Kamis, 16/07/2020 07:18 WIB

Jagung di NTT Melimpah, Penyuluh Dorong Petani Diversifikasi Pangan

Nasi Jagung memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan nasi beras.

Nasi jagung. (Foto: BPPSDMP)

Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajak masyarakatnya melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan di kebun atau lahannya, hal ini untuk menghindari ketergantungan pada salah satu komoditas tanaman pangan.

Masyarakat NTT, khususnya masyarakat Kabupaten Manggarai Timur sangat bersyukur dengan adanya limpahan produksi jagung di daerahnya yang membawa berkah stok pangan alternatif selain padi/beras.

Bermodalkan produksi yang melimpah ruah, pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, mulai mengangkat jagung sebagai ikon pangan alternatif dengan memberdayakan kelompok tani mengolah beras/nasi jagung.

Salah satu sumber bahan pangan pengganti beras yang mempunyai potensi yang baik adalah jagung. Nasi Jagung memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan nasi beras.

Nasi Jagung lebih kaya akan vitamin (Vit. A, B1, B6, B12, C dan E), mineral (Folat, Kalsium, Fosfor, Natrium, Zink) dan serat. Dalam nasi jagung, gizi yang paling tinggi terkandung ialah Magnesium (Mg), Mengkonsumsi Magnesium membantu mengurangi kemungkinan terkena penyakit diabetes dan darah tinggi.

Beras jagung cocok sebagai alternatif sumber kalori pengganti nasi karena kaya akan serat dan rendah kalori.

Kelompok Tani (Poktan) Purnama, di Kecamatan Borong NTT dengan ketuanya Abdul Syukur, mengatakan kelompoknya tertarik melirik usaha pangan alternatif karena kondisinya mendukung, salah satunya karena memiliki luasan lahan 300 hektare untuk budidaya jagung.

"Dengan luas lahan 300 hekatre dan produksi rata-rata sebesar 8,6 ton per hektare, maka jagung yang dihasilkan juga melimpah, sehingga hasilnya bisa dijual dalam bonggol jagung dan bisa di olah menjadi nasi/beras jagung " ujar Abdul Syukur.

Abdul menambahkan beras jagung yang di produksi oleh Poktan Purnama dijual ke kabupaten lainnya seperti Kabupaten Ende, Bajawa, Ruteng, Sumba Timur, dan daerah lainnya.

"Kelompok Purnama juga sudah menandatangani MoU dengan Pengusaha di Kabupaten Bajawa dan Ruteng untuk Beras jagung di Jual ke Pengusaha seharga 10.000 per kg dan ini sangat menguntungkan kelompok dan kesejateraan kelompok semakin baik," ujarnya.

Penyuluh Pertanian dari BPP Kecamatan Borong, Fransiskus Jerandut mengatakan ikon baru jagung sebagai pangan alternatif dimunculkan lewat pemberdayaan kelompok tani maupun kelompok rentan seperti petani wanita dan ibu rumah tangga.

Semuanya dimulai dari pelatihan lalu memfasilitasi peralatan. "Kami tetap membina mereka, menginspirasi mereka untuk kreatif mengolah pangan untuk peningkatan pendapatan kelompok," ujar Fransiskus.

Jagung merupakan salah satu sumber pangan pengganti beras yang mempunya potensi baik. Harganya yang relatif murah, mudah didapat, dan memiliki kandungan gizi yang baik, sangat tepat untuk mengganti beras yang dinilai memiliki kandungan gula yang cukup tinggi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama.

"Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya," ujar Dedi.

"Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," sambungnya.

TAGS : Komoditas Jagung Nusa Tenggara Timur Penyuluh Pertanian Diversifikasi Pangan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :