Senin, 21/09/2020 01:04 WIB

Petani Pandeglang Sukses Panen Perdana Padi Gogo di Areal Baru

Kelompok Tani Haur Tutul yang berlokasi di Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang nyatanya mampu menghasilkan padi gogo dengan produktivitas mencapai 7.3 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).

Kelompok Tani Haur Tutul yang berlokasi di Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang yang mampu menghasilkan padi gogo engan produktivitas mencapai 7.3 ton per ha GKP. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Produksi padi gogo atau padi ladang identik dengan produksi yang rendah, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan padi sawah. Namun tidak demikian dengan hasil panen para petani di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kelompok Tani Haur Tutul yang berlokasi di Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang nyatanya mampu menghasilkan padi gogo dengan produktivitas mencapai 7.3 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).

Pada Rabu (8/4), aktivitas para petani di Desa Sukasari bergeliat penuh semangat dengan senyum gembira yang terpancar. Pasalnya, hari itu adalah hari panen perdana padi gogo yang mereka tanam sejak 4 bulan yang lalu.

Demfarm budidaya padi gogo yang diprakarsai Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, merubah lahan yang semula tidak produktif menjadi areal sentra produksi padi gogo dengan tingkat produktivitas tinggi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, H. Budi S. Januardi menceritakan, luas demfarm ini awalnya hanya 9 hektere, namun secara swadaya para petani juga ikut menanam padi gogo seluas 4 hektare, hingga total areal yang dipanen hari ini seluas 13 hektare

Areal ini, lanjut Budi merupakan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) yang baru pertama kali digunakan untuk padi gogo.

"Wilayah ini (Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Red) punya banyak kelebihan, sumberdaya alam yang indah dan potesial, serta kekuatan sosial masyarakatnya, manfaatkan potensi ini untuk kemajuan pertanian," kata Budi.

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga mengingatkan pentingnya physical distancing, rajin mencuci tangan dengan sabun serta menggunakan masker dalam beraktivitas sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Sementara itu, penelti dari BPTP Banten, Andy Saryoko mengatakan, produksi tinggi yang mencapai 7.3 ton per hektare ini dihasilkan dengan mengintegrasikan tiga komponen, yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan teknologi budidaya.

Andy menjelaskan, komponen teknologi budidaya padi gogo yang diterapkan pada demfarm ini, antara lain pengolahan tanah sempurna dan penambahan ameliorant berupa kapur dan bahan pupuk kandang.

"Perlakuan benih dan penggunaan pupuk hayati Agrimeth dan penggunaan benih bermutu dan varietas unggul (Inpago 12, Inpago 10 dan Inpago 8) juga sangat penting," ujar Andy.

Selanjutnya, pengaturan populasi tanaman dengan jajar legowo 2:1 25 x 12.5 x 50 cm dan pemupukan berimbang berdasarkan status hara tanah dengan cara, waktu dan dosis yang tepat.

"Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, dan panen dan penanganan pasca panen yang tepat," sambungnya.

Ia juga menyampaikan bahwa bahwa varietas yang adaptif di lokasi ini adalah Inpago 12 dilihat dari produktivitas yang tinggi dan ketahanannya terhadap penyakit blas.

TAGS : Padi Gogo Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kabupaten Pandeglang




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :