraan - Libya dan Mesir - untuk mengalahkan penjajah dan menjaga keamanan dan stabilitas bersama di negara dan wilayah kami," kata House of Representatives dalam sebuah pernyataan.

Ini mengikuti peringatan bulan lalu yang dibuat oleh Presiden Al-Sisi di mana ia mengatakan bahwa kota pesisir Sirte adalah garis merah dan ia akan mengirim pasukan ke Libya.

Mesir mengatakan bahwa intervensi militer di Libya adalah masalah keamanan nasional Mesir.

Pada bulan Juni, Macron menggambarkan intervensi Turki di Libya sebagai " kriminal ", dan mengatakan keputusannya untuk mengirim sejumlah besar pejuang ke sana.

"Saya pikir itu adalah tanggung jawab historis dan kriminal untuk sebuah negara yang mengklaim sebagai anggota NATO."

Sebagai tanggapan, Turki mengatakan Prancis berusaha mengembalikan "pemerintahan kolonial lama" di Libya dan bahwa "Perancis memiliki tanggung jawab penting dalam menyeret Libya ke dalam kekacauan."

Macron mengatakan bahwa alih-alih mendukung GNA, Prancis mencari solusi politik.

TAGS : Krisis Libya Pemerintah Prancis Mesir




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :