Rabu, 26/02/2020 02:08 WIB

Petrotekno Technical School Papua Barat Ubah Nasib Syahril

Pemuda Syahril Rafideso saat pulang ke kampung halaman di Pulau Babo.(Foto :Jurnas/ist).

Jakarta, Jurnas.com- Suasana sejuk nan indah di area Pelabuhan Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, sudah pasti akan menggoda setiap pengunjung. Termasuk seorang pemuda Syahril Rafideso yang pulang ke kampung halaman di Pulau Babo, sebuah distrik yang juga bagian dari Kabupaten Teluk Bintuni. Diketahui, dengan semangat ingin merubah nasib, Syahril yang sudah banyak mencicipi dunia pekerjaan akhirnya mencoba peruntungan dengan menempuh pendidikan di Petrotekno Technical School Bintuni (P2TIM).

“Saya sangat ingin mengubah nasib hidup saya lebih baik lagi sehingga saya putuskan untuk masuk ke Petrotekno Technical School," kata Syahril mengulang masa-masa itu.

Terletak di Km 4 Teluk Bintuni, sekolah Petrotekno Technical School memang punya arti sangat penting bagi seorang Syahril, bapak satu anak ini pun mengungkapkan dengan getir namun penuh semangat.

“Selama tiga bulan, saya digembleng oleh tenaga-tenaga terlatih dari P2TIM dengan pelatihan yang nyata seperti layaknya di dalam industri migas, mulai dari teknik scaffolding, welder, rigging (lifting), belajar Bahasa Inggris, juga belajar matematika, semuanya membuat saya pintar dan jadi paham seperti apa industri migas," tambah Syahril.

Syahril sendiri termasuk dalam angkatan pertama Petrotekno Bintuni yang hingga kini tercatat telah meluluskan sekitar 400 orang lulusan terbaik. Dalam catatan yang ada, sekolah Petrotekno Bintuni mayoritas berisikan anak-anak Papua, 70 persen di antaranya bahkan merupakan putra asli Bintuni yaitu Subitu atau dikenal juga sebagai Suku Bintuni Bersatu.

“Selebihnya yang bersekolah di Petrotekno adalah orang asli Papua, suku Nusantara dan suku Papua tapi tinggal di luar Bintuni," beber Sarwono Pratomo Satrio, Direktur Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Bintuni di Jakarta, baru-baru ini.

Para siswa yang rata-rata berusia antara lain 19 tahun hingga 35 tahun itu selama lebih dari 3 bulan memang `digembleng` dengan pelatihan dan pendidikan penuh disiplin dari para tenaga ahli yang disiapkan secara khusus oleh Petrotekno.

Para siswa yang masuk di P2TIM Teluk Bintuni dan dioperasikan oleh Petrotekno selain mendapatkan pelatihan dan akomodasi secara cuma-cuma, seluruh biaya hidup dan keperluannya ditangggung juga.

Menariknya, para siswa ini pun bila lulus berhak atas 18 sertifikat berstandar internasional, seperti ECITB dan BNSP. Sebuah pilihan menarik di tengah lebatnya hutan nun jauh dari hingar bingar kota.


TAGS : Petrotekno Technical School Syahril Rafideso Papua Barat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :