Kamis, 28/05/2020 07:57 WIB

Impor Bawang Putih dari China Belum Bisa Tekan Harga Dalam Negeri

Bawang putih yang diekspor ke Indonesia saat ini berasal dari hasil panen pada Mei-Juni tahun 2019 yang disimpan dalam cold storage.

Bawang putih (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo) "kurang yakin" kebijakan pembebasan impor komoditas bawang putih Kementerian Perdagangan (Kemendag) mampu menekan gejolak harga dalam negeri.

Ketidakyakinan itu berasal dari kenaikan harga bawang putih di Negeri Tirai Bambu yang juga mengalami kelangkaan karena belum memasuki musim panen.

Ketua Pusbarindo, Valentino mengatakan, bawang putih yang diekspor ke Indonesia saat ini berasal dari hasil panen pada Mei-Juni tahun 2019 yang disimpan dalam cold storage.

"Budidaya bawang putih di China adalah delapan bulan masa tanamnya, dan hanya sekali setahun panen. Kalau di Indonesia empat bulan sudah panen. Di China musim tanamnya sekitar akhir September, awal Oktober dan panen pada Mei-Juni 2020," ujarnya.

"Artinya persediaan bawang putih konsumsi di China untuk diekspor saat ini adalah berasal dari panen tahun lalu," sambungnya.

Pertimbangan lainnya, posisi nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar saat ini, harga beli bawang putih dari China sekitar Rp21,45 juta per ton. Artinya, harga beli cukup tinggi, yaitu sekitar Rp21.450 per kg. Harga tersebut belum termasuk biaya pengiriman, dan lain-lain.

Selain itu, saat pelaku usaha bawang putih Indonesia berbondong-bondong mengimpor dari China, permintaan bawang putih naik dan supply penyimpanan juga tidak banyak. Akibatnya hargapun naik, yaitu sekitar 18%, dari US$ 1.100 per ton, menjadi US$ 1.300 per ton.

Saat ini, kata Valentino gejolak harga bawang di dalam negeri masih berada dikisaran Rp45,000 per kg. Ini akibat pasokan stok bawang putih yang sudah diorder importir belum sepenuhnya masuk ke market.

"Harapan kami disaat rakyat sedang susah karena wabah corona seperti saat ini, kita berharap gejolak harga tidak terjadi walaupun di sisi importir berat. Karena harga di China naik, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp 16.500," katanya.

Awal pekan ini, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk bawang putih sebanyak 450.000 ton untuk kebutuhan 10 - 11 bulan ke depan sudah mulai masuk di Indonesia.

Komoditas bawang putih impor ini sudah datang ke tiga pelabuhan besar, yakni Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Pelabuhan Belawan serta via Batam sejak 11 Maret lalu. Di Surabaya sendiri totoal yang sudah masuk sekitar  7.700 ton.

"Hari ini di Tanjung Perak, Surabaya kedatangan 1.500 ton bawang putih impor dari China. Kedatangan bawang putih ini diharapkan akan menurunkan harga bawang putih dari 30.000 per kg menjadi 20.000 hingga 25.000 per kg. Dan saat ini bawang putih dari China ini sudah masuk ke pasar-pasar di Tanah Air," jelas Prihasto.

Prihasto mengatakan, setiap pekan akan ada 100 -150 kontainer yang akan mendarat di empat pelabuhan di Indonesia. Sehingga masyarakat diminta untuk tidak melakukan panic buying, karena pemerintah tetap menjaga pasokan bahan baku.

"Kedatangan ini akan berlanjut terus, sudah ada jadwalnya sampai akhir tahun. Minggu depan juga akan ada yang masuk lagi. Karena kami sudah menerbitkan RIPH 450.000 ton bawang putih untuk 54 importir," tegasnya.

TAGS : Bawang Putih Impor Harga Bawang Putih




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :