Minggu, 12/07/2020 02:48 WIB

Ini Hasil Penelitian WHO Soal Rokok Elektrik dan Konvensional

WHO mengeluarkan sebuah penelitian dampakn kesehatan pengguna rokok elektrik dan konvesional. Hasilnya?

Pengguna Vape meningkat di Indonesia. (Foto : Jurnas/Doknet Sindonews).

Jakarta, Jurnas.com- Penelitian  rokok elektrik yang sudah menjadi gaya hidup terurama prihal dampak kesehatannya dibandingkan rokok konvensional dilakukan oleh WHO. Dalam penelitiannya,  WHO mengakui bahwa produk rokok elektronik lebih tidak berbahaya dibanding rokok konvensional.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh perwakilan WHO sekaligus peneliti dari National Capacity-Tobacco Control Prevention of Noncommunicable Diseases, Dr. Ranti Fayokun. Dr. Fayokun menyampaikan penjelasannya pada sesi dengar pendapat yang diadakan oleh House of Representatives Filipina pada Desember 2019 lalu.

Pernyataan Dr. Fayokun juga didukung oleh hasil penelitian Public Health England, yang merupakan bagian dari Department of Health and SocialCare United Kingdom. Duncan Selbie selaku Chief Executive Public Health England menyatakan rokok elektronik 95% lebih tidak berbahaya bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa, serta berpotensi membantu perokok untuk berhenti.

Lebih lanjutnya, ia menyatakan bahwa memang vape tidak 100% aman, namun kebanyakan zat yang menyebabkan penyakit karena merokok tidak ditemukan pada vape, serta bahan kimia yang ada menimbulkan bahaya yang terbatas.

“APPNINDO menyambut baik hasil penelitian mengenai rokok elektrik. Pada kenyataannya, rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional karena risiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih rendah. Hal tersebut menjadikan rokok elektrik sebagai alternatif bagi rokok konvensional,” ujar Syaiful Hayat, Ketua Umum Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO).

“Kami terbuka untuk diskusi agar peraturan terkait rokok elektrik di Indonesia dapat menunjukkan dampak positif untuk produktivitas & kesehatan masyarakat,” sambung Syaiful Hayat.

Pernyataan dari Dr. Fayokun dinilai akan berpengaruh bagi pengguna vape dan rokok elektrik di Indonesia. Di Indonesia sendiri, hingga Desember 2019 pengguna vape di Indonesia mencapai satu juta orang.

Data tersebut diperoleh dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI). Pengguna vape di Indonesia berasal dari berbagai kalangan profesi, termasuk dokter dan ilmuwan. Berdasarkan berbagai penelitian, produk alternatif ini memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kanker, serangan jantung, diabetes dan lainnya.

TAGS : Rokok Eelektrik Rokok Konvensional Penelitian WHO




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :