Jum'at, 05/03/2021 02:15 WIB

Miniatur Pengolahan lahan Kering Masam di Kebun Percobaan Taman Bogo

Dikatakan spesial karena merupakan miniatur representatif lahan kering masam di Indonesia.

Petani tampak sedang melakukan pemupukan di areal persawahan. (Foto: Humas Kementan)

Jakarta, Jurnas.com - Kebun Percobaan (KP) Taman Bogo, Lampung Timur, merupakan salah satu aset spesial yang dimiliki Balitbangtan. Kebun percobaan yang bernaung di bawah Balai Penelitian Tanah (Balittanah) ini dikatakan spesial karena merupakan miniatur representatif lahan kering masam di Indonesia.

Tanah kering masam di Indonesia dicirikan dengan pH rendah atau pH tanah kurang dari 5,5. Rendahnya pH tanah ini seringkali menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas tanaman karena tidak tersedianya unsur hara yang diperlukan tanaman.

Penciri utama adalah tingginya tingkat kemasaman tanah. Hal ini mengakibatkan tingginya kandungan besi, aluminum dan mangan sehingga ketersediaan unsur hara terutama fosfor dan kalium menjadi rendah yang juga diikuti dengan rendahnya nilai kejenuhan basa. Kondisi ini akan menghambat pertumbuhan tanaman.

Namun kondisi tersebut masih dapat diberikan perlakuan sehingga petani dapat memanfaatkan lahan kering masam yang tersebar luas di Indonesia. Balitbangtan sudah menghasilkan beberapa inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering masam dan telah diuji di KP Taman Bogo ini.

Inovasi teknologi yang dapat diterapkan pertama adalah pengapuran baik menggunakan dolomit ataupun kapur pertanian dengan tujuan untuk meningkatkan pH tanah.

Dengan peningkatan pH, maka unsur hara fosfor dan kalium yang semula tidak tersedia karena terikat oleh aluminum dan besi akan menjadi tersedia. Selanjutnya diikuti dengan aplikasi bahan organik yang berperan dalam meningkatkan kualitas sifat fisik, kimia dan biologi tanah..

Teknologi lain dalam pengolahan lahan kering masam adalah aplikasi fosfat alam (rock phosphate), aplikasi bahan organik dan amelioran (bahan peningkat kesuburan tanah), serta pertanaman dengan sistem Alley Cropping atau sistem pertanaman lorong dengan pemupukan berimbang. Ketiganya telah teruji dapat mengatasi kendala kesuburan tanah di lahan kering masam dan terbukti mampu meningkatkan produktifitas tanaman.

Buktinya dapat dilihat dari hasil penelitian dengan aplikasi rock phosphat sebanyak 1 ton per hahektare yang dilengkapi paket 1 ton per hektare dolomit serta pemberian bahan organik minimal 2 ton per hektare pada budidaya jagung dengan pola tanam zig zag dapat menghasilkan produksi tertinggi pipilan basah 13 ton per hektare atau menghasilkan pipilan kering 10 ton per hektare.

Secara rata-rata, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar 10 ton perhektare pipilan basah atau pipilan kering 8,2 ton per hektare

Sistem Alley Croping atau pertanaman lorong juga salah satu inovasi teknologi yang dapat diterapkan di lahan kering masam. Penelitian yang dilaksanakan di KP Taman Bogo, sistem alley cropping dengan tanaman lorong Flemingia congesta (hahapaan/otok-otok kebo), produksi padi gogo mencapai 4,5 ton per hektare GKP sedangkan yang menggunakan pertanaman biasa hanya 2,5 ton per hektare.

Selanjutnya, alley cropping pada tanaman jagung dapat menghasilkan produksi pipilan kering 6,6 ton per hektare, dan pertanaman biasa hanya mencapai 3 ton per hektare.

Hal ini menunjukkan bahwa dengan penerapan inovasi teknologi dan pengelolaan lahan yang tepat disertai dengan pemupukan yang berimbang, produktivitas tanaman dapat ditingkatkan walau dibudidayakan di lahan kering masam.

TAGS : Kebun Percobaan Taman Bogo




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :