Minggu, 09/08/2020 12:38 WIB

Petani Grobogan Untung Ganda Berkat Tumpang Sari Kedelai-Hortukultura

Ubinan kedelai kali ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tanaman kedelai dengan hortikultura melalui sumber dana APBD II Kabupaten Grobogan.

Balitbangtan Kementerian Pertanian (Kementan) memperbanyak kedelai biosoy. (Foto: Humas Balitbangtan)

Jakarta, Jurnas.com - Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah memulai ubinan sebagai salah satu metode dalam dunia pertanian untuk mengetahui perkiraan dari jumlah hasil yang akan didapat pada saat panen.

Petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mendampingi kelompok tani (Poktan) Ngudi Rahayu II Desa Nambuhan di Kecamatan Purwodadi melaksanakan ubinan tanaman kedelai pada awal Juni 2020.

Ubinan kedelai kali ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tanaman kedelai dengan hortikultura melalui sumber dana APBD II Kabupaten Grobogan.

Tanaman kedelai yang dipanen ini menggunakan sistem tanam tumpang sari kedelai dengan aneka tanaman sayuran diantaranya, cabai, kacang panjang, pare, kangkung, sawi, jagung manis dan gambas.

Saat ditemui di lahan, Kepala Seksi Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Cicik Kundarsi, menjelaskan, ubinan dapat diterapkan pada budidaya tanaman kedelai dengan cara sederhana.

"Kita cukup mengukur 2,5 x 2,5 meter untuk dijadikannya tolak ukur atau perwakilan dari jumlah hasil perpetak sawah yang ingin kita ketahui hasilnya," jelas Cicik.

Hasil ini ubinan pada luas lahan 1 hektare, dijadikan data bagi Dinas Pertanian untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan pendampingannya kepada para petani. Selain itu, hasil ubinan bisa dijadikan patokan untuk menentukan langkah yang dilakukan Dinas Pertanian dan PPL untuk memberikan masukan kepada para petani dalam penanaman berikutnya.

"Dari hasil ubinan panen kedelai diperoleh hasil sebanyak 4,42 kg tangkai polong kering, jika dikonversikan adalah 2,42 ton per hektare biji kering. Hasil ini cukup menggembirakan karena jauh melebihi rata-rata produktivitas nasional yang hanya berkisar 1,5 ton per hektare. Terlebih harga kedelai di tingkat petani Rp8.000- Rp9.500 tergantung kualitas dan kadar airnya," imbuh Cicik.

Ketua Poktan Ngudi Rahayu II Desa Nambuhan, Harno, menuturkan para petani sangat senang karena Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan dan PPL Kecamatan Purwodadi yang sudah banyak membantu dalam pendampingan, mengarahkan, membimbing serta memberikan solusi yang terbaik sehingga para petani secara bertahap dapat merubah sistem tanam tumpang sari kedelai - hortikultura.

"Keberhasilan ini tidak terlepas dengan adanya pendampingan dari Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan dan PPL Kecamatan Purwodadi. Petani kedelai juga sumringah karena harganya cukup kompetitif. Dan yang membuat kami bahagia, karena 30% pendapatan kami dihasilkan dari tumpang sari tanaman hortikultura, yang setiap saat bisa kami panen," ujar Harno.

Secara terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Djono menjelaskan bahwa ini merupakan tujuan kegiatan Pengembangan Teknologi Budidaya Tanaman Kedelai dengan Hortikultura.

"Selain memperoleh hasil panen kedelai petani dapat memperoleh tambahan penghasilan melalui aneka tanaman sayuran yang mereka tanam dan dapat dipanen harian, 2 harian, maupun mingguan sehingga petani tidak perlu menunggu sampai panen kedelai dulu untuk mendapatkan penghasilan," katanya.

Diakhir, Djono juga menambahkan, dengan hasil yang menggembirakan ini berharap bahwa petani sekitar dapat menerapkan Teknologi Budidaya Tanaman Kedelai dengan Hortikultura ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan produksi kedelai di Kabupaten Grobogan selaku sentra komoditas kedelai nasional.

"Semoga dengan hasil ubinan dan program ini dapat membangkitkan minat tanam kedelai-hortikultura di tingkat petani. Kita buktikan Grobogan merupakan sentra kedelai nasional yang handal," pungkasnya.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, tanggung jawab penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian (Kementan) dan semua pelaku pembangunan pertanian untuk terus berproduksi di tengah pandemi COVID-19.

Syahrul menuturkan sesuai arahan Presiden (Joko Widodo, Red), Kementan terus memperkuat sektor pertanian dengan penguatan berbagai komoditas.

"Komoditas kedelai menjadi salah satu komoditas yang harus dijamin supaya kedepannya tetap memiliki produksi yang cukup untuk rakyat," tegas Syahrul usai menanam kedelai di Desa Tontalete, Minahasa Utara, Sulawesi Utara akhir Mei lalu.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, ketahanan pangan bukan saja tentang kecukupan bahan pangan, namun juga menyangkut kemampuan memproduksi bahan pangan sendiri.

"Ketahanan pangan ini juga meyangkut kemampuan memproduksi bahan pangan sendiri dengan memanfaatkan sumber daya lokal, sehingga menanam di masa ini memang solusi cerdas untuk mengatasi krisis pangan," katanya.

TAGS : Tumpang Sari Jawa Tengah Dedi Nursyamsi Grobogan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :