Selasa, 26/05/2020 07:36 WIB

SKM Masuk Bansos, Dokter Anak Khawatir SKM Rusak Gizi Anak-anak

Banyak pihak yang menyoroti isi paket sembako bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat yang isinya di antaranya ada mi instan dan susu kental manis

Ilustrasi susu kental manis

Jakarta, Jurnas.com – Banyak pihak yang menyoroti isi paket sembako bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat yang isinya di antaranya ada mi instan dan susu kental manis. Salah satu yang menyoroti hal itu adalah dokter spesialis anak Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS. Dia dengan tegas mengatakan bahwa susu kental manis itu tidak baik jika dikonsumsi anak-anak.

“Apalagi dalam kondisi sulit saat ini akibat pandemi Covid-19, sangat dikhawatirkan masyarakat yang menerima bansos itu akan memberikannya kepada anak-anak mereka yang masih kecil. Itu bisa membuat anak-anak itu gemuk tapi gizinya tidak ada,” ujarnya.

Dia mengutarakan bahwa susu kental manis (SKM) memiliki kandungan gizi yang lebih tepat untuk anak remaja dan dewasa. Kandungan gulanya yang terlalu tinggi, sehingga bisa berdampak buruk bagi balita apalagi bayi. Bahkan, dia menyarankan agar bagi anak usia 5 tahun ke atas, jangan jadikan susu kental manis ini sebagai konsumsi utama.

“Di sini orang tua dan keluarga harus menyadari bahwa kebutuhan anak itu berbeda sesuai tahapan usia. Organ tubuh bayi belum mampu mencerna nutrisi kompleks, termasuk balita belum bisa mencerna sebaik orang dewasa,” ucapnya.

Apalagi, kata Rachmat Sentika, yang paling dikhawatirkan saat ini adalah, anak menjadi penduduk yang paling rentan akibat terganggunya sistem kesehatan nasional karena pandemi wabah Covid-19. Kerentanan tersebut tergambar dari banyaknya program gizi yang terganggu atau ditangguhkan, seperti juga program masyarakat untuk deteksi dini dan perawatan anak-anak yang kekurangan gizi, terganggunya pemberian imunisasi anak.

“Hal ini bisa berdampak pada berjangkitnya penyakit yang sebenarnya sudah ada vaksinnya, seperti polio, campak, dan kolera. Selain itu juga meningkatnya potensi risiko penyakit dan terganggunya tumbuh kembang anak (temasuk bagi bayi baru lahir, anak-anak, remaja dan ibu hamil dan menyusui) yang terancam karena terganggunya pelaksanaan posyandu,” ujarnya.

Menurut Rachmat Sentika, gizi anak harus menjadi prioritas selama pandemi demi daya tahan tubuhnya. Kebutuhan gizi tumbuh kembang anak harus menjadi prioritas keluarga untuk dipenuhi. “Apa saja itu? Yaitu makanan bergizi, termasuk yang mengandung protein hewani, bukan mi instan dan susu kental manis,” katanya.

Kalau saja pemerintah tidak memperhatikan ini dalam masa Covid-19 saat ini, Tubagus mengatakan maka dampaknya bukan terasa saat ini tetapi dalam jangka panjang hidup sang anak. Menurutnya, keterbatasan situasi jangan dijadikan halangan. Berikan prioritas bagi anak.

“Kita harus sedikit berkreatifitas untuk membuat makanan yang begizi dengan segala keterbatasannya. Peran pemerintah sangat penting di sini, seluruh Bupati/Walikota harus menempatkan prioritas bantuan pangan/sembako untuk kebutuhan gizi anak di setiap rumah tangga. Kebutuhan gizi berimbang harus diukur dalam setiap paket bantuan yang diberikan,” ucapnya.

Jadi jelas, anak tidak boleh diberi susu kental manis karena kandungan guka sangat tinggi dan protrin rendah. “Saya sebagai dokter anak menyampaikan bahwa susu kental manis dilarang sebagai sumber nutrisi. Ini hanya digunakan sebagai penyedap untukk orang dewasa,” kata Rachmat Sentika.

TAGS : Susu Kental Manis Gizi Anak Bantuan Sosial




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :