Senin, 27/01/2020 12:19 WIB

Syahrul Dorong Sulbar Tak Numpang Lagi Ekspor Komoditas Pertanian

Komoditas unggulan ekspor dari Sulbar sendiri berasal dari Kabupaten Pasang Kayu, Mamuju Tengah dan Mamuju.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo ekspor komoditas pertanian Sulawesi Barat (Foto: Ist)

Mamuju, Jurnas.com - Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengajak semua pihak bekerjasama agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dapat mengekspor langsung berbagai produk termasuk komoditas pertanian secara langsung.

Imbauan itu disampaikan di sela ekspor produk turunan sawit (RBD Palm Olein) dan pisang kepok masing-masing untuk tujuan Cina dan Malaysia di halaman SMK Kakao Sulawesi Barat di Kecamatan Kalukku, KabupatwnMamuju, Sabtu (7/12).

"Terima kasih saya sudah diundang untuk hadir pada acara pelepasan ekspor di Sulbar. Saya bangga dengan petani, pelaku usaha agribisnis dan dinas terkait semua yang telah mampu ekspor. Ini membuktikan pesan Bapak Presiden untuk ekspor dan investasi telah sampai. Kita kawal dan tingkatkan terus," ujar Syahrul.

Berdasarkan data dari sistem automasi perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerja Karantina Pertanian Mamuju, komoditas unggulan ekspor dari Sulbar sendiri berasal dari Kabupaten Pasang Kayu, Mamuju Tengah dan Mamuju yang didominasi turunan olahan sawit berupa RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin dan Palm Kernel Oil dengan tujuan ekspornya ke Cina dan Jepang.

Syahrul mengatakan, dari data lalulintas yang ada, Provinsi Sulbar sendiri memiliki beberapa potensi komoditas unggulan lain yang selama ini hanya dilalulintaskan ke daerah lain yang kemudian untuk diekspor kembali.

Seperti rumput laut, yaitu sebanyak 105,6 ribu ton (potensi ekspor pada 2019) dengan tujuan ekspor ke China, Argentina, Australia, Jerman, Prancis, Belanda dll namun masih melalui Makassar.

Komoditas lainnya di antaranya kacang mede sebanyak 26 ribu ton dengan tujuan ekspor ke China, UEA, Belgia, Australia, Jerman, Belanda, Turki, sedangkan kakao biji yang mencapai 12,8 ribu ton diekspor dengan tujuan ke China, Jepang, Jerman, Belanda, Rusia dan Amerika.

Sarang burung walet juga memiliki potensi ekspor yaitu sebanyak 212,5 kg dengan tujuan pengiriman ke Hong kong, Malaysia, Singapore dan Taiwan.

Selain itu, komoditas pisang kepok dari petani di Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah juga ternyata memiliki potensi yang besar. Meskipun saat ini ekspornya masih melalui pelabuhan lain.

"Kita tidak boleh jalan masing-masing, harus sama-sama seirama agar tujuan mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan moderen bisa terwujud dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat," terangnya.

Ekspor sawit Sulbar mengalami kelesuan selama dua tahun karena diterpa isu negatif juga menjadi pembelajaran bersama.

"Dibandingkan tahun 2018, ekspor produk turunan sawit dari Sulbar telah meningkat tajam yaitu menjadi 17,8 ton dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 24 ribu ton," kata Syahrul.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menyatakan, untuk mengurangi hambatan dan kendala, Kementan juga melakukan kolaborasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan di daerah dan instansi terkait.

Sebagai contoh, diskusi Kelompok Terarah (FGD) dan memberikan akses peta potensi ekspor, Indonesia Maps of Agriculture Commodities Export (iMace) pada instansi terkait agar bisa membantu mengembangkan potensi komoditas ekspor yang berbasis kawasan.

Sekadar diketahui, Kementan sendiri menargetnya adanya peningkatan ekspor sebanyak tiga kali lipat selama kurun waktu empat tahun mendatang yang diluncurkan melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor atau disingkat GRATIEKS.

GRATIEKS dilakukan secara bertahap, terukur, terencana pada kurun waktu 4 tahun mendatang secara bersama-sama. Gerakan tersebut merupakan ajakan kepada seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian untuk bekerja dengan cara yang tidak biasa.

Beberpa kebijakan yang akan dijalankan untuk mewujudkan GRATIEKS tersebut di antaranya dengan membuka akses informasi terkait potensi komoditas ekspor di masing-masing daerah dan negara tujuan ekspor yang bisa diakses melalui aplikasi iMace

Selain itu, Kementan juga akan melakukan pendampingan baik dorongan melalui penyediaan benih yang berkualitas, pendampingan pemenuhan SPS (sanitary dan phytosanitary) sesuai persyaratan negara tujuan melalui program In Line Inspection, melakukan MoU dan protokol karantina dengan negara mitra untuk membuka akses pasar ekspor baru.

Selain itu, Kementan juga akan melakukan pelatihan teknis, bantuan KUR, menumbuhkan eksportir baru terutama dari kalangan millenial juga tentunya kerjasama dengan stake holder terkait agar akses dan transportasi juga tersedia.

TAGS : Syahrul Yasin Limpo Komoditas Sulawesi Barat Ali Jamil




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :