Rabu, 03/06/2020 06:09 WIB

Cerita Arvilla Delitriana Soal Kerumitan Jembatan Lengkung LRT

Selain harus melintas di atas jalan layang (flyover), jalan tol, dan jalan bawah tanah (underpass) yang bertumpuk di perempatan Kuningan, ahli teknik sipil asal Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga harus memeras otak untuk memastikan kemiringannya.

Arvilla Delitriana (Foto: BKKP Kemenristek)

Jakarta, Jurnas.com - Arvilla Delitriana, perancang desain jembatan lengkung panjang (long span) Light Rail Transit (LRT) menceritakan rumitnya proses pembuatan jembatan lengkung, yang melintas di atas perempatan Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain harus melintas di atas jalan layang (flyover), jalan tol, dan jalan bawah tanah (underpass) yang bertumpuk di perempatan Kuningan, ahli teknik sipil asal Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga harus memeras otak untuk memastikan kemiringannya.

"Kalau LRT tidak bisa terlalu naik atau terlau turun karena dia punya kemiringan yang per mil tidak persen lagi. Kemudian tidak boleh terlalu belok kanan yang paling penting kekakuannya," kata Delitriana atau yang akrab disapa Dina, pada Senin (6/1) di Jakarta.

Rel LRT yang berada di atas jembatan lengkung itu pula, lanjut Dina, tidak boleh fleksibel. Sebab ada ketentuan antara rel dan roda LRT tidak boleh sampai lepas.

"Ada ketentuan defleksi itu seberapa. Aturan-aturan itu yang beda sama kendaraan," jelas dia.

Secara pembiayaan (cost), Dina menyebut jembatan lengkung ini mengeluarkan biaya relatif lebih murah, dibandingkan bila developer harus membuat tiang pondasi di tengah flyover.

"Karena ada fondasi di bawah fly over sehingga harga fondasi dan struk dan sebagainya jadi lebih sulit itu menjadikan desain yang kami ajukan bisa lebih murah dan lebih optimum," kata Dina.

Sementara Menteri Riset danTeknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyebut desain Dina membuktikan bahwa Indonesia masih mampu melakukan inovasi di tengah urgensi pembangunan infrastruktur.

Dia mengatakan, bentangan LRT sepanjang 148 meter tersebut merupakan yang terpanjang di Indonesia, meski sempat diragukan oleh konsultan Jepang selaku supervisor proyek yang dipegang oleh PT Adhikarya ini.

Menteri Bambang menyampaikan, inovasi ini mengalahkan tiga metode konstruksi bentang panjang yang diusulkan oleh perancang dari Perancis. Ketiga metode itu dianggap sulit karena harus menambah tiang penyangga di tengah jembatan.

"Problem-nya adalah menjadi tidak murah ketika melihat kondisi lapangan. Jadi secara desain mungkin bisa lebih murah," tutur Menteri Bambang.

"Tapi melihat kondisi lapangan itu adalah perempatan yang selain jalan arterinya, Gatsu (Gatot Subroto), ada jalan tol layang, di samping ada fly over kedua sisi. Jadi artinya begitu rumit di situ dan lalu lintasnya ramai," tandas dia.

TAGS : Arvilla Delitriana Jembatan Lengkung LRT Long Span Menristek Bambang Brodjonegoro




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :