Kamis, 02/07/2020 15:37 WIB

Makin Banyak Perempuan Korea Enggan Menikah, Ini Sebabnya

Menurut laporan, semakin banyak perempuan Korea yang bersatu menolak budaya patriarki yang kaku dengan cara tidak menikah, punya anak, dan berhubungan seks.

Ilustrasi pernikahan (foto: UPI)

Seoul, Jurnas.com - Bonnie Lee tidak ragu mengatakan bahwa dia tidak tertarik mencari laki-laki sebagai pendamping hidupnya. Bagi perempuan 40 tahun asal Korea Selatan (Korsel) tersebut, bahagia tidak harus dengan menikah.

"Saya seorang perempuan yang lurus, yang tidak lagi tertarik memiliki hubungan dengan pria," Lee dikutip dari AFP pada Jumat (6/12).

Lee bukan satu-satunya. Menurut laporan, semakin banyak perempuan Korea yang bersatu menolak budaya patriarki yang kaku dengan cara tidak menikah, punya anak, dan berhubungan seks.

Bahkan muncul gerakan `4B` atau `Empat Nos`, yang memiliki doktrin tidak berkencan, tidak berhubungan seks, tidak menikah, dan tidak mengasuh anak.

"Saya selalu merasa bahwa sebagai seorang perempuan ada lebih banyak kerugian dari pada keuntungan jika saya menikah," tutur Lee.

Akibat penolakan terhadap budaya patriarki yang mengharuskan perempuan membesarkan anak dan merawat mertua, tingkat perkawinan di Negeri Gingseng itu juga makin menurun.

Terbukti, berdasarkan data resmi satu dekade lalu hampir 47 persen perempuan Korea belum menikah mengatakan bahwa pernikahan itu perlu.

Adapun tahun lalu, angka itu turun menjadi 22,4 persen. Sedangkan jumlah pasangan yang menikah merosot dari 434.900 pada 1996, menjadi 257.600 pada 2018.

"Dalam pernikahan, kehidupan dan pengalaman kerja Anda sebelumnya menjadi tidak penting," jelas Lee yang memiliki dua gelar master.

"Untuk alasan konyol, berpendidikan tinggi juga menjadi poin minus. Hal terpenting menjadi seorang istri ialah merawat suami dan mertua Anda," imbuh dia.

Bukan tanpa alasan Lee memiliki pola pikir semacam ini. Dia menyaksikan rekan-rekannya mendapatkan hambatan di tempat kerja, setelah menikah dan memiliki anak.

Fenomena itu, tak ubahnya seperti film `Kim Ji-young, Born 1982` yang tayang beberapa waktu lalu. Film tersebut menceritakan mengenai seorang perempuan Korea yang terpaksa berhenti dari pekerjaannya, dan berjuang untuk membesarkan anak dengan dukungan yang terbatas.

Gerakan `Escape the Corset`

Tidak hanya menolak menikah, Lee juga menganut prinsip `Escape the Corset`, sebuah gerakan yang berjuang melawan standar kecantikan Korea. Salah satu bentuk gerakan ini ialah menghancurkan koleksi make-up, untuk tampil natural.

Kelompok ini muncul dengan latar belakang kemarahan atas maraknya video porno melalui kamera tersembunyi (spycam porn), di mana sebagian besar korbannya adalah perempuan.

Hal lain yang membuat Lee geram ialah kasus politisi laki-laki Korea Selatan yang mengklaim dirinya sebagai feminis, namun berakhir di penjara tahun lalu, karena memperkosa ajudan perempuannya.

"Saya menyadari masyarakat memiliki sistem yang tidak dapat saya terima sebagai seorang perempuan. Dan sejak saat itu, setiap pernikahan atau kencan, tidak berarti apapun bagi saya," tandas dia.

Senada dengan Lee, YouTuber 24 tahun, Yoon Ji-hye yang kerap mencitrakan dirinya pasif, kekanak-kanakan, dan ceria memutuskan untuk mengadopsi prinsip `Escape the Corset`.

Dia kini memotong rambutnya yang pendek dan tampil tanpa polesan make-up, untuk melawan industri kecantikan yang mewabah di negara tersebut.

"Saya dulu menghabiskan waktu berjam-jam menguasai teknik make-up dengan menonton YouTube, dan menghabiskan sekitar US$200 untuk produk kecantikan setiap bulan," tutur Yoon.

Gerakan `4B` dan `Escape the Corset` merupakan bentuk feminisme paling radikal yang pernah ada di Korea Selatan menurut sosiolog Universitas Stanford, Amerika Serikat, Shin Gi-wook.

"Apa yang diperjuangkan oleh `Corset` bahwa perempuan perlu mencari cara-cara tertentu untuk menyenangkan laki-laki," terang Shin.

Dua gerakan itu bukan tanpa efek. Dikatakan, jika anggotanya semakin membesar, maka Korea terancam bencana demografi, di mana populasi orang tua semakin tinggi, dan generasi muda kian menyusut.

Pemerintah juga memperkirakan 55 juta populasi Korea Selatan tahun ini, akan turun menjadi 39 juta pada 2067. Sedangkan setengah populasi negara itu berusia 62 tahun ke atas.

TAGS : Korea Selatan Perempuan Anti-Pernikahan Budaya Patriarki




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :