Selasa, 14/07/2020 10:04 WIB

Petani Pati Terapkan Budidaya Bawang Merah Ramah Lingkungan

Petani bawang merah. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Sebagai sentra bawang merah terbesar di Pantura Jawa Tengah, Pati memiliki hamparan bawang merah yang cukup luas. Tidak sulit untuk menemukan sentra pertanaman bawang merah di daerah yang berjuluk Bumi Mina Tani tersebut.

Pada bulan Mei saja, tercatat sedikitnya 604 hektare pertanaman bawang merah dengan berbagai variasi umur tanam. Varietas andalan yang banyak dikembangkan petani setempat dikenal dengan nama Tajuk. Namun pada saat musim kemarau, sebagian petani beralih menanam varietas Bauji yang dinilai lebih tahan kekeringan.

Salah satu strategi petani bawang merah Pati untuk menjaga keberlanjutan usaha tani sekaligus meningkatkan produktivitas panen dilakukan melalui penerapan sistem budidaya ramah lingkungan. Alhasil, produktivitas panen di sentra utama seperti Kecamatan Jaken dan Wedarijaksa saat ini mampu mencapai 12 ton per hektare.

Seperti halnya yang dilakukan para petani bawang merah di Desa Tegalurung, Kecamatan Jaken, Pati. Sepanjang hamparan lahan bawang merah di daerah tersebut terlihat banyak dipasangi perangkap likat kuning. Tujuannya tak lain untuk mengendalikan populasi hama serangga sekaligus efisiensi biaya usaha tani bawang merah.

Ketua kelompok tani "Joko Tani", Desa Tegalurung, Suhardi  mengaku para petani anggotanya kini sudah semakin sadar dan paham pentingnya budidaya ramah lingkungan.

"Awalnya memang masih pada ragu. Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang mau memasang perangkap likat. Gunanya selain memantau serangga hama, sekaligus untuk mengendalikan populasinya. Lumayan efektif kok," ujarnya dalam keterangan tertulisnya Jumat (29/5).

Menurut pengalamannya likat warna kuning efektif menekan populasi ngengat atau imago ulat bawang. Sementara perangkap likat biru atau putih, bagus untuk mengendalikan hama thrips.

Jika tidak dikendalikan, larva dari hama tersebut disebut-sebut bisa mengancam penurunan produksi umbi bawang merah hingga 60% untuk kategori serangan berat.

"Selain likat, kami juga telah memasang perangkap lampu dan feromon untuk mengendalikan hama ngengat yang biasanya aktif di malam hari," imbuh Suhardi. Selain terbukti efektif, penggunaan pengendali hama ramah lingkungan tersebut juga bisa menghemat pengeluaran pestisida.

Suhardi menandaskan saat ini anggotanya juga sudah mulai beralih ke penggunaan pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Namun proses menuju budidaya yang 100% bebas pestisida dan pupuk kimia sintetik, jelas bukan perkara instan.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto saat melakukan kunjungan lapang ke sentra bawang merah Jaken baru-baru ini, mengapresiasi pilihan petani setempat menerapkan prinsip pengendalian hama terpadu ramah lingkungan.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan Gerakan Mendorong Peningkatan Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan atau Gedorhorti yang selama ini menjadi tagline Direktoran Jenderal (Ditjen) Hortikultura.

"Kami yakin budidaya ramah lingkungan ini akan jadi trend ke depannya," ujar Prihasto.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf meminta para penyuluh dan pengawas OPT agar semakin intensif mendampingi petani di wilayah binaannya guna menerapkan budidaya ramah lingkungan.

"Mengubah pilihan dan orientasi petani untuk mau berbudidaya ramah lingkungan itu memang ngga mudah. Apalagi untuk bawang merah yang punya karakter padat modal dan rentan terserang OPT. Tapi nyatanya para petani di Pati bisa kok," ungkap wanita yang akrab dipanggil Yanti.

Dirinya optimis apabila petani bawang merah mampu menjaga komitmen berbudidaya ramah lingkungan, maka produktivitas dan kualitas bawang merah akan meningkat.

"Ujung-ujungnya petani juga yang diuntungkan karena produknya lebih berkualitas dan bisa bersaing di pasar lokal bahkan luar negeri," kata Yanti.

TAGS : Petani Pati Bawang Merah Ramah Lingkungan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :