Senin, 13/07/2020 22:13 WIB

Penyuluh dan Petani Sumenep Terapkan Inovasi Persemaian Kering Rusunawa

Persemaian kering bisa dilakukan di pekarangan rumah para petani. Inovasi ini pertama kali diterapkan oleh Hasanudin Petani dari Poktan Sumber Tani Kecamatan Kalianget.

Inovasi Persemaian Kering Rusunawa. (Foto: Ist)

Sumenep, Jurnas.com - Intensitas hujan yang tidak menentu ditambah pandemi covid-19 yang masih berlangsung mengakibatkan mundurnya jadwal tanam pada musim tanam (MT) padi kedua.

Mengingat pola tanam padi di Kabupaten Sumenep sangat tergantung dari curah hujan yang ada, Penyuluh dan Petani setempat mengambil langkah dengan menerapkan inovasi persemaian kering rusunawa untuk mempercepat luas tambah tanam (LTT) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Hal ini dilakukan karena saat ini tidak seperti ditahun sebelumnya, pada musim tanam akhir tahun lalu intensitas curah hujan sangat kurang. Belum lagi wabah covid-19 yang belum kunjung berakhir namun aktifitas budidaya padi harus terus berjalan karena ketersediaan dan kebutuhan pangan harus dapat terpenuhi.

Dewo Ringgih penyuluh pertanian di Kecamatan Kalianget mengatakan biasanya petani melakukan musim tanam (MT) kedua pada bulan Maret, namun saat ini kondisi MT mengalami kemunduran tanam.

Untuk mensiasati hal tersebut, Dewo memberikan penyuluhan bagaimana menerapkan persemaian kering Rumah Susun Pengganti Lahan Sawah atau disebut juga Rusunawa, agar masa tanam dapat dipercepat.

Persemaian kering bisa dilakukan di pekarangan rumah para petani. Inovasi ini pertama kali diterapkan oleh Hasanudin Petani dari Poktan Sumber Tani Kecamatan Kalianget.

"Persemaian yang biasa dilakukan petani dilahan sawah minimal membutuhkan waktu kurang lebih 21 hari setelah sebar untuk bisa ditanam, jika persemaian kering dilakukan di pekarangan paling tidak bisa mempecepat masa tanam hingga 20 hari. Selain mempercepat masa tanam, keunggulan dari persemaian kering ini tidak membutuhkan biaya yang sangat banyak dibandingkan jika petani melakukan persemaian di sawah," jelas Dewo.

Lebih lanjut diterangkan Dewo, media yang digunakan untuk persemaian padi ini menggunakan tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 3:1. "Dengan komposisi tersebut persemaian tidak lagi membutuhkan tambahan pupuk kimia," terangnya.

Inovasi yang dilakukan ini mendapat respon dan antusias dari para petani lainya, selain mempecepat masa tanam, persemaian kering memudahkan petani untuk merawat bibit sehingga kualitas bibit akan jauh lebih bagus jika dibandingkan bibit dengan persemaian dilahan sawah.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menegaskan kita harus bekerja lebih keras, lebih terpadu dan lebih gotong royong agar kebutuhan pangan rakyat bisa terjamin.

"Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, kita harus hadapi dengan kerja keras dengan semangat pantang menyerah. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. Diharapkan kerja sama dengan berbagai pihak lebih intens agar semua dapat berjalan dengan baik," tegas Syahrul.

Sementara itu secara terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, juga mengatakan bahwa pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa, di mana petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak pernah berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” jelas Dedi.

TAGS : Percepatan Tanam Penyuluh Pertanian Petani Sumenep Inovasi Persemaian Dedi Nursyamsi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :