Sabtu, 04/07/2020 18:18 WIB

SKPT Mimika Berhasil Genjot Ekonomi Perikanan

Bahkan, SKPT ini telah menjadi daya tarik bagi kapal-kapal ikan berukuran besar untuk singgah dan melakukan aktivitas bongkat muat hasil perikanan.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Agus Suherman (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Kabupaten Mimika, Papua, yang berlokasi di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paumako, dan dibangun sejak 2016 terus menunjukan perkembangan dan dampak positif terhadap ekonomi perikanan masyarakat setempat.

Bahkan, SKPT ini telah menjadi daya tarik bagi kapal-kapal ikan berukuran besar untuk singgah dan melakukan aktivitas bongkat muat hasil perikanan.

"Hadirnya SKPT Mimika ini telah memberikan dampak positif dan memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi kegiatan ekonomi di sekitar pelabuhan," kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Agus Suherman pada Selasa (4/2) di Jakarta.

Selanjutnya, Suherman menambahkan perkembangan yang menarik bahwa dari SKPT Mimika ini sudah berhasil melakukan ekspor produk kepiting ke beberapa negara, yaitu Malaysia dan Singapura.

"Pada bulan Desember 2019 telah diekspor sebanyak 476 ekor ke Singapura senilai Rp133,28 juta dan 120 ekor ke Malaysia dengan nilai Rp33,6 juta. Sementara, pada awal Januari 2020 juga telah di ekspor sebanyak 1.380 ekor kepiting hidup ke Malaysia dengan nilai Rp386,4 juta," papar Suherman.

Catatan produksi ikan selama periode 2016-2019 di SKPT Mimika menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mimika, volume produksi di SKPT Mimika pada 2016 hanya sebesar 4.907 ton, kemudian pada 2018 menjadi 20.587 ton, dan November 2019 produksinya mencapai 23.999 ton.

Sejauh ini, lanjut Suherman, KKP telah memberikan bantuan, antara lain berupa kapal penangkap ikan beserta alat tangkapnya, cool box, sarana pengolahan, chest freezer, ice flake machine, gudang beku kapasitas 100 dan 200 ton, kendaraan berpendingin, mobil crane, serta fasilitas tambat labuh kapal kecil.

"Dari laporan dan hasil pengamatan secara langsung, bantuan-bantuan yang kita berikan sudah termanfaatkan secara optimal," ujar dia.

Pemanfaatan bantuan oleh nelayan, seperti kapal dan alat penangkap ikan telah berkontribusi dalam menambah volume tangkapan sebesar 14,04 ton pada periode Desember 2018-Agustus 2019.

Lebih lanjut, bantuan tersebut mendorong peningkatan pendapatan rata-rata penerima bantuan sebesar Rp2 juta per bulan. Awalnya pada musim udang, nelayan hanya menerima pendapatan sekitar Rp2.5 juta - Rp3 juta, dan setelah menggunakan bantuan kapal dan alat penangkap ikan menjadi sekitar Rp4,5 juta - Rp5 juta per bulan.

Menurut Agus, keberadaan SKPT Mimika telah mampu mengintegrasikan proses bisnis kelautan dan perikanan berbasis masyarakat yang sudah mulai berjalan di PPI Pamaoko.

"Saat ini, sudah ada tiga pelaku usaha (offtaker) yang menampung hasil tangkapan nelayan yaitu Koperasi Perikanan Mbiti, UD. Arafura dan BUMN Perikanan PT. Perikanan Nusantara (Perinus). Untuk Koperasi Mbiti selain sebagai offtaker juga sudah menjual es hasil dari Ice Flake Machine. Koperasi ini juga secara kontinyu telah melakukan ekspor udang dari hasil tangkapan nelayan sekitar," terang dia.

"Ikan dari nelayan sudah bisa kita beli dengan harga yang lebih bagus. Contoh ikan Mackerel yang sebelumnya Rp5-6 ribu per kilo, sekarang mampu dibeli oleh BUMN perikanan Perinus dan Koperasi seharga Rp8-9 ribu," imbuh dia.

TAGS : Kementerian Kelautan dan Perikanan SKPT Mimika




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :