Senin, 13/07/2020 22:28 WIB

Penyuluh Pertanian Pandegelang Pelopori Pengolahan Talas Jadi Tepung

Tepung talas beneng banyak diolah menjadi donat talas, mie talas, ice cream talas, brownies talas dan aneka kue kering.

Tepung talas. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Dudi Supriyadi Koordinator Penyuluh pertanian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten menjadi pelopor pengolahan talas menjadi tepung sekaligus penggiat Talas Beneng.

"Talas Beneng yang banyak tumbuh di pekarangan dan dikebun warga menjadi awal ide mengolahnya menjadi tepung. Kebetulan ditempat kami (kecamatan Mandalawangi) belum ada yang melakukan pengolahan ini jadi peluang pasar sangat terbuka." terang Dudi pada Senin (1/6).

Aktivitas mengolah talas menjadi tepung sudah ditekuni Dudi sejak 10 tahun lalu dengan produksi sekitar empat ton per bulan. Area pemasaran meliputi area Jabodetabek.

Dodi berharap kedepan tepung talas terus berkembang sehingga dapat menjadi industri perdesaan skala rumah tangga yang menopang sumber pendapatan warga. Ia juga menggandeng para petani dalam memenuhi permintaan pasar.

"Petani saya libatkan, ada yang menjual bahan baku, ada yang mengolah menjadi gaplek. Sebelumnya mereka dilatih standarisasi, yang mampu mengolah sampai tepung saya kasih pasarnya, yang belum saya beli gapleknya," ujarnya.

Untuk mendorong petani bergairah membuat tepung, Dudi menjadi salah satu penjamin pasar mereka. Ia juga melakukan pengembangan budidaya bekerjasama dengan petani diluar zona agar ketersediaan bahan baku talas berkelanjutan.

Dudi mengatakan, potensi tepung talas Beneng untuk dikembangkan masih sangatlah besar, terutama untuk aneka pangan lokal yang saat ini sedang banyak berkembang dan terus digalakan pemerintah dan menggunakan talas sebagai bahan bakunya.

Tepung talas beneng banyak diolah menjadi donat talas, mie talas, ice cream talas, brownies talas dan aneka kue kering. Potensi pengembangan tepung talas menurutnya terbuka lebar hanya saja masih terkendala budidaya yang terbatas.

"Talas jenis ini mengandung protein yang lebih tinggi dan memiliki warna kuning menarik yang menjadi ciri tersendiri dan tidak dimiliki talas lain sehingga menghasilkan tepung non gluten dan kandungan gizi tidak kalah dengan tepung terigu," terangnya.

Lebih jauh Dudi menjelaskan Si Beneng dengan nama latin Xanthosoma Undipes K Coch ini adalah salah satu pangan alternatif potensial yang kebutuhan domestiknya sangat tinggi, baik untuk tepung maupun umbi segar.

Permintaan pasar ini belum dapat dipenuhi secara maksimal karena masih terbatasnya budidaya. "Permintaan domestik dari Pasuruan dan Malang untuk di ekspor ke Belanda saja 30 ton per minggu baru terpenuhi 16 ton/minggu. Daunnya saat ini di ekspor ke Australia dengan kontrak 200 ton iris kering," jelasnya.

Sekadar diketahui, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo sedang gencar mendorong gerakan percepatan diversifikasi pangan dan menekankan pengembangan pangan lokal.

Kemudian Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi mengatakan sudah masyarakat Indonesia kembali pada pangan lokal.

Menurut Dedi dari Sabang hingga Merauke Indonesia memiliki beragam pangan lokal sumber karbohidrat selain nasi. Mulai dari singkong, ubi, kentang, talas, gembili, jagung, sagu dan lain lain.

"Semuanya dengan mudah dapat dibudidayakan, karena Indonesia negara tropis yang sepanjang tahun tersinari matahari dan sumber air melimpah," katanya.

TAGS : Diversifikasi Pangan Dedi Nursyamsi Provinsi Banten Tepung Talas




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :