Jum'at, 07/08/2020 11:11 WIB

Penyuluh Pertanian Lakukan Percepatan Masa Tanam dengan Teknologi Jarwo

Inovasi sistem tanam jarwo diyakini dapat meningkatkan produksi hingga 20%.

Gerakan percepatan tanam di Kabupaten Maros, Minggu 17 Mei 2020. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com -  Untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengantisipasi dampak pandemi COVID-19, pada pertengahan Mei ini dilakukan gerakan tanam padi serempak yang dilaksanakan di Bulak Blawong, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Hal ini seiring dengan himbauan pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendorong percepatan masa tanam untuk menghindari potensi kemarau panjang pada paruh kedua 2020. 

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo  meminta kepada seluruh penyuluh pertanian dan petani di Indonesia agar segera melakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi dan Jagung serentak.

"Kita harus bekerja lebih keras, lebih terpadu dan lebih gotong royong agar makanan rakyat bisa terjamin. Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, kita hadapi dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah," kata Syahrul.

"Saya mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. Diharapkan kerja sama dengan berbagai pihak lebih intens agar semua dapat berjalan dengan baik," sambungnya.

Gerakan tanam diawali dengan luas lahan 28 hektare, memakai benih varietas Mekongga yang telah disemai lebih dahulu secara dapok, dengan mengadopsi teknologi jajar legowo (Jarwo) super 2 : 1 serta penggunaan mesin rice transplanter.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM), Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa  pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa, di mana petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

"Hal ini membuktikan pertanian tidak berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani," kata Dedi.

Menurut Koordinator Penyuluh di BPP Jetis, Ismail dan Ketua Kelompok Tani (Poktan) Barokah, Yusron, gerakan tanam padi bertujuan untuk mendiseminasikan inovasi teknologi jajar legowo super 2:1 dan penggunaan Alsintan.

Selain itu, juga meningkatkan motivasi seluruh anggota kelompok untuk menerapkan inovasi tersebut guna peningkatan produktivitas padi sehingga berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta telah merekomendasikan sistem tanam jajar legowo (jarwo) super sebagai metode tanam padi yang tepat bagi petani serta sebagai solusi untuk menjawab akibat penyusutan lahan pertanian di DIY yang rata-rata mencapai 200 hektare per tahun. Inovasi sistem tanam jarwo diyakini dapat meningkatkan produksi hingga 20%.

Sistem tanam jarwo merupakan manipulasi lokasi pertanaman sehingga memiliki jumlah tanaman pinggir lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Pertumbuhan dan perkembangan lebih baik karena memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak sehingga akan meningkatkan populasi yang tentunya akan meningkatkan produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi.

Selain itu teknologi ini menjadikan lahan sawah lebih terbuka dan tikus tidak menyukai sehingga meminimalkan hama penyakit dan memudahkan petani melakukan pemeliharaan.

"Selain itu untuk membantu menentukan jarak antar tanaman padi dengan teknologi jajar legowo, petani di Bulak Blawong juga sudah menggunakan mesin transplanter sebagai solusi mengatasi kurangnya buruh tanam apalagi di musim pandemi Covid-19," pungkas Ismail.

TAGS : Penyuluh Pertanian Percepatan Tanam Dedi Nursyamsi Teknologi Jarwo Rice Transplanter




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :