Minggu, 09/08/2020 12:15 WIB

Petani di Kalteng Optimalkan Lahan Rawa Bukaan Baru dengan Inovasi

Luas baku lahan Kabupaten Pulang Pisau mencapai 35.441 hektare, yang didominasi oleh lahan rawa pasang surut dan lahan kering.

Pemandangan hambaran lahan rawa yang sudah ditanami padi (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Lahan rawa merupakan salah satu jenis lahan yang dinilai tidak sesuai untuk bercocok tanam. Namun, kini dengan sentuhan teknologi, lahan rawa berpotensi untuk menjadi salah satu sumber penyedia pangan.

Kementerian Pertanian (Kementan) mengintegrasikan berbagai inovasi teknologi dalam mengoptimalisasi lahan rawa yang diharapkan dapat menjadi kunci keberhasilan pertanian dari sisi produksi.

Dalam beberapa kesempatan, Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Jufry mengatakan, Kementan telah mempersiapkan lahan rawa sebagai tulang punggung pertanian di masa depan.

Menurutnya, lahan rawa menjadi tumpuan untuk mendongkrak produksi pertanian tanaman pangan terutama padi, Penerapan teknologi yang tepat, akan meningkatkan produktivitas petani secara signifikan.

Salah satu wilayah di Kalimantan Tengah yang memiliki potensi pertanian lahan rawa ialah kabupaten Pulang Pisau. Kabupaten Pulang Pisau merupakan kabupaten kedua setelah Kabupaten Kapuas, sebagai penyedia pangan utama Kalimantan Tengah, sekaligus sebagai Kawasan Nasional Tanaman Pangan.

Luas baku lahan Kabupaten Pulang Pisau mencapai 35.441 hektare, yang didominasi oleh lahan rawa pasang surut dan lahan kering.

Dari delapan kecamatan yang terdapat di wilayah ini, baru dua kecamatan yang menjadi andalan utama pengembangan tanaman pangan khususnya padi, dengan indek pertanaman (IP) dari sekali hingga lebih dari sekali setahun, yakni kecamatan Pandih Batu dengan luas baku sawah mencapai 13.445 hektere dan kecamatan Maliku seluas 5.594 hektare.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah turut andil dengan melaksanakan penelitian dan pengkajian serta mengenalkan perbaikan dan pengelolaan lahan sulfat masam yang banyak terdapat di wilayah ini dengan komponen utama pemberian mineral organik atau dolomit dan pupuk kandang.

Inovasi lain yang dikenalkan ialah Pengelolaan Tanaman dan Lahan Terpadu (PTT) spesifik lahan rawa, baik penggunaan varietas unggul bermutu, cara tanaman jajar legowo, pemupukan spesifik lokasi dan pengendalai Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang ramah lingkungan. Tingkat produktivitas padi unggul dari kajian awal ini adalah 4,8 ton per hektare untuk varietas Inpari 42 dan 4,5 ton per hektare untuk Inpari 30.

Kepala BPTP Kalteng, Syamsuddin saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (16/4) menyatakan bahwa teknologi yang telah diterapkan menunjukkan peningkatan hasil panen padi sekitar 49% dari musim tanam sebelumnya.

"Hal ini sekaligus menunjukkan adanya respon petani terhadap beberapa inovasi yang dikenalkan, khususnya komponen perbaikan lahan dengan pupuk kandang, penggunaan varietas unggul dan cara tanam jajar legowo," ujanya.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian, Harjanti, menjelaskan Desa Mulya Sari merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Pandih Batu dan hanya dipisahkan oleh sungai dengan desa Belanti Siam, Gadabung, Tahai dan Garantung, yang menjadi lumbung pangan Pulang Pisau. Desa ini memiliki pola tanam padi lebih dari sekali setahun.

Namun demikian desa Mulya Sari memiliki lahan yang berbeda dengan desa lainnya. Selain didominasi oleh lahan pasang surut dengan tipe luapan yang tidak tergenang, namun kedalaman air tanahnya kurang dari 50 cm dari permukaan tanah, tanah di wilayah tersebut juga tergolong bersifat sulfat masam aktual dengan kandungan besi tinggi, pH tanah dan air yang sangat rendah (pH 4,2) atau asam.

Kebun sawit dan semak yang mengitari desa turut juga dinilai mempengaruhi tidak optimalnya lahan di wilayah ini. Hal ini akibat saluran air yang membawa lapisan pirit yang sebagian diantaranya berasal dari pencucian di wilayah perkebunan. Demikian juga dengan pola tanam yang dilakukan petani yang berpola lokal, yaitu hanya menanam padi sekali setahun dengan cara ditugal.

Melalui program Optimalisasi Lahan Rawa atau SERASI (selamatkan rawa sejahterakan petani), Kementan 2019 sudah melakukan optimasi lahan berupa perbaikan tata air mikro. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pulang Pisau dilakukan juga telah pemeliharaan saluran sekunder.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau Ir. Slamet Untung Rianto,MM mengatakan, pada 2016 cetak sawah baru di kabupaten Pulang Pisau mencapai 4.235 hektare, dan sekitar 430 ha diantaranya terdapat di desa Mulya Sari.

Kegiatan perbaikan usaha pertanian yang dilakukan oleh BPTP Kalteng mewujudkan desa Mulya Sari sebagai kawasan pertanian yang berbasis inovasi. "Perwujudan kawasan desa pertanian tersebut sangat diapreasi dan disyukuri oleh pihak Pemerintah Daerah," Ujarnya.

Menurut Slamet, mengawali musim tanam April-September 2020, petani kembali menanam padi unggul berlabel dengan varietas yang mereka pilih Inpari 42. Cara tanam jajar legowo mulai mereka aplikasikan secara mandiri sebagai pengganti cara tanam tugal.

"Peran Peneliti, penyuluh (PPL), tenaga teknis dari IP2TP Unit Tatas milik BPTP Kalteng secara rutin bersama mendampingi implementasi teknologi di lapangan sangat membantu peningkatan produksi," ungkapnya.

Petani dan aparat desa memberikan respon yang sangat baik dengan adanya kajian yang dilaksanakan secara terpadu bersama Dinas Petanian dan PU kab. Pulang Pisau.

"Kami berharap agar desa Mulya Sari bisa seperti desa-desa lainnya di kecamatan Pandih Batu, yang terbukti mampu mengoptimalkan lahannya untuk usahatani padi yang dapat panen lebih dari sekali setahun," imbuhnya..

TAGS : Lahan Rawa Kalimantan Tengah




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :