Selasa, 07/07/2020 03:08 WIB

Kementan-BPTHPH Jawa Barat Antisipasi Kemarau

Keadaan kemarau ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap berkurangnya ketersedian air untuk kebutuhan tanaman.

Salah satu langkah cepat yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mengatasi musim kemarau adalah menurunkan tim khusus untuk penanganan kekeringan di wilayah sentra produksi padi.

Jakarta, Jurnas.com -  Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa beberapa daerah di Indonesia akan memasuki kemarau. Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia sebanyak 30% diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari situasi normal.

Daerahnya meliputi yaitu sebagian Aceh, sebagian pesisir timur Sumatera Utara, sebagian Riau, Lampung Bagian Timur, Banten bagian Selatan, sebagian Jawa Barat, serta Jawa Tengah Bagian Tengah dan Utara. Prediksi awal kemarau terjadi pada Mei dan puncaknya pada Agustus 2020.

Kepala BPTHPH Jawa Barat, Ajat Sudrajat memaparkan, keadaan kemarau ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap berkurangnya ketersedian air untuk kebutuhan tanaman.

"Imbasnya terjadi kekeringan serta biasanya berpengaruh terhadap peningkatan serangan Organisme pengganggu Tumbuhan (OPT), terutama peningkatan serangan hama," kata Ajat melalui keterangan tertulisnya, Rabu (27/5).

Dari hasil monitoringnya di kawasan Jabar, khususnya terkait komoditas hortikultura, pihaknya terus memantau secara intensif untuk meminimalisir dampak anomali cuaca dan OPT.

"Berdasarkan data monitoring BPTPH provinsi Jawa Barat hingga April 2020 luasan tanaman cabai seluas 5.149 Ha dan bawang merah mencapai 1.575,5 hektare. Tentunya kami harus amankan pertanaman di lapangan dan memastikan bisa berproduksi secara optimal," jelasnya.

Ajat menambahkan, untuk menghadapai dampak perubahan iklim tersebut, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah antisipasi yaitu dengan melakukan pemantauan lapangan terkait intensitas serangan OPT dan DPI.

Peralihan musim kemarau (pancaroba) pada komoditas cabe dan bawang, biasanya berpeluang meningkatnya serangan OPT terutama hama seperti trips, kutu kebul, kutu daun dan ulat.

"Panasnya suhu pada musim kemarau menyebabkan perkembangan hama akan cenderung menjadi lebih cepat sehingga menyebabkan kerusakan pada tanaman yang mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman saat panen," kata Ajat.

lanjut menceritkan, April sudah dibuat surat penugasan kepada POPT untuk mengintensifkan pengamatan OPT komoditas hortikultura strategis, pengamatan data kekeringan serta pemetaan daerah endemis kekeringan sebagai bahan peringatan dini/ Early Warning System (EWS).

"Selain itu dalam rangka antisipasi dampak perubahan Iklim, pihaknya menghimbau para petugas POPT untuk mensosialisasikan sifat dan prakiraan awal musim hujan kepada PPL dan petani," ujar Ajat.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menambahkan, Data EWS perlindungan hortikultura sudah dilakukan pada wilayah sentra utama pengembangan hortikultura. 

Terkait satu data pertanian ini, Kementerian Pertanian (Kementan) berkordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS), BMKG, Pemerintah Daerah (Pemda) dan instansi terkait lainnya.

"Untuk komoditas bawang merah dan aneka cabai wilayah EWS dipantau sebanyak 55 Kabupaten/Kota sebagai daerah sentra utama penyangga produksi nasional, baik di Pulau Jawa maupun di Luar Pulau Jawa," kata Prihasto.

Dengan adanya peringatan dini OPT, kekeringan dan pemetaan daerah endemis kekeringan dapat dijadikan sebagai acuan bagi petani untuk lebih mewaspadai akan munculnya OPT dan DPI. Sehingga pontensi kerugian akibat serangan OPT dan dampak Perubahan iklim bisa diatasi.

"Disamping itu juga dapat dijadikan sebagai panduan bagi POPT untuk mendampingi dan pengawalan dalam penanganan DPI dan OPT," kata pria yang biasa disapa Anton tersebut.

TAGS : Musim Kemarau Tanaman Hortikultura Bulan Agustus Prihasto Setyanto




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :