Selasa, 25/02/2020 07:29 WIB

Gratis, Yulis Homma Ingin Ubah Nasib Melalui Petrotekno

Manfaatkan pendidikan gratis untuk merubah nasib, Yulius Homma mendaftar pendidikan di Petrotekno Papua Barat.

Yulianus Homna pemuda Subitu dari Teluk Bintuni berusaha merubah nasib. (Foto : Jurnas/Ist).

Jakarta, Jurnas.com- Yulianus Homma pemuda Subitu dari suku asli yang mendiami daerah Teluk Bintuni, Papua Barat sadar betul wilayahnya memiliki potensi industri minyak dan gas bumi yang sangat potensial dinikmati oleh masyarakat setempat.
Untuk merubah nasih dan mengembangkan wilayahnya, ia pun lagsung  mendaftar ke Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) atau yang biasa dikenal Petrotekno.

"Saya masuk Petrotekno untuk mengubah nasib. Petrotekno bagus dan sangat berguna untuk pemuda Bintuni khususnya untuk mencari kerja, industri minyak di sini berkembang pesat,” kata Yulianus Homna, Jumat (24/1).

Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) ini telah beroperasi sejak 2018. Lembaga pendidikan itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, bekerja sama dengan Petrotekno. Berdiri di atas lahan seluas 9.300 meter persegi di Distrik Bintuni Timur. Beberapa fasilitas yang ada di P2TIM-TB, yaitu gedung Cendrawasih untuk kantor dan administrasi, gedung Kasuari untuk tiga ruang kelas, gedung Mambruk untuk pelatihan praktik Confined Space dan tangki dan Rigging Shelter serta gedung bengkel praktikum utama Kakatua yang merupakan bengkel praktikum keahlian kelistrikan dan sistem instrumentasi, perpipaan, pengelasan, klinik dan dua ruang kelas.

Pusat pelatihan ini juga dilengkapi oleh asrama siswa. Setiap angkatan berjumlah 100 orang siswa pelatihan, yang akan menjalani pelatihan selama 3.5 bulan. 90 persen siswa pelatihan angkatan pertama merupakan putra daerah Kabupaten Teluk Bintuni.
Rizal Aris, Advisor utama P2TIM-TB mengatakan, keberadaan pusat pelatihan industri migas Teluk Bintuni ini sebenarnya diprioritaskan untuk anak-anak teluk. Terutama untuk Direct Affected Village, atau daerah yang terdampak langsung.

"Prioritasnya untuk tujuh suku, OAP, atau nusantara yang lahir di sini atau sudah tinggal di Bintuni minimal 10 tahun, Proses seleksi kita menggunakan standar sebagaimana yang disyaratkan oleh perusahaan pengguna tenaga kerja. Sehingga nanti lulusan dari sini otomatis terserap oleh pasar tenaga kerja," jelas  Rizal.

Lebih lanjut, Rizal mengatakan pendidikan di Petrotekno Teluk Bintuni gratis karena dibiayai oleh Pemda setempat. Oleh karenanya, proses penjaringan peserta didik pun berlangsung ketat.

"Sertifikasi nasional dan internasional yang diterima lulusan program vokasi menjadi item yang mengukuhkan posisi mereka sebagai tenaga kerja dengan hasil yang memuaskan bagi dunia industri Migas," ujar Rizal.

TAGS : Yulius Homma Pendidikan Petrotekno Papua Barat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :