Kamis, 09/04/2020 16:46 WIB

UN Dihapus, DPR ke Mendikbud: Nanti Tolak Ukurnya Apa?

Anggota Komisi X DPR RI Sudewo menyarankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim supaya tidak tergesa-gesa menghapus ujian nasional (UN).

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda dan Mendikbud Nadiem Makarim

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi X DPR RI Sudewo menyarankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim supaya tidak tergesa-gesa menghapus ujian nasional (UN).

Dia memandang selama ini UN berguna untuk menilai prestasi sekolah dan siswa. Adapun bila akhirnya dihapus, dia mempertanyakan bagaimana pemerintah akan mengukur mutu sekolah.

"Bagaimana Kemdikbud mengukur prestasi anak apakah meningkat dari tahun ke tahun? Ini nanti tolok ukurnya apa?" kata Sudewo dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI dengan Mendikbud di Nusantara I, Kompleks DPR/MPR pada Kamis (12/12).

Sudewo juga terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya terkait rencana Nadiem mengganti UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

Bagi dia, asesmen kompetensi sebagai pengganti UN nantinya tidak akan terlepas dari unsur subjektivitas.

"Kalau UN diubah jadi asesmen, sistem seleksi sekolah lanjutan nantinya berupa apa? Apa asesmen kompetensi juga? Apa yang dipakai Kemdikbud untuk mengukut bahwa asesmen kompetensi itu terhindar dari unsur subjektivitas?" imbuh Sudewo.

Menanggapi hal ini, Mendikbud menegaskan bahwa pihaknya tidak berencana menghapus UN sebagaimana pemberitaan yang beredar.

Pemerintah hanya akan mengganti format UN, yang sebelumnya berbasis hafalan mata pelajaran (mapel), menjadi asesmen yang mengacu pada indikator Programme for International Student Assessment (PISA), yakni literasi dan numerasi.

"Saya rasa bapak-bapak ibu-ibu yang punya anak atau mungkin dulu pernah melewati UN, pasti sudah mengerti bahwa karena kepadatan materi, karena ini berdasarkan mata pelajaran, sehingga itu ada tumpukan informasi yang harus dihafal untuk mendapatkan angka yang baik," jelas Nadiem.

"Tapi setelah selesai un-nya Apa yang terjadi, lupa ya. Karena itulah sifatnya menghafal itu memang seperti itu jadi working memory kita cuman sebentar mungkin selama beberapa minggu," imbuh dia.

Nadiem juga membenarkan bahwa Asesmen Kompetensi Minimum tidak akan terlepas dari faktor subjektivitas. Namun dia menyebut justru subjektivitas tetap diperlukan untuk melakukan penilaian yang lebih holistik.

"Penilaian yang tidak ada subjektivitasnya bukan penilaian dengan kualitas yang baik. Tapi penilaian dengan subjektivitas saja, itu berbahaya. Tidak ada penilaian holistik dan baik yang 100 persen objektif, ini realita yang ada, saya siap berdebat 100 persen," tandas Nadiem.

TAGS : UN Dihapus Ujian Nasional Mendikbud Nadiem Anwar Makarim




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :