Senin, 16/12/2019 01:08 WIB

Hanya Ada Dua Kubu Kuat di Munas Golkar

Sejatinya hanya ada dua kekuatan, yakni kubu Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan kubu Airlangga Hartarto di arena Munas Golkar

Pengamat politik dan kebijakan publik dari Center Public of Policy Studies (CPPS) Dr Bambang Istianto

Jakarta, Jurnas.com – Jelang perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar, ketegangan di internal partai berlambang pohon beringin itu dirasa semakin memanas. Sejumlah kalangan pun mengkhawatirkan ajang perebutan ketua umum Partai Golkar itu akan berujung konflik.

Sebab, sejarah telah membuktikan, ketegangan di internal partai yang pernah berjaya di era Orde Baru itu berujung pada beranak pinaknya partai kecil.

Pengamat politik dan kebijakan publik dari Center Public of Policy Studies (CPPS) Dr Bambang Istianto menilai, bahwa arena Munas Golkar itu sejatinya hanya ada dua kekuatan, yakni kubu Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan kubu Airlangga Hartarto. Meski berdasarkan informasi yang berkembang bahwa kader Golkar yang dinyatakan telah mendaftar untuk bertarung memperebutkan kursi Golkar I itu ada 8 orang.

“Namun klimaksnya, kami memprediksi hanya ada dua kekuatan, yaitu Airlangga dan Bamsoet. Adapun caketum yang lain hanya sebagai penggembira,” kata Bambang kepada wartawan, Minggu (01/12/2019).

Bambang menilai, bila perseteruan pada dua kubu tersebut tidak terkendali, tidak mustahil akan terjadinya perpecahan Golkar jilid II. Oleh karenanya, Bambang berharap agar kedua pendukung caketum yang memiliki potensi menang itu bisa menahan diri.

“Karena keduanya memiliki basis dan loyalis di tigkat bawah cukup kuat, kalau elit dan senior Partai Golkar tidak ikut turun tangan untuk mengendalikan kadernya, maka dikhawatirkan akan berbuntut panjang,” tandas Bambang.

Kendati demikian, lanjut Bambang, Golkar adalah partai politik besar dan sarat pengalaman dengan tensi tinggi sekalipun. Selain itu, Golkar tetap eksis dan tetap sebagai pengendali perpolitikan Indonesia.

Bambang menambahkan, Munas Golkar 2019 memiliki arti strategis, utamanya menghadapi Pilkada serentak dan Pilpres tahun 2024 nanti. Karena itu masing masing kandidat berjuang keras tampil sebagai Ketua Umum Golkar.

Terkait dengan meruncingnya kubu Bamsoet dan kubu Airlangga, ia optimis Golkar dapat mengatasi konflik di internalnya. Karena, dia beranggapan bahwa Golkar merupakan pelopor partai modern yang tidak mengandalkan ketokohan dan figure seseorang.

“Jadi, meski ada gesekan di internalnya, tetap saja partai ini ujung-ujungnya mengembalikan pada AD/ART partai, bukan bergantung kepada sosok figure tertentu. Kita lihat saja, setelah Munas nanti, mereka kembali akur dan menghormati keputusan Munas,” ucap dosen pascasarjana bidang adminitrasi publik ini.

Untuk diketahui, sampai hari Jumat, 29 November 2019 ada 8 kader yang sudah mengambil formulir pendaftaran Bakal Calon Ketua Umum Partai Golkar Periode 2019-2024, namun belum ada informasi yang jelas bahwa Airlangga telah mengambil formulir.

Sementara, Caketum Partai Golkar yang dinyatakan telah mengambil formulir pendaftaran sudah ada delapan orang, mereka yakni, Ahmad Anama, Indra Bambang Utoyo, Ridwan Hisjam dan Agun Gunandjar Sudarsa. Kemudian, Caketum lainnya yakni, Bambang Soesatyo, M. Aris Mandji, Derek Loupatty dan Mohamad Ali Yahya.

TAGS : Bamsoet Munas Golkar Airlangga




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :