Rabu, 26/02/2020 02:33 WIB

Masyarakat Anggap SKM adalah Susu Masih Tinggi

sebanyak 37% responden beranggapan bahwa susu kental manis adalah susu, bukan topping

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dalam acara media gathering di Jakarta, Kamis (26/12).

Jakarta, Jurnas.com - Hasil survei yang dilakukan Yaici bersama Pengurus Pusat Aisyiah menemukan bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa susu kental manis (SKM) merupakan susu bukan topping.

Dalam survei yang dilakukan di beberapa wilayah Indonesia seperti Aceh, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara itu menemukan bahwa iklan di media televisi menyumbang persentase terbesar sebagai sumber informasi bahwa SKM adalah susu.

"Yaici bersama PP Aisyiyah melakukan survey di sejumlah kota di Indonesia dengan temuan bahwa sebagian besar persepsi masyarakat dan keputusan-keputusan orang tua memberi asupan gizi untuk anak akibat iklan produk pangan di televisi," kata Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dalam acara media gathering di Jakarta, Kamis (26/12).

Menurut Arif, sebanyak 37% responden beranggapan bahwa susu kental manis adalah susu, bukan topping, dan 73% responden mengetahui informasi susu kental manis sebagai susu dari iklan televisi.

"Betapa televisi menjadi konsumsi harian masyarakat yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi," tutur Arif.

Ia menambahkan, iklan sebagai promosi produk yang ditayangkan berulang yang akhirnya akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap produk yang diiklankan.

"Salah satu contohnya adalah susu kental manis, selama ini diiklankan sebagai susu, maka hingga hari ini masih ada masyarakat yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai susu, meskipun BPOM telah melarang," ujarnya.

Hasil penelitian di tiga provinsi, status gizi buruk 14,5 persen yang mengkonsumsi SKM lebih dari 1 kal/shari, gizi kurang 29,1 persen mengkumnsi SKM lebih dari 1 kali/hari.

Untuk mengurangi hal tersebut, lanjut Arif, Yaici bersama PP Aisyiah dan PP Muslimat NU melakukan sosialisasi tentang gizi sehat kepada masyarakat, khususnya kade kedua organisasi tersebut.

"Sepanjang tahun 2019 sebanyak 2.600 kader kedua organisasi telah mendapat edukasi mengenai asupan gizi anak serta cara bijak mengkonsumsi susu kental manis," tandas Arif.

Edukasi untuk kader tersebut dilakukan di 13 kota dari 8 propinsi, yaitu Bandung, Banten, Lombok, Bekasi, Makassar, Lebak, Serpong, Cirebon, Bantar Gebang, Batam, Padang, Bali dan Jambi.

"Diharapkan melalui kader-kader kedua organisasi ini, informasi mengenai gizi untuk anak dapat lebih efektif dan efisien sampai ke masyarakat, terutama ibu," katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa mengatakan, melalui program Gerakan Aisyiyah Sehat (GRASS) bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, kemauan dan kemampuan setiap individu dan kelompok masyarakat.

Menurutnya, salah satun program Grass adalah pencegahan stunting dan kesehatan ibu dan anak. Pasalnya, kesehatan keluarga harus dimulai dari ibu yang bijak memilih makanan.

"Ibu juga harus teredukasi tentang gizi agar tidak salah memberi asupan gizi, seperti susu kental manis yang seharusnya adalah topping makanan, jangan sampai diberikan sebagai minuman untuk anak-anak," katanya.

"Memberi SKM untuk anak sama dengan meracuni anak," tambahnya.

Untuk itu, lanjutnya, Aisyiyah mengimbau agar ibu sebagai pendidik utama di keluarga harus sehat dan juga cerdas. Ibu harus mampu memilah dan memilih dengan baik produk pangan yang banyak diiklankan di media massa.

"Tugas kita adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang sehat, kuat dan cerdas sehingga bonus demografi dimasa mendatang tidak menjadi beban bagi bangsa kita," tambahnya.

Senada dengan Chairunnisa, Ketua Bidang Kesehatan Pimpinan Pusat Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara, mengatakan PP Muslimat NU turut serta mengedukasi masyarakat mengenai gizi dan susu kental manis sebagai komitmen untuk menciptakan generasi emas 2045.

Menurutnya, penggunaan susu kental manis sebenarnya tidak untuk dikonsumsi sebagai minuman, terutama pada anak-anak, karena susu kental manis adalah toping atau penambah rasa pada makanan dan pencampur minuman.

"Sayangnya masih banyak orang tua yang memberikan susu kental manis kepada anak karena mereka belum teredukasi," tutup Erna.

 

TAGS : Susu Kental Manis Kesehatan Anak




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :