Selasa, 31/03/2020 14:12 WIB

Mengenal Tardigrades, Beruang Air yang Tangguh Namun Tak Tahan Panas

Tardigrades, kadang-kadang disebut beruang air atau anak babi lumut, adalah invertebrata mikroskopis dengan tubuh berbentuk tong dan empat pasang kaki.

Tardigrades, salah satu hewan intervebrata atau hewan yang tak memiliki tulang belakang (foto:UPI)

Jakarta, Jurnas.com - Tardigrades dikenal karena ketahanannya yang luar biasa. Hewan kecil ini mampu bertahan dalam kondisi ekstrem, tetapi penelitian baru menunjukkan mereka tidak kebal terhadap efek pemanasan global.

Tardigrades, kadang-kadang disebut beruang air atau anak babi lumut, adalah invertebrata mikroskopis dengan tubuh berbentuk tong dan empat pasang kaki.

Hewan-hewan mikro ini ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk mikro-habitat laut, air tawar dan dan memakan sel-sel tumbuhan, ganggang dan invertebrata kecil lainnya.

Untuk mengukur dampak pemanasan global pada tardigrades, para ilmuwan mengekspos puluhan beruang air ke suhu yang meningkat di lab.

"Spesimen yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari talang atap rumah yang berlokasi di Nivå, Denmark," Ricardo Neves, peneliti postdoctoral di University of Copenhagen dilansir UPI, Rabu (15/01).

"Kami mengevaluasi efek paparan terhadap suhu tinggi pada tardigrades aktif dan kering, dan kami juga menyelidiki efek periode aklimasi singkat pada hewan aktif,” tambahnya.

Tes menunjukkan tardigrades yang tidak terbiasa dengan panas tidak dapat bertahan pada suhu di atas rata-rata 37,1 derajat Celcius (98,78 derajat Fahrenheit).

Untuk beruang air yang mengalami periode aklimasi pendek, suhu mematikan rata-rata sedikit lebih tinggi, 37,6 derajat Celcius (99,68 derajat Fahrenheit).

Tardigrades, di mana terdapat lebih dari 1.000 spesies yang diketahui, dapat bertahan hidup dalam kondisi yang lebih ekstrem ketika mereka dikeringkan - setelah mengeringkan tubuh mereka dan memperlambat metabolisme hingga berhenti sebagai bagian dari proses yang disebut cryptobiosis.

Spesimen yang dikeringkan tidak mencapai angka kematian 50 persen sampai termostat tetap pada 82,7 derajat Celcius (180,86 derajat Fahrenheit) selama satu jam. Ketika spesimen yang dikeringkan terkena panas selama 24 jam, suhu mematikan rata-rata adalah 63,1 derajat Celcius (145,58 derajat Fahrenheit).

Para ilmuwan sebelumnya telah mendokumentasikan kemampuan tardigrades untuk menahan panas tinggi dalam waktu singkat, tetapi penelitian sebelumnya belum melihat efek dari paparan yang lama atau mempelajari efek suhu tinggi pada spesimen kering.

Para ilmuwan mempublikasikan hasil percobaan mereka di jurnal Scientific Reports.

"Dari penelitian ini, kita dapat menyimpulkan bahwa tardigrade aktif rentan terhadap suhu tinggi, meskipun tampaknya makhluk ini akan dapat menyesuaikan diri dengan peningkatan suhu di habitat alami mereka," kata Neves.

"Tardigrades yang dikeringkan jauh lebih tangguh dan tahan suhu yang jauh lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh tardigrades aktif. Namun, waktu paparan jelas merupakan faktor pembatas yang membatasi toleransi mereka terhadap suhu tinggi.”

TAGS : Beruang Air Hasil Penelitian Hewan Invertebrata




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :