Jum'at, 25/09/2020 03:54 WIB

Ekspor Bijih Mentah Dibuka, Pakar: Kebijakan Luhut Rugikan Indonesia Menangkan China

Sama artinya sedang menolong Tiongkok memenangkan persaingan antara Jepang dan Jerman.

Pengamat Ekonomi Politik, Ichsanuddin Noorsy

Jakarta, Jurnas.com - Kebijakan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terkait ekspor bijih mentah nikel, dianggap telah mencederai kedaulatan Indonesia sekaligus memenangkan China dalam persaingan mobil dunia.

Awalnya, pemerintah melarang ekspor bijih mentah nikel sampai 2022. Larangan itu dalam rangka pembangunan smelter dan peningkatan kualitas nikel Indonesia. Tetapi Luhut mempercepatnya hingga 1 Januari 2020, dan kemudian dipercepat kembali pada tahun ini.

Pakar ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengatakan, sejauh ini Jepang, Jerman, dan China merupakan tiga negara yang bersaing tajam di industri mobil. Tiga negara itu pun bersaing dalam menghimpun nikel sebagai bahan baku baterai mobil.

"Tiongkok sendiri sudah menerapkan electric vehicle-nya pada 2025 itu 35 persen. Itu berarti Tiongkok harus segera membutuhkan baterai. Kalau dia mau baterai litium dia butuh nikel sesegera mungkin," kata Ichsanuddin saat dihubungi, Kamis (28/11).

Dengan demikian, jelas Ichsanuddin, kebijakan membenarkan dan membolehkan ekspor nikel ke Tiongkok, sama artinya dengan sedang menolong Tiongkok memenangkan persaingan antara Jepang dan Jerman.

Ichsanuddin memastikan di tengah-tengah persaingan tidak sehat antarnegara dan antarkoorporasi saat ini, hanya negara yang dieksplorasi sumber daya alamnya secara mentah yang selalu merugi. Dalam hal perebutan bijih mentah nikel ini, Indonesia yang merugi apabila mengekspor ke China.

"Kesimpulannya kebijakan Luhut Binsar Panjaitan bukan sekadar menguntungkan Tiongkok, tetapi merugikan Indonesia," tegas Ichsanuddin.

"Sekarang pertanyaan kenapa Luhut bisa mengeluarkan kebijakan seperti tadi? Ada kepentingan-kepentingan tertentu untuk mengokohkan keberadaan Tiongkok di panggung internasional," lanjutnya.

Di sisi lain, Ichsanuddin menyebut kebijakan politikus Golkar itu juga membuat lesu penambang nikel berkalori rendah dan berkalori tinggi. Penambang nikel yang punya berkalori rendah di bawah sebelas persen pasti tidak mau membangun smelter dan mengelola nikel mentah.

Pada akhirnya, lanjut Ichsanuddin, bijih mentah nikel dengan kisaran kalori 11 persen dijual murah, padahal masih bisa dikelola sebagai litium yang baik.

"Yang rugi Indonesia karena enggak dapat nilai tambah. Itu dari aspek kebijakan tidak adil," katanya.

Kebijakan larangan ekspor dianulir sendiri juga membuktikan inkonsisten pemerintah. Sebab, penambang yang sudah membangun smelter dengan modal besar harus merugi sebelum produksi terjadi.

Ichsanuddin melihat kebijakan itu membuat iklim investasi di Indonesia tidak memiliki kepastian. Hal ini juga mengonfirmasi pandangan Bank Dunia terhadap Indonesia sebagai negara yang inkonsistensi terhadap investor karena anomali kebijakannya.

"Itu Bank Dunia lagi-lagi menyebut anda sulit dipercaya investor karena anda tidak konsisten. Jadi walaupun anda buka pintu lebar-lebar buat investor ketika kebijakannya tidak konsisten, anda dibilang sebagai negara yang sulit dipercaya," beber Ichsanuddin Noorsy.

TAGS : Ekspor bijih mentah nikel Luhut Binsar




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :