Rabu, 12/08/2020 11:21 WIB

KWT Mekar Lestari Salatiga Ubah Desa Tertinggal Jadi Desa Maju

Ide bertanam dipekarangan tercetus begitu saja. Saat itu, sebagian besar anggota tinggal di daerah pinggiran dengan halaman masing-masing yang luas dan tidak termanfaatkan.

Kelompok Wanita tani (KWT) Mekar Lestari Kelurahan Randuacir Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Lestari Kelurahan Randuacir Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah merasakan manfaat bertanam dipekarangan.

KWT yang dikomandani Elizabeth Sri Hastuti (Eliz) ini bisa membawa perubahan di desanya. Ia berhasil menyulap desa dari cap daerah tertinggal (IDT) menjadi desa maju.

"Dulu kami kader Posyandu, ketika BKKBN bubar, saya pikir sayang jika kadernya ikut bubar. Lalu saya buat kelompok wanita Tani Mekar lestari,  dengan harapan membawa perubahan dan berlangsung sepanjang masa apalagi pada saat itu kita termasuk daerah IDT tertinggal," tutur Eliz Kamis (11/6).

Ide bertanam dipekarangan tercetus begitu saja. Saat itu, sebagian besar anggota tinggal di daerah pinggiran dengan halaman masing-masing yang luas dan tidak termanfaatkan. Dari salanah dibuat peraturan yang mewajibkan anggota menanam sayuran dan empon empon, jagung dan ketela di sekitar rumah.

Hal tak terduga terjadi saat panen, dari bertanam coba-coba ternyata hasilnya tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga tetapi bisa membantu keluarga lain yang bukan anggota kelompok. Bantuan di sisi keuangan keluarga dengan mengurangi pengeluaran karena kebutuhan sayur, singkong dan jagung selalu tersedia di sekitar rumah

"Berawal dari situ, kami mulai serius memanfaatkan pekarangan kami dan mulai menjual hasil panen sehingga bisa menambah pendapatan keluarga," ujar Eliz.

Keberhasilan ini menarik perhatian dari berbagai pihak, diantaranya Dinas Ketahanan Pangan Kota Salatiga yang terus melakukan pendampingan dan bantuanpun mulai mengalir.

Pada awalnya sebagai sarana bertanam KWT memanfaatkan kaleng bekas plastik bekas minyak ataupun ember bekas, polybag, talang dan pipa peralon seadanya, namun setelah mendapat bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Salatiga, semua anggota dibuatkan rak dari baja ringan yang penuh tanaman dalam polybag.

Sebagai tahap pengembangan KWT sudah memiliki kebun bibit sendiri dan semua anggota punya green house dari plastik UV untuk pembibitan maupun untuk penanaman.

Komoditas andalan yang banyak ditanam adalah tanaman Adas, cabe rawit, sawi bakso, kangkung, bayam, cabe keriting, kacang panjang, terong, buncis, tomat, sawi sendok, pare, seledri, jeruk dan kelor.

"Bertanam, selain sehat dan menyenangkan juga mampu menghasilkan ketersediaan pangan berupa sayur-mayur yang dipetik dari pekarangan," katanya.

"Kunci keberhasilan dari kegiatan kami ini adalah kebun bibit yang terus dikembangkan, sehingga kelompok tidak terus menerus tergantung dari bantuan pemerintah, Mari menjadi pejuang ketahanan pangan keluarga," pungkas Eliz.

Sekadar diketahui, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yassin Limpo kerap mengingatkan pentingnya pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga.

Syahrul meminta kepada jajaran pemerintah daerah dari gubernur hingga camat agar mendorong pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menambahkan Indonesia memiliki lebih dari dua juta hektard lahan pekarangan yang sangat potensial untuk ditanami.

"Bertanam di pekarangan bisa dengan berbagai teknologi, vertikultur, hidroponik, atau family farming, jangan biarkan lahan menganggur walau hanya sejengkal," ujar Dedi.

TAGS : Kelompok Wanita Tani Mekar Lestari Pekarangan Rumah Kota Salatiga Jawa Tengah




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :