Selasa, 25/02/2020 06:40 WIB

Ibu Harus Paham Gizi untuk Menyehatkan, Bukan Menggemukkan Anak

dari dulu, hingga saat ini persoalannya adalah ada faktor ketidaktahuan dari orang tua dalam menyiapkan gizi untuk anak, terutama untuk balita.

dr. Atikah M. Zaki, MARS yang juga Koordinator Bidang Kesehatan PP Aisyiyah dan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana

Jakarta, Jurnas.com - Penanganan gizi buruk menjadi target pemerintah di bidang kesehatan dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul.

Sesuai dengan amanat Presiden Jokowi dalam peringatan hari kesehatan nasional 2019 yang lalu, untuk mencapai target penurunan angka stunting menjadi 19 persen pada 2024, diperlukan fokus perhatian di bidang kesehatan pada ketercukupan gizi dan pencegahan penyakit.

Menyikapi target pemerintah tersebut, dr. Atikah M. Zaki, MARS yang juga Koordinator Bidang Kesehatan PP Aisyiyah dan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana mengatakan persoalan gizi anak erat kaitannya dengan peningkatan pengetahuan ibu.

Simak wawancara lengkapnya berikut ini:

Bagaimana Anda melihat persoalan gizi anak saat ini?

Dari dulu, hingga saat ini persoalannya adalah ada faktor ketidaktahuan dari orang tua dalam menyiapkan gizi untuk anak, terutama untuk  balita. Satu tahun pertama usia anak itu penting sekali. Nah, orang tua cenderung terburu-buru. Dari dulu buru-buru. Ingin segera memberi makanan padat untuk anak, ingin anaknya jadi gemuk, bahkan sampai ada yang melupakan ASI.

Jadi ibu-ibu tidak tahu kapan seharusnya boleh memberikan makanan padat atau MPASI untuk anak?

Ya, seperti itu. Dan juga tentang menu. Dulu, MPASI yang diberikan ibu menunya selalu nasi, hati, bayam – nasi, hati, bayam. Itu itu terus. Sehingga dulu saya, juga dokter-dokter puskesmas yang memberikan penyuluhan selalu membuatkan tabel harian, misalnya senin pakai bayam, selasa pakai wortel dan seterusnya.

Nah sekarang, ibu-ibu sudah mulai pintar, sudah tahu bahwa MPASI untuk anak harus variatif. Proteinnya harus dibagi, jangan hanya satu macam, bisa telur, hati, tahu dan tempe yang bagus sekali untuk anak, sehingga anak mengenal berbagai rasa. Jadi memang pengetahuan ibu harus ditingkatkan, ibu harus paham yang terpenting adalah  bagaimana mencukupi gizi anak, bukan menggemukkan anak.

Jadi dari dulu memang sudah terbentuk persepsi anak itu harus gemuk?

Iya. Apalagi dulu kita banyak disesatkan oleh iklan susu. Anak-anak dalam iklan susu digambarkan gemuk dan sehat,  jadi merangsang ibu-ibu  untuk meniru. Seperti yang kemarin ramai adalah susu kental manis.

Susu kental manis sebagian besarnya adalah gula. Tapi anak-anak, bahkan yang baru berusia 1 tahun minumannya sudah ditambah dengan susu kental manis, padahal itu bahaya sekali kaena lebih banyak gula. Jadi dengan pemberian susu kental manis maka si anak dibiasakan mengkonsumsi gula.  Memang menyenangkan anaknya jadi gemuk, tapi ini berbahaya. Kita lihat sekarang penderita diabetes itu, tidak hanya orang-orang tua, tapi juga diusia yang lebih muda.

Artinya memang informasi untuk ibu dulu bersumber dari TV?

Iya. Tapi semakin ke sini, saya bangga ibu-ibu semakin pintar. Dari faktor pendidikan yang semakin bagus, ibu-ibu juga semakin paham dengan gizi anak.

Tapi untuk kalangan menengah kebawah, hambatannya adalah biaya. Nah susu kental manis ini ada yang dijual dalam bentuk sachet, lebih terjangkau. Akhirnya diberikan untuk anak. Saya ada melihat, satu sachet itu digunakan separuhnya, lalu ditambahkan lagi dengan gula. Jadi sudah gula ditambahkan lagi dengan gula. Jadi inilah kenapa kita melihat edukasi untuk ibu itu penting.

Mengenai susu kental manis ini, ada yang beranggapan “dari dulu juga minum susu kental manis, sekarang baik-baik saja,” bagaimana tanggapan ibu?

Dulu kita sama-sama tidak tahu, bahwa kita dibohongi. Sekarang kita tahu dibohongi, jangan dilakukan lagi karena bahaya apabila dari kecil anak sudah dibiasakan konsumsi gula, akhirnya jadi diabetes.

Bagaimana sebaiknya mengedukasi masyarakat mengenai susu kental manis dan juga untuk produk pangan lainnya yang masih tinggi kandungan gula garam lemaknya?

Begini, pemerintah itu mengatur melalui regulasi. Susu kental manis pun sudah ada peraturannya dikeluarkan oleh BPOM. Itu sudah bagus. Untuk edukasi ke masyarakat, memang sebaiknya pemerintah bisa menayangkan materi edukasi yang mudah dipahami masyarakat, misalnya dalam bentuk video dan dengan bahasa yang sederhana.

Lalu peran masyarakat juga penting. Organisasi-organisasi masyarakat membantu edukasi, saya lihat seperti yang dilakukan PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU, menyampaikan dalam kelompok-kelompok pengajian itu saya rasa efektif sekali. Pendekatan dari ibu untuk ibu akan lebih efektif.

Selain mengeluarkan regulasi, apakah masih diperlukan langkah konkrit lainnya dari pemerintah?

Ya, kita butuh riset. Riset itu biayanya mahal. Disinilah peran pemerintah, kementerian pendidikan dan Kementerian Kesehatan harus turun tangan semua menyelamatkan generasi yang akan datang. Peran kita sebagai organisasi-organisasi masyarakat memberi masukan untuk pemerintah agar melakukan riset. Sehingga kedepannya, hal ini tidak lagi menjadi perdebatan.

TAGS : Gizi Anak Atikah M. Zaki




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :