Rabu, 20/01/2021 06:29 WIB

Bencana Kesehatan Intai Afghanistan di Tengah COVID-19

 Negeri Paman Sam menekan pemerintah Afghanistan untuk membebaskan ribuan militan dan tahanan pemerintah yang berisiko terjangkit virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut.

Foto ilustrasi pasien corona

Islamabad, Jurnas.com - wabah virus corona (COVID-19) kemungkinan akan menyebabkan bencana kesehatan di Afghanistan, yang masih terganggu perang, meskipun ada kesepakatan damai antara Taliban dan AS.

Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) John Sopko mengatakan dalam sebuah laporan kepada Kongres pada Kamis (30/4) bahwa Afghanistan akan menghadapi bencana kesehatan dalam beberapa bulan mendatang."

Afghanistan, kata Sopko akan menghadapi berbagai masalah, termasuk sistem pelayanan kesehatan yang lemah, malnutrisi yang meluas, perbatasan berpori, perpindahan internal besar-besaran, kedekatan dengan Iran, dan konflik yang sedang berlangsung.

Penyebaran virus corona baru, yang pertama kali muncul di Cina akhir tahun lalu, dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, kini telah berdampak signifikan terhadap Afghanistan. "Naiknya harga pangan di negara miskin itu kemungkinan akan memperburuk krisis," kata Sopko.

Negara ini sejauh ini mengkonfirmasi hampir 2.200 kasus infeksi dan 64 kematian.

Sementara itu, Negeri Paman Sam menekan pemerintah Afghanistan untuk membebaskan ribuan militan dan tahanan pemerintah yang berisiko terjangkit virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut.

Di bawah kesepakatan, disepakati antara Taliban dan Washington, kelompok militan setuju  menghentikan serangan mereka sebagai imbalan atas penarikan pasukannya dari Afghanistan secara bertahap dan pertukaran tahanan dengan pemerintah Afghanistan.

Pemerintah Afghanistan, yang dikeluarkan dari perundingan dan dengan demikian bukan merupakan penandatangan perjanjian tersebut, diharuskan untuk membebaskan hingga 5.000 tahanan Taliban.

Para militan diwajibkan untuk membebaskan 1.000 tawanan pro-pemerintah sebagai imbalan.

Akan tetapi, Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA), mengatakan dalam sebuah laporan awal pekan ini bahwa orang-orang Afghanistan telah menikmati masa yang relatif tenang sebelum perjanjian itu ditandatangani, tetapi konflik kembali berlanjut tepat setelah perjanjian damai.

Di bawah kesepakatan itu, ribuan tentara AS juga dijadwalkan meninggalkan Afghanistan dalam beberapa bulan mendatang. Tetapi prosedur karantina mempersulit rencana penarikan.

Pasukan Afghanistan dilarang memasuki Afghanistan dan meninggalkan negara itu, karena COVID-19.

Washington dipaksa berdasarkan kesepakatan untuk menarik pasukan Amerika dan pasukan asing dari Afghanistan pada Juli tahun depan, asalkan para militan memulai pembicaraan dengan Kabul dan mematuhi jaminan keamanan lainnya.

Sekitar 14.000 tentara AS dan sekitar 17.000 tentara dari sekutu NATO dan negara-negara mitra tetap berada di Afghanistan bertahun-tahun setelah invasi negara yang menggulingkan rezim Taliban pada 2001. (Press TV)

TAGS : Virus Corona Bencana Kesehatan Amerika Serikat Afghanistan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :