Senin, 21/09/2020 22:41 WIB

ICMI Apresiasi Kementan Jaga Kestabilan Harga Pangan di Tengah COVID-19

Kementan masih terus berupaya untuk meningkatkan hasil produksi pertanian salah satunya dengan melakukan percepatan musim tanam sebagai antisipasi kekeringan saat kemarau.

Baznas mendampingi kegiatan panen kelompok tani Sari Alam di Desa Cibatu, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga kestabilan harga dan stok pangan di Tengah pandemi COVID-19.

Apresiasi itu disampaikan langsung Guru Besar Pertanian Universitas Hasanudin (Unhas) sekaligus Wakil Ketua Bidang Pembinaan dan Keanggotaan ICMI, Ambo Alla dalam diskusi daring dengan tema "Ketahanan Pangan di Tengah dan Pasca COVID-19"," Kamis (4/6).

Ambo Alla meyakini Kementan di bawah komanda langsung Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, mampu mengatasi masalah pangan masyarakat dalam situasi seburuk apapun.

"COVID-19 membuat masyarakat lesu, diperlukan sosial enginering agar kembali bangkit terutama menghadapi new normal. Saya percaya, Pak Menteri bisa membangkitkan semangat masyarakat," kata Ambo Ala.

Ketua ICMI Orwil Sulawesi Selatan, Arismunandar juga mengatakan bawah keberhasilan Kementan dalam menjaga ketahanan pangan berbasis pada bukti. Ia berharap ke depan sektor pertanian lebih dikembangkan di wilayah Sulawesi Selatan.

"Kita berharap Sulsel menjadi lumbung pangan nasional, dengan pengembangan pertanian berbasis industri berskala besar," tutur Aris.

Seperti diketahui, Kementan memastikan 11 komoditi bahan pangan masyarakat yaitu beras, bawang merah, putih, cabai besar, jagung, cabai rawit, daging ayam ras, daging sapi, daging kerbau, telor ayam, gula pasir, minyak goreng masih terkendali.

Terpantau seluruh kebutuhan pangan tersebut terpenuhi terutama ketika menghadapi bulan suci Ramadaan dan Idulfitri (Mei 2020). Meski begitu masih ada beberapa catatan yang menjadi bahan evaluasi untuk Kementan.

"Persoalan yang lain terpantau dari sisi distribusi, logistik nasional, kemudian penyikapan terhadap daerah defisit yang ada," kata Syahrul pada acara tersebut.

Syahrul menjelaskan, kebutuhan utama masyarakat yaitu beras terpantau aman hingga akhir Desember 2020 mendatang. Tercatat, ketersediaan beras hingga saat ini mencapai 21 juta ton dengan perkiraan kebutuhan pada empat hingga lima bulan ke depan sekitar 12,5 juta Ton.

"Jadi sampai akhir Juni 2020 masih tersedia (over stok beras), gambarannya dari Desember 2019 terjadi over stock 5,9 Juta Ton. kemudian perkiraan produksi hingga April 2020 mencapai 11,4 Juta Ton dengan perkiraan kebutuhan 10 Juta Ton," bebernya.

Ia menambahkan, stok beras di Agustus 2020 ada sekitar 8,7 juta ton yang akan mengalami peningkatan sekitar 7,3 juta ton melalui musim tanam hingga Desember 2020 mendatang. Apabila dikalkulasikan menjadi lebih dari 16 juta ton beras dengan prediksi kebutuhan 9 - 10 juta ton, maka stok beras hingga akhir Desember tersisa 6 juta ton.

"Jadi masalah beras dan 11 komoditi lainnya menurut saya masih bisa dikendalikan meskipun asumsi - asumsi ini masih harus menjadi asumsi apligatif di lapangan," jelasnya.

Meskipun terlampau aman, Kementan masih terus berupaya untuk meningkatkan hasil produksi pertanian salah satunya dengan melakukan percepatan musim tanam sebagai antisipasi kekeringan saat kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menprediksi sejak Mei 2020 kekeringan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Saat ini, masih tersisa hujan untuk bulan Juni 2020.

"Kekeringan akan terjadi di Pulau Jawa, Sumatera, Papua Barat. Kemudian Juli kemarau muncul di Sulawesi Selatan, sehingga yang harus dikejar adalah musim tanam kedua (akhir Mei dan Juni)," paparnya.

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Syahrul Yasin Limpo Stok Pangan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :