Selasa, 21/01/2020 11:47 WIB

Ogah Kawin, Perempuan China Lebih Tertarik Beli Sperma

Dia rela terbang jauh ke AS, karena perempuan yang belum menikah di China dilarang mengakses bank sperma dan perawatan fertilisasi in-vitro (IVF).

Ilustrasi sperma

Beijing, Jurnas.com - Xiaogunzhu membolak-balik halaman demi halaman untuk melihat foto-foto anak kecil. Sedetik kemudian, dia tertarik dengan perawakan anak kecil laki-laki Prancis-Irlandia dengan mata biru gelap yang sedang tersenyum.

Xiaogunzhu bukan sedang melihat majalah anak. Perempuan 39 tahun itu sedang berada di bank sperma California, Amerika Serikat (AS), untuk memilih donor sperma yang pas dengan pilihannya.

Dia rela terbang jauh ke AS, karena perempuan yang belum menikah di China dilarang mengakses bank sperma dan perawatan fertilisasi in-vitro (IVF). Hal ini memaksa mereka mencari opsi di luar negeri.

"Ada banyak perempuan yang tidak akan menikah, jadi mereka mungkin tidak memenuhi misi biologis mendasar ini," kata Xiaogunzhu dikutip dari AFP pada Jumat (6/12).

"Tapi aku merasa jalan lain telah terbuka," tambahnya.

Bayinya yang sekarang berusia sembilan bulan, diberi nama Oscar merujuk pada tokoh komik tentang revolusi Prancis.

Menurut AFP, tingkat perkawinan di Cina menurun selama lima tahun terakhir. Tahun lalu, hanya 7,2 dari 1.000 orang yang menikah, menurut statistik resmi.

Perempuan profesional yang berpendidikan menghadapi diskriminasi ketika mencari pasangan, dijelaskan sosiolog Sandy To, karena pasangan pria mereka kesulitan menerima prestasi pendidikan atau ekonomi yang lebih tinggi.

Tetapi banyak yang merasa bahwa berjuang untuk menemukan atau tidak menginginkan pasangan, seharusnya tidak menghalangi mereka dari menjadi ibu.

Xiaogunzhu percaya bayinya tidak perlu sosok ayah. Dia menyebut ayahnya sering marah, meredupkan pandangannya tentang tradisi keluarga tradisional.

"Mengapa semua orang berpikir bahwa anak-anak akan bertanya, `mengapa saya tidak punya ayah?`," ujar dia.

Analis memperkirakan, total pasar di China untuk layanan kesuburan akan mencapai $1,5 miliar pada tahun 2022, lebih dari dua kali lipat nilainya dari 2016.

Tetapi permintaan akan layanan di luar negeri untuk warga negara Tiongkok juga meningkat pesat.

Bank sperma dan telur Denmark Cryos International telah membuat laman web China, dan menambah staf berbahasa Cina. Bank sperma Amerika dan Eropa mengatakan kepada AFP bahwa mereka memiliki jumlah klien China yang semakin banyak.

TAGS : China Perempuan Donor Sperma Tingkat Pernikahan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :