Sabtu, 16/01/2021 10:00 WIB

China Desak Bank Dunia Tangguhkan Utang Negara Miskin

China mendesak Bank Dunia untuk menangguhkan pembayaran utang bagi negara miskin, menyusul pandemi virus corona baru (Covid-19) di seluruh dunia.

The World Bank (Bank Dunia)

Beijing, Jurnas.com - China mendesak Bank Dunia untuk menangguhkan pembayaran utang bagi negara miskin, menyusul pandemi virus corona baru (Covid-19) di seluruh dunia.

Menteri Keuangan Tiongkok Liu Kun dalam sebuah pernyataan mengatakan kepada Komite Pembangunan Bank Dunia, semua pihak harus mengambil bagian dalam aksi bersama yang disepakati oleh Kelompok 20 negara (G-20), untuk mengatasi kerentanan utang di tengah pandemi, termasuk kreditor bilateral komersial, multilateral, dan resmi.

Liu mengatakan, penangguhan utang oleh Asosiasi Pembangunan Internasional, yang merupakan kelompok Bank Dunia, akan menjadi net present value (NPV) netral, dan tidak akan merusak peringkat kreditnya.

"Jika Kelompok Bank Dunia gagal untuk berpartisipasi dalam tindakan kolektif untuk menangguhkan pembayaran layanan utang, perannya sebagai pemimpin global dalam pengembangan multilateral akan sangat melemah, dan efektivitas prakarsa ini akan dirusak," kata Liu dikutip dari Reuters pada Jumat (17/4).

Pada Rabu lalu, negara-negara anggota G20 sepakat untuk menangguhkan pembayaran layanan utang resmi bilateral untuk negara-negara termiskin di dunia pada akhir tahun ini.

Diharapkan dengan langkah ini, akan ada lebih dari US$20 miliar bagi negara-negara termiskin untuk dihabiskan memerangi wabah virus corona.

"Sebagai kreditor bilateral yang bertanggung jawab, China akan secara aktif terlibat dalam konsultasi bilateral dengan negara-negara peminjam untuk memberlakukan pengaturan penangguhan pembayaran layanan utang yang dicapai oleh G20 melalui konsensus," ujar Liu.

Sementara itu, Presiden Bank Dunia David Malpass, mengatakan bahwa utang yang ditanggung oleh bank pembangunan multilateral mengharuskan mereka untuk mempertahankan kelayakan kredit.

"Menunda pembayaran ke MDB, jika tidak sepenuhnya dikompensasi oleh kontribusi pemegang saham baru, akan berisiko membahayakan orang miskin baik dalam jangka pendek, dengan mengurangi kemampuan kami untuk memberikan bantuan beban depan, dan dalam jangka panjang, dengan mengurangi meningkatkan kapasitas," terang Malpass.

TAGS : Bank Dunia Penangguhan Utang China




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :