Senin, 01/03/2021 13:50 WIB

Said Didu: Harga BBM Masih Mahal, Pemerintah dan Pertamina Peras Rakyat?

Mantan Sekretaris BUMN, Said Didu

Jakarta, Jurnas.com - Harga minyak mentah dunia sudah turun drastis hingga ke angka terendah sepanjang sejarah bersamaan dengan merebaknya virus Corona. Imbasnya, Harga BBM di seluruh dunia sudah turun lebih dari 50 persen.

"Tapi harga BBM di Indonesia tidak mengalami penurunan sedikitpun," kata Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu melalui keterangannya, Selasa (21/04/2020).

Menurut Said Didu, setelah ditelusuri penyebab tidak turunnya harga BBM di Indonesia adalah keluarnya Keputusan Menteri ESDM No 62K/MEM/2020 tanggal 20 Februari 2020 yang intinya bahwa harga BBM di Indonesia didasarkan pada harga rata-rata produk kilang minyak di Singapura (MOPS - Mean Oil Platts Singapore) dan hanya dapat ditinjau setiap 2 bulan, yaitu setiap tanggal 24 pada bulan genap.

Dengan Kepmen tersebut maka harga BBM di Indonesia tidak lagi terkait langsung dengan penurunan harga minyak mentah dunia,

"Tetapi tergantung berapa harga minyak hasil kilang Singapura," ujar dia.

Dalam Keputusan Menteri tersebut, kata Said Didu terdapat beberapa keanehan, seperti diterbitkan saat harga minyak mentah dunia mulai turun.

"(Kemudian) Peninjauan harga BBM hanya bisa dilakukan setiap 2 bulan dan Menggunakan standar harga produk kilang Singapura (MOPS) - bukan harga dasar," ujar dia.

Sebagai informasi bahwa penggunaan standar harga MOPS sudah tak dipakai lagi bersamaan dengan pembubaran Petral tahun 2015 dan harga BBM sejak 2015 didasarkan pada harga dasar yang dihitung berdasarkan harga minyak mentah + biaya pengolahan + biaya lainnya + marjin.

Penggunaan standar harga MOPS diduga sebagai cara mafia minyak mengeruk keuntungan dari penjualan BBM ke Indonesia.

Dengan menggunakan standar harga singapura (MOPS), Said Didu menduga akan terjadi "pengaturan" harga antara pemilik kilang di Singapura bersama mafia migas. Sebab, berapapun harganya akan dibeli oleh Pertamina akibat aturan tersebut.

Masih kata Said Didu, saat konsumsi normal, Indonesia mengimpor BBM sekitar 700 - 800 ribu barrel per hari dan itu merupakan jumlah yang sangat besar.

Said Didu menduga, harga BBM di Indonesia sangat tergantung hasil "kesepakatan" pemilik minyak di Singapura dengan mafia migas dan Pertamina.

"Ini terbukti bahwa walaupun harga BBM diseluruh dunia sudah turun sangat drastis tapi harga BBM di Indonesia tidak mengalami penurunan," ucapnya

Selain itu, dengan ketentuan sesuai dengan keputusan menteri ESDM tersebut bahwa harga BBM baru bisa disesuaikan setiap 2 bulan maka sejak 24 Februari 2020, pertamina bersama pemilik minyak dari kilang Singapura dan (diduga) mafia minyak sudah menikmati keuntungan sangat besar dari memeras rakyat Indonesia di tengah pandemi corona.

"Agar menjadi fair, terjadi persaingan bebas maka sebaiknya penentuan harga BBM di Indonesia kembali menggunakan harga dasar yg mengikuti harga minyak mentah dunia dan diubah jika terjadi kenaikan atau penurunan minyak dunia sebesar 10 persen," ujar dia.

TAGS : Said Didu BBM




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :