Rabu, 27/01/2021 11:48 WIB

Bamiyan dan Warisan Teror Soviet 40 Tahun Lalu

Tubuh Moujtaba hancur lebur, dan tewas seketika ketika kakinya menginjak bom ranjau yang dijatuhkan oleh Uni Soviet 40 tahun lalu di perbukitan provinsi Bamiyan, Afghanistan tengah.

Petugas menyisir bom di Perbukitan Bamiyan, Afganistan (Foto: AFP)

Kabul, Jurnas.com - Gholam Mahaiuddin menghela napas pelan saat memikirkan putranya yang berusia 14 tahun, Moujtaba, yang terbunuh pada musim semi tahun ini.

Tubuh Moujtaba hancur lebur, dan tewas seketika ketika kakinya menginjak ranjau darat yang dijatuhkan oleh Uni Soviet 40 tahun lalu di perbukitan provinsi Bamiyan, Afghanistan tengah.

"Kami tahu gunung itu berbahaya," kata Mahaiuddin, yang menemukan jasad putranya setelah sang anak tidak kunjung pulang ke rumah dikutip dari AFP pada Minggu (15/12).

"Kami sadar akan ranjau, tetapi kami tidak dapat menemukannya. Ranjau berada di bawah pasir," ujar dia.

40 tahun setelah Uni Soviet menginvasi Afghanistan, dan tiga dekade sejak konflik berakhir, warisan perang terus merenggut nyawa penduduk di seluruh negeri.

Moujtaba terbunuh bersama dengan dua temannya, yang masing-masing berusia 12 tahun dan 14 tahun pada 17 Mei 2019, ketika mereka pergi mencari buah beri di perbukitan Bamiyan.

Ketika tidak ada dari mereka yang kembali keesokan harinya, Mahaiuddin dan penduduk lain dari desanya yang kecil, bernama Ahangaran, mulai melakukan pencarian.

"Saya menemukan putra saya hanya dengan dada dan kepalanya yang tersisa," kenang Mahaiuddin.

Moujtaba dan teman-temannya telah terbunuh oleh apa yang dikenal sebagai submunisi AO-2.5 RTM. Bom curah itu digunakan oleh pasukan Soviet, yang menjatuhkannya seperti hujan mematikan di Afghanistan dalam invasi Desember 1979.

Mahaiuddin mengingat perang itu dengan baik. Dia dulunya terbiasa membawakan teh untuk para mujahidin perang yang bersembunyi di pegunungan, dan melancarkan serangan terhadap patroli Soviet.

Baru-baru ini, senjata serupa juga telah digunakan di Suriah, menurut laporan Human Rights Watch 2016.

"Itu yang paling berbahaya, sangat sensitif terhadap getaran," kata Bachir Ahmad, yang mengepalai tim penghapus ranjau dari Danish Demining Group (DDG).

TAGS : Uni Soviet Afganistan Ranjau Darat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :